Reporter : Fella Sumendap - Asep Syaifullahindosiar.com, - Ini merupakan kebon rosela dengan warna bunganya yang merah marun. Tanamn rosela dibudidayakan karena bunganya dapat dijadikan teh dan mengandung khasiat untuk kesehatan. Selain itu juga dapat dijadikan bahan pewarna alami untuk pembuatan makanan olahan, kosmetika dan obat-obatan.
Salah seorang petani yang mengembangkan tanaman rosela ini adalah Haji Cecep Koswara di Kecamatan Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat. Untuk mencapai lokasinya dari Jakarta ditempuh melalui jalan Tol Cipularang keluar di Pintu Cileunyie, Bandung. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke arah Sumedang. Tepatnya berada di Desa Mandala Heran, Kecamatan Cimalaka.
Kebun rosela milik Haji Cecep Koswara ini terletak ditengah - tengah sawah. Karena itu untuk mencapainya saya harus melintasi pematang sawah yang luas. Perkebunan rosela yang dikelola oleh Haji Cecep ini memiliki luas 30 hektar yang berlokasi dibeberapa tempat.
Menanam rosela harus memperhatikan faktor musim karena tanaman ini sangat memerlukan air. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, agar mendapat perairan yang cukup penanaman rosela disini dilakukan ditengah - tengah pematang sawah.
Setelah 120 hari ditanam maka pohon rosela akan mengeluarkan bunga. Bunga warna merah marun inilah yang akan dipanen. Bunga rosela dapat dipanen setiap 10 hari sekali. Pemetikan bunga dari pohon harus dilakukan dengan hati - hati menggunakan gunting. Bunga rosela yang telah dipetik lalu dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari selama 3 hari.
Bunga rosela kering lalu dipilih sesuai kualitasnya. Harga jualnya mulai dari 25 ribu hingga 65 ribu per kilogram tergantung peringkat kualitasnya. Permintaan bunga rosela ini cukup tinggi untuk dijadikan teh dan minuman kesehatan. Selain itu bunga rosela juga dapat dijadikan bahan pewarna alami.
Bunga rosela yang telah disortir kemudian disimpan didalam kantong plastik. Kantong plastik ini tidak boleh bocor, karena akan mengakibatkan bunga rosela lembab. (Dv/Sup).