
indosiar.com - Filariasis limfatik (FL) merupakan salah satu penyakit yang paling melemahkan dan merusak penampilan seseorang. Infeksinya disebabkan oleh tiga cacing helmintik – Wucheraria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori, dan ditularkan oleh nyamuk yang termasuk dalam 4 kelompok vector – Culex, Anopheles, Aedine dan Mansonia. Cacing – cacing tersebut menghuni saluran limfatik (getah bening) dan menyebabkan terjadinya penyumbatan rongga limfatik, yang pada fase selanjutnya menyebabkan pembengkakan (lymphoedema) dan elephantiasis.
FL ditargetkan oleh WHO untuk diberantas sebagai suatu masalah kesehatan masyarakat, yang didefinisikan sebagai Microfilaraemia (MF) dengan angka > 1 %. Pada tahun 1997, Majelis Kesehatan Sedunia mensahkan sebuah resolusi yang meghimbau Negara Anggota untuk berupaya memberantas FL menjelang tahun 2020. Strategi utamanya adalah (1) Pemberian Obat Masssal Tahunan (MDA) dari 2 obat DEC + albendazole kepada seluruh populasi penderita selama 5 – 6 tahun ; dan (2) Pengentasan dan pencegahan atas ketidakmampuan di rumah.
Beban Penyakit
Kawasan Asia Tenggara merupakan penanggung beban tertinggi atas filariasis limfatik (FL). Dari 1,3 milyar populasi global yang diperkirakan memiliki resiko terkena infeksi FL, 851 juta diantaranya tinggal di Asia Tenggara. Kawasan inin juga merupakan tempat bagi 50 % dari 120 juta kasus yang diperkirakan dengan manifestasi klinis (Bagian 1). Penyakit tersebut berkaitan dengan kemiskinan dan terutama berdampak pada kaum miskin dan populasi yang paling terpinggirkan. Ketidakmampuan dan kerusakan yang disebabkan oleh FL berakibat pada beban ekonomi yang berat dan hilangnya mata pencaharian.
Sembilan dari 11 negara di kawasan tersebut merupakan wilayah endemic FL, kecuali Bhutan dan DPR Korea. Populasi yang diperkirakan beresiko FL di berbagai negara di Asia Tenggara adalah Bangladesh 70 juta, India 554 juta, Indonesia 150 juta, Myanmar 40 juta, Nepal 24 juta, Sri Lanka 10 juta dan Thailand 0,2 juta.
Kemajuan Selama Ini
Pemetaan atas endemic penyakit ini telah dirampungkan di 7 dari 9 negara tersebut. Myanmar diharapkan akan menyelesaikan pemetaannya pada tahun 2006 dan Indonesia pada tahun 2007. Semua Negara sedang melaksanakan pemberian obat missal (MDA) dengan 2 obat DEC + albendazole. Sebagaimana keadaan pada tahun 2005, sebanyak 82,2 juta orang telah tercakup dalam MDA. Akan tetapi, ini hanyalah 10 % dari populasi yang beresiko di kawasan tersebut (Bagan 2). Karena itu, perlu segera meningkatkan MDA agar dapat mencapai pemberantasan sebelum tahun 2015 yang ditargetkan bagi kawasan Asia Tenggara.
Sejauh ini, India hanya melaksanakan pemberian 2 obat tersebut sebagai percontohan di 7 wilayah, namun belakangan ini mengumumkan suatu pergeseran kebijakan untuk melaksanakan pemberian 2 obat tersebut. Negara tersebut berencana untuk mencakup seluruh populasi endeminya sebesar 554 juta orang menjelang tahun 2008, dan dengan demikian percepatan regional tersebut diharapkan melebihi 99 % dari populasi yang beresiko menjelang tahun 2008.
Maladewa, Sri Lanka dan Thailand sedang menargetkan seluruh populasi endemic mereka dan Timor Leste diharapkan akan mencakupkan seluruh negeri tersebut pada tahun 2006. Sri Lanka akan menyelesaikan 5 putaran MDA di semua satuan pelaksanaan menjelang akhir tahun 2006.
Lebih dari 80 % tingkat cakupan telah tercapai di semua satuan pelaksanaan dan semua lokasi menunjukkan penurunan angka MF (Microfilaraemia) setelah 1 – 2 putaran MDA.
Rencana ke Depan
Peran WHO
Pelaksanaan program tersebut akan diserahkan kepada Departemen Kesehatan masing – masing Negara anggota. WHO akan terus memberikan dukungan teknis yang diperlukan kepada negara – Negara tersebut dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program tersebut berdasarkan Rencana Strategis Regional yang dikembangkan oleh WHO.
WHO juga akan memberikan bantuan termasuk pembiayaan sederhana kepada negara – negara yang melaksanakan kegiatan kritis seperti pengembangan kemampuan, mobilisasi social, advokasi, IEC dan pengawasan / monitoring.
Mobilisasi Sumber Daya (termasuk STH)
Persyaratan Finansial Keseluruhan : Kantor regional (tidak termasuk obat) : US$ 800.000 Target pengumpulan Dana : US$ 650.000.(WHO/Dv/Idh)