
Budidaya udang galah merupakan salah satu usaha yang menjanjikan keuntungan. Pasarnya cukup besar, tidak hanya untuk konsumsi dalam negeri, tetapi juga diekspor ke mancanegara, seperti Singapura, Jepang, dan negara-negara Eropa.
Salah satu lokasi budidaya udang galah terdapat di propinsi Bali. Tepatnya di Kabupaten Gianyar. Di tempat ini, banyak petani yang menekuni usaha budidaya udang galah. Salah seorang diantaranya Wayan Tagel.
Untuk mencapai lokasi budidaya udang galah, dari Kota Denpasar, Bali, dapat mengambil arah ke Kabupaten Gianyar, melalui Jalan Profesor Doktor Ida Bagus Mantra. Dengan menggunakan kendaraan bermotor, perjalanan dapat ditempuh selama 1 jam.
Di tempat ini Wayan Tagel memiliki 14 kolam pembesaran udang galah, luasnya sekitar 40 are. Setiap 1 kolam dipelihara sebanyak 2 ribu udang galah.
Benihnya diperoleh dari Balai Benih Udang Galah, di daerah Klungkung, Kabupaten Gianyar, Bali.Disini memang dilakukan pembenihan udang galah untuk kolam pembesaran rakyat. Benih udang galah yang berumur 30 hari dihargai 40 rupiah per ekor.
Kolam udang galah yang ditebar benih telah diolah terlebih dahulu. Sebelum diberi air, kolam ditebar pupuk berupa pupuk urea, TSP dan pupuk kandang. Kemudian digenangi air selama 14 hari. Barulah kolam dapat ditebari benih seperti ini.
Benih udang galah yang ditebar di kolam baru akan terlihat jelas setelah berusia 2 bulan. Dan baru dapat dipanen setelah berusia empat setengah bulan.Udang galah dapat dibesarkan hingga usia 8 bulan, tergantung besarnya ukuran udang sesuai permintaan pasar.
Dari satu kolam pemeliharaan dapat diperoleh sekitar 24 kilogram udang galah. Dari kolamnya ini, setiap bulan Wayan dapat menyuplai tidak kurang dari 130 kilogram udang galah ke pasar seharga 48 ribu rupiah per kilogram.
Udang galah hasil budidaya Wayan ini dijual ke Kota Denpasar, Bali. Permintaan terhadap udang galah sebenarnya cukup besar, belum seluruhnya dapat dipenuhi petani. (Helmi Azahari/Ijs)