Sosbud
28-Nov-2007 08:44:35 WIB
KATA
Stop Bullying : Sekarang dan Selamanya



Tindakan kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior di sekolah bukanlah hal yang baru dalam dunia anak-anak usia sekolah. Kasus kekerasan ini telah lama terjadi di Indonesia, namun luput dari perhatian. Disejumlah negara maju Pusat Krisis untuk kasus semacam ini telah didirikan.

Apa Itu Bullying

Berdasarkan pengaduan masyarakat, Komisi Nasional Perlindungan Anak memberi definisi/pengertian terhadap bullying adalah : kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau manakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma / depresi dan tidak berdaya.

Bentuk Bullying

Bullying terbagi menjadi 3 bentuk :

  1. Fisik (memukul, menampar, memalak atau meminta paksa yang bukan miliknya, pengeroyokan menjadi eksekutor
    perintah senior).
  2. Verbal (memaki, mengejek, menggosip, membodohkan dan mengkerdilkan).
  3. Psikologis (mengintimdasi, mengecilkan, mengabaikan, mendiskriminasikan).

Dampak Bullying

Bullying berdampak menurunkan tes kecerdasan dan kemampuan analisis siswa yang menjadi korban, bahkan sampai berusaha bunuh diri. Bullying juga berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai - nilai akademik dan tindakan bunuh diri. Pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal dibanding yang tidak melakukan bullying. Tindakan ini juga masih menjadi masalah tersembunyi yang tidak disadari oleh para pendidik dan orang tua murid.

- Locus Bullying :

  • Ekonomi
  • Sosial
  • Politik
  • Keluarga
  • Dunia Pendidikan
  • Olah raga
  • Tempat Kerja

- Faktor Penyebab :

  • Perilaku feodal (pemaknaan senior / yunior).
  • Puberitas pada masa remaja (pencarian jati diri).
  • Krisis identitas.
  • Kekerasan dalam rumah tangga dan disekolah.
  • Pengawasan perilaku anak yang kurang dari orang tua dan sekolah.
  • Imitasi dari tontonan media yang mengandung unsur kekerasan, seksualitas / pornografi.
  • Fanatisme yang berlebihan.
  • Pendisplinan dengan kekerasan (rumah dan sekolah).

Mencegah Bullying

- Lingkungan Sekolah

  • Mengawasi perilaku siswa selama di sekolah.
  • Civitas sekolah harus bersikap proaktif.
  • Mengaktifkan guru BP atau menyediakan konselor yang memberi bimbingan.
  • Guru harus bersikap sebagai pendengar yang baik bagi murid.
  • Mengenali temperamen dan karakter masing - masing siswa.
  • Mengadakan evaluasi kondisi sekolah setiap kurun waktu tertentu.
  • Menciptakan kebersamaan sosial diantara civitas sekolah.
  • Guru menjadi social support
  • Menyediakan pelatihan guru tentang cara mengintervensi bullying.
  • Mempunyai mekanisme / SOP penyelesaian masalah kasus bullying.
  • Menyelenggarakan seminar / konferensi komunitas (ortu, guru dan siswa) untuk menyusun finalti non fisik atau saksi memutus hak siswa sementara.
  • Berikan sanksi mendidik jika anak melakukan kesalahan

- Lingkungan Rumah

  • Ajarkan empati sosial sejak dini.
  • Adanya teguran halus pada anak jika melakukan kekerasan.
  • Jadilah orang tua tempat curhat yang menyenangkan.
  • Ikut mendampingi anak, ketika menonton tayangan televisi.
  • Orang tua harus menjadi contoh tauladan bagi anak.
  • Buatlah aktivitas menyenangkan saat dirumah.
  • Ajari anak mempertahankan dan melindungi diri.
  • Cepat tanggap ketika anak terlibat kekerasan.
  • Melaporkan pada instansi terkait ketika anak menjadi korban bullying.
  • Mengedepankan penyelesaian kekeluargaan jika terjadi bullying.

Dasar Hukum Lingkungan Sekolah Zona Bebas Kekerasan

Pasal 54 UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menegaskan : "Anak di dalam dan dilingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman - temannya di dalam sekolah yang bersangkutan atau lembaga pendidikan lainnya".

Tips Menghindari Kekerasan :

  1. Hargai anak dan bersikap adil.
    Ciptakanlah suasana hangat dan penuh kasih sayang dilingkungan anak. Berilah penghargaan bila anak melakukan perbuatan terpuji dan beritahu kesalahannya bila melakukan tindakan tidak baik. Dengan demikian anak belajar menghargai orang lain, terutama orang tuanya.
  2. Dengarkan keluhan anak.
    Bila anak berperilaku buruk, seperti melawan, suka memukul atau berbohong, maka pahamilah lebih dahulu perasaannya dan dengarkanlah penolakan dan keluhannya.
  3. Ungkapkan dengan jelas ketidak setujuan anda ketika anak berperilaku tidak baik.
    Hindari ungkapan yang memojokan dan menyalahkan anak. Hindari kata - kata menghardik seperti "Ayo, cepat mandi, mama tidak suka punya anak bau dan pemalas !"
    Gunakanlah kata - kata mengajak, "Yuk mandi sayang, supaya wangi dan bersih. Setelah itu, kita jalan - jalan".
  4. Peringatan lebih awal.
    Ketika anda ingin anak anda melakukan sesuatu, cobalah ingatkan lebih awal dan berikan pilihan serta penjelasan. Misalnya," Nak, sepuluh menit lagi waktunya tidur ya, supaya besok pagi kamu tidak terlambat bangun dan tidak mengantuk ketika sekolah".
  5. Menghindar ketika marah (time out).
    Ketika anda marah karena perilaku anak, maka menghindarlah seketika dari anak - anak kemudian tenangkanlah diri anda, setelah itu dialogkan dengan anak, mengapa anda marah.
  6. Berupaya lebih akrab.
    Binalah hubungan yang lebih hangat dan akrab dengan anak, sehingga anak akan menjadi lebih terbuka pada orang tua. Jadilah contoh bagi anak dalam menanamkan nilai - nilai moral dan sosial yang berlaku. Dunia anak adalah dunia yang penuh kegembiraan dan keceriaan, karena itu kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi anak - anak.
  7. Tanyakanlah setiap hari kepada anak kita, apa yang menyenangkan dan yang menyedihkan pada hari ini dirumah, sekolah maupun dilingkungan sosial anak ? (Dari Seminar tentang Bullying/Ijs)
Nama:
Email:

More KATA:
[ more Kata ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :