Kesehatan
13-Sep-2007 11:09:04 WIB
KATA
Hipertensi Tak Memandang Usia



Predikat hipertensi sebagai penyakit pembunuh diam-diam (the silent killer) ternyata memang demikian kenyataannya. Seringkali seseorang baru sadar dengan predikat seperti itu ketika hipertensi sudah telanjur menjalar di tubuhnya. Ini bisa terjadi karena hipertensi seringkali tanpa gejala. Sementara si penderita kerap merasa sehat-sehat saja.

Anggapan penyakit ini hanya dimiliki para orang tua juga kerap menjadi tudingan. Sayangnya anggpan itu keliru. Penderita penyakit ini, juga banyak dialami oleh anak-anak. Dr. Pudji Rahardjo SpPD KGH, dokter spesialis penyakit dalam dari FKUI mengungkapkan penyakit hipertensi tak memandang usia.

Menurut Health Survei for England 2002 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Inggris, persentase penderita hipertensi pada usia 16-24 tahun memang masih kecil yaitu antara 10-20 persen. Persentase hipertensi tinggi pada usia di atas 75 tahun yaitu antara 70-80 persen. Namun semakin bertambah usia, persentase penyakit hipertensi cenderung mengalami peningkatan.

Penderita hipertensi di dunia saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 800 juta orang. Sebanyak 10-30 persen di antara populasi orang dewasa pada hampir semua negara terkena hipertensi. Dari jumlah tersebut 50-60 persen penduduk saat ini, dapat dikategorikan sebagai mayoritas utama yang status kesehatannya akan menjadi lebih baik bila dapat mengontrol tekanan darahnya.

Kesimpulan Hipertensi sebagai penyakit paling dominan menyerang manusia di masa mendatang sudah mulai terdeteksi. Banyak faktor yang bisa mengarah kepada munculnya hiptertensi, diantaranya kurang kontrol kesehatan dan pengaruh lingkungan. Faktor dominan yang paling masuk akal saat ini adalah kegemukan.

Bila seseorang memiliki tekanan darah sistolik dan diastoliknya lebih di atas batas normal 140/80 mmHg, sudah terkena hipertensi. Meski tekanan darah seseorang masih dibawah definisi normal tersebut tidak secara otomatis terbebas dari kemungkinan terkena hipertensi. Tetapi dianggap berpotensi terkena hipertensi jika ditemukan beberapa faktor risiko mengalami kegemukan atau karena kolesterol. Pada kelompok ini tetap perlu diberikan pengobatan untuk mengatasi hipertensi.

Dampak penyakit ini pun tak main-main. Anggaran kesehatan bisa membesar karena hipertensi sangat besar faktornya sebagai pemicu utama stroke, serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal. Data hingga April 2006 jumlah penderita ginjal di Indonesia mencapai 150. ribu orang sementara yang tetap membutuhkan terapi agar ginjalnya tetap berfungsi sebanyak 300 ribu orang.

Penyebab hipertensi 90-95 persen tidak diketahui, kata Dr Pudji. Menurutnya 5-10 persen hipertensi disebabkan karena penyakit lain seperti gangguan ginjal serta gangguan pembuluh darah.

Sebelum dunia kedokteran mengalami kemajuan pesat, pengobatan hipertensi menunggu pasien pusing terlebih dahulu karena hipertensi tanpa gejala. Tetapi sekarang bila ditemukan tekanan darah lebih dari normal harus segera mendapat pengobatan. Target tekanan darah diturunkan hingga ke normal 140/80 mmHg. Pengobatan hipertensi bisa menurunkan risiko gagal ginjal, kata Pudji.

Pudji menjelaskan dalam darah antara lain dialiri asupan-asupan lemak ke sel-sel pembuluh darah. Selanjutnya dinding pembuluh darah yang makin tebal karena lemak tersebut bisa mempersempit pembuluh darah. Jika ini terjadi pada ginjal, tentu akan terjadi kerusakan ginjal yang berakibat kepada penyakit gagal ginjal.

Pasalnya hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah. Jika pembuluh darahnya ada pada ginjal, tentu ginjalnya yang mengalami kerusakan. Belum lagi salah satu kerja ginjal adalah memproduksi enzim angio tension. Selanjutnya diubah menjadi angio tension II yang menyebabkan pembuluh darah mengkerut atau menjadi keras. Pada saat seperti inilah terjadi hipertensi, ungkap Pudji. Ibaratnya, lanjut Pudji, antara hipertensi dan gagal ginjal seperti lingkaran setan. Hipertensi bisa berakibat gagal ginjal. Sedangkan bila sudah menderita gagal ginjal sudah pasti terkena hipertensi.

Perumpamaan jarak antara hipertensi dengan gagal ginjal hanya satu jalur (arteri), bisa jadi ada kebenarannya. Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal. Beberapa gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urine atau sulit berkemih, edema (penimbunan cairan) dan meningkatnya frekuensi berkemih terutama pada malam hari.

Studi-studi dalam pemahaman penyakit ginjal menyatakan gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi bisa berupa penyakit ginjal akut, ginjal kronis hingga kepada gagal ginjal atau ketika ginjal tak lagi mampu menjalankan sebagian atau seluruh fungsinya. Hipertensi disebut-sebut sebagai momok nomor dua kejadian gagal ginjal tahap akhir setelah penyakit diabetes mellitus.

Pada saat sudah dinyatakan gagal ginjal tahap akhir, maka pasien harus menjalankan hemodialisis (cuci darah) seumur hidupnya. Jalan lain tentu adalah transplantasi ginjal yang membutuhkan dana demikian besar. Bahkan hipertensi pada gilirannya menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya kematian pada pasien hemodialisis.(berbagai sumber/Her/Ijs)

Nama:
Email:

More KATA:
[ more Kata ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :