jeruk bali

Fiksi

Cerita di buku ini berawal dari tersesatnya Nania dan Edieth dalam perjalanan mencari hotel, bakal tempat mereka menginap, sehingga menyebabkan mereka terpaksa menginap di Rumah Sakit Rosita, yang berdiri sejak tahun 1928.
Aku cacat dan aneh. Paradigma itu menghantuiku selama lebih dari separuh umurku. Meski terlahir dengan fisik sempurna, tapi aku merasa “cacat” dan berbeda dengan orang kebanyakan. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku laki-laki dengan rentang usia yang cukup jauh denganku. Sebagai satu-satunya anak perempuan, meskipun tidak memanjakan tapi kakak-kakakku bersikap protektif padaku. Memang aku terlihat berprestasi dan aktif berkegiatan. Tapi hidupku berbeda. Aku mengalami hal-hal yang berbeda dengan teman-temanku, saudara-saudaraku, bahkan orang tuaku.
Sahabat itu meraih tanganku yang terasa dingin. Tanpa menunggu jawaban, ia berinsiatif meminta kemasan kertas untuk membungkus makanan kami dan menggamitku pulang. Aku tidak berkata apa-apa kala sahabatku menghentikan taksi.
Saya terlahir menjadi anak yang berbeda, dibanding tiga orang kakak dan seorang adik lainnya. Tak ada satu orang pun di antara mereka yang menyukai dunia buku dan penulisan selain saya. Mereka lebih memilih olahraga atau bermain di terik matahari daripada berkutat seharian dengan buku dan majalah di sudut kamar
Hujan deras yang turun pagi ini lagi-lagi tidak menurunkan semangatku untuk bergegas dari tidurku dan bersiap menuju kampus. Harus kuakui bahwa kampus saat ini menjadi salah satu pilihan terbaik bagiku untuk menghilangkan segala beban yang bertumpuk di kepalaku saat itu.. Aku sungguh bersyukur kalau pada akhirnya aku menemukan cara bagaimana menghindarkan diri dari keterpurukan karena beban pikiran yang menumpuk.
Mungkin tak ada hal istimewa yang bisa kuceritakan tentang hidupku. Seperti yang lainnya, hidupku juga diwarnai dengan peristiwa-peristiwa sedih maupun bahagia. Ada pula saat-saat aku jatuh dan bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi, dan bahkan tak jarang aku terpuruk dalam kegagalan demi kegagalan. Kecewa, amarah, dan juga rasa putus asa kerap merasuki otak tatkala aku sedang sendiri. Namun, kuanggap itu adalah hal biasa. Menurutku, orang lain juga pernah mengalami hal yang sama denganku. Tapi, dibalik semua itu, ada sepenggal kisah yang terselip, dan menjadi terasa begitu berharga, setidaknya untuk diriku sendiri.
Sejak mengenalnya, aku sering senyum-senyum sendiri, hidup ini terasa indah, bahakan aku merasa seperti sepertianak raja, apalagi di usiaku yang beranjak remaja, tentu saja hal-hal seperti ini memberikan daya tarik dan semangat baru bagiku untuk menjalani sisa kehidupan yang diberikan tuhan padaku. Bahkan aku pernah beranggapan dunia ini milik kami berdua, aku dan dia.
Tak kusangka catatan perjalanan hidupku kan semanis ini. Sampai saat kugores tinta ini aku masih bisa berbahagia. Tak bisa kubayangkan apabila dulu dia bukan malaikatku, pasti saat ini tak dapat kugores lembar putih ini dengan senyum bahagia namun dengan basah keringat dan tumpukan rasa lelah ditubuhku. Ketika kulihat mereka (lulusan SMA) yang hanya bisa bekerja apa adanya, seribu ucap syukur kupanjatkan pada Tuhan semesta alam. Setidaknya harapan itu tetap ada, meskipun Dialah yang akhirnya juga membawaku kemana.
Kurasakan betapa lemah tubuhku kala kuterjaga dari mimpi. Ada apa ini? Aku berusaha untuk bangkit dan duduk di tepi ranjang kamar kosku di bilangan Jakarta Barat. Kutempelkan tanganku ke kening. Ya... aku demam. Mengapa demam disaat seperti ini? Rasanya semalam aku masih sehat-sehat saja. Aku harus berangkat.
Aku memandang langit yang gelap, tanpa cahaya, tanpa setitik sinarpun yang bisa membantuku menembus pandang, ada apa dibalik langit yang tanpa bintang itu ?. "Ibu, aku merindukanmu, aku sangat membutuhkanmu !" jeritku dalam hati. "Lihatlah aku ibu, anakmu ini sekarang berdiri menghadap langit memint

 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :