Sosbud
24-Oct-2005 09:47:04 WIB
MAGIC BRAIN
Pemberian Maaf dari Dasar Lubuk Hati Harus Dapat Dipahami Benar



* H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar

Kursus Metoda Silva

Penulis kini akan mengangkat topik ini, karena ternyata hal ini merupakan PERAN yang sangat PENTING didalam memelihara hubungan dengan sesama kita. Hanya dengan cara seperti itu, yang harus dilaksanakan dengan HATI TERBUKA, tanpa ada PAMRIH dan dendam, benci, kesal dan acuh  sebercik apapun, maka kita akan mampu memelihara MUTU pemaafaan sedemikian rupa, sehingga akan membawakan kedamaian, keharmonisan dan saling menghargai antar sesama.

Memberikan MAAF seperti itu, bukan saja harus dilaksanakan kepada lingkungan sesama, terutama kepada KELUARGA, tetapi juga kepada DIRI SENDIRI, yang pada hakekatnya adalah SUMBER-nya. Penulis sudah tahu, bahwa pasti diantara para pembaca ada saja yang mencemoohkan dan meremehkan hal ini. Apapun yang kita tangkap dari lingkungan, adanya tindakan-tindakan yang nuansanya negatif, bila diri kita sudah berisikan KEKUATAN PEMAFAAN itu, PASTI akan mempengaruhkan nuancanya yang sangat dibutuhkan mereka yang berbuat salah dan negatif.

Pemberian MAAF dalam konteks yang paling tinggi, artinya tanpa PAMRIH apapun atau UNCONDITIONAL serta tanpa juga mempunyai suatu PRETENSI. Merasa diri lebih SUPER dari sesamanya, merupakan hal yang akan menjadikan kita seorang LUHUR. Sudah tentu, banyaklah faktor yang diperlukan didalam memupuk suatu kemampuan seperti itu. Janganlah dulu mempunyai pikiran yang tidak menyetujui hal ini, karena memang kita BELUM pernah ter-DIDIK secara mendalam yang menyangkut hal ini.

Ada suatu cerita yang nyata dari seorang pembunuh serial, yang melaksanakan hal itu tanpa perasaan apapun, sepertinya mempunyai HATI BATU, dan menganggap tindakan membunuh itu sebagai hal biasa saja. Sebagai manusia tanpa sifat keluhuran, sudah pasti akan terjadi kedendaman dan menginginkan adanya tindakan yang se-TIMPAL, bukan begitu ? Tidak mempercayai adanya Hukum TUHAN (HTBA), yang hanya BELIAU-lah yang dapat melaksanakan keadilan-NYA, dan tidak melalui pikiran dan tindakan seorang atau kelompok manusia.

Beginilah kisahnya: Ada seorang pembunuh yang tertangkap, dan diadili dimuka suatu sidang pengadilan. Pada saat diadakan eksekusi hukumannya, diberikan kesempatan kepada beberapa keluarga-keluarga yang salah satu anggotanya terbunuh olehnya, untuk berhadapan dengan pembunuh tersebut, dengan maksud dapat melampiaskan ketidak puasannya serta menghilangkan rasa dendam. Hal ini ditayangkan melalui media televisi dengan tujuan memberikan contoh kepada pemirsa untuk menjauhkan diri dari tindakan keji dan terkutuk itu.

Para keluarga, dengan kesempatan itu, telah melampiaskan kedendamannya dengan kata-kata yang kasar dan tak senonoh atau VULGER, berteriak-teriak, bahkan ada yang ingin memukulnya, serta melemparinya dengan buah dan telor busuk. Si pembunuh, bernama Clarck, tidak memperlihatkan reaksi apapun, ia berdiri dengan tegap, tanpa memperlihatkan perasaan penyesalannya, ekspresi matanya dingin dan sorotannya seakan menantang dengan arti: “andai saja saya bisa lepas, saya akan laksanakan pembunuhan lagi kepada anda-anda yang berada disini”. Ia memberikan tanggapan dari seorang TANPA EMOSI, kosong, keras bagai batu, seakan tanpa ada jiwa. Ngeri menghadapi orang seperti itu, bukan ? Ia bukan manusia lagi, tapi berbentuk manusia dengan jiwa binatang.

Kemudian ada seorang bapak mendatangi si permbunuh, yang anak perempuannya menjadi korban perkosaan serta dibunuhanya setelah iyu. Ia menatap mata si pembunuh dengan tajam, tak berkedip. Orang menyangka bahwa bapak ini akan melampiaskan dendamnya dengan cara memukul. Tapi, bahkan kebalikannya telah terjadi. Dengan hati sanubari yang terbuka dan penuh pengertian bapak itu mengatakan: “Saya mengampunimu, Clarck, apapun yang telah kamu perbuat dengan cara yang keji. Pikullah tanggung jawab atas perbuatanmu itu dengan SADAR dan penuh PENYESALAN”.

Disitu oleh para hadirin dirasakan suatu KEKUATAN yang MURNI yang mengenai diri pembunuh dengan arus GETARAN yang masuk langsung kepada HATI yang telah mengeras. Kelihatan sekali pada tayangan itu, bagaimana KEKUATAN pemafaan tersebut melaksanakan hentakannya pada jiwa sang pembunuh serial itu, yang telah banyak membunuh sesamanya. Langsung muka Clarck itu berubah dengan serta merta, dan langsung menangis sejadi-jadinya. Hadirin yang tadinya telah membantai dengan kata-kata kasar serta melemparinya dengan buah dan telor busuk, bahkan ikut menangis beramai-ramai.

Hal itu merupakan suatu kejadian yang luar biasa, bahwa dengan suatu penampilan sederhana, tapi dengan KEKUATAN PEMAAFAN yang hanya bisa terjadi pada kondisi ke-SUBYEKTIFAN, PENGERTIAN SERTA KERELAAN, dapat mengadakan hasil reaksi yang tak terduga semula. Lalu apakah berita atau ‘message’ yang ingin disampaikan kepada para hadirin ? Kita merupakan masyarakat yang banyak mempraktekan kekasaran serta tindakan kekerasan pada  suatu bentuk kesalahan yang menyangkut perilaku yang tidak manusiawi serta jiwa yang dilukai.

Kita sering memperlakukan sesama kita seakan sebagai musuh kita, sekalipun terjadi suatu kesalahan ‘minor’ atau kecil saja yang menyangkut perilakunya. Seakan tak tergugah untuk memberikan MAAF dari lubuk hati kita. Cara yang tidak sepatutnya dilaksanakan itu terhadap, misalnya, isteri, anak-anak, keluarga lain, majikan dan tetangga, merupakan ENERGI NEGATIF yang ditimbulkan dari dalam diri kita, dan dengan sendirinya akan merupakan suatu pengelolaan yang akan tertumpuk pada nirsadar, sehingga akan menjadikan tekanan-tekanan pada jiwa kita, serta masalah yang akan kita hadapi sepanjang masa.

Jawaban yang menyangkut hal itu dengan cara kebiasaan lama, ialah, selalu menunjukan sikap suatu pertahanan terhadap peristiwa-peristiwa seperti itu. Kita selalu menganggap untuk mencari kesalahan-kesalahan seseorang dan tidak memberikannya kesempatan untuk merubah diri melalui sikap maaf dan pemberian kekuatan pengaruh sayang atau LOVE. Pengertian mendalam mengenai hal itu belumlah meluas dan kekurangannya terletak pada PENDIDIKAN AWAL oleh orang tua. Dan untuk mendidik kita, mempunyai sikap seperti itu, maka sang pendidik juga harus mempunyai kemampuan serta kebiasaan dari pengalaman untuk itu, bukan ?.

Kita lupa dan belum mengerti, bahwa kekuatan SAYANG itu merupakan suatu TRANSFORMASI dari kemampuan itu untuk dapat menerima dengan kerelaan, pengertian untuk dapat di-akomodasikan dan memberitahukan sesuatu kepada yang salah serta pemahamannya untuk itu, mengapakah kesalahan dapat terjadi pada yang berkepentingan. Kita selalu mejawabnya dengan suatu ‘proteksi’ terhadap suatu peristiwa negatif, bukan melalui pikiran terbuka dan sikap sayang tersebut. Menjadi manusia yang IDEAL, memang tergantung dari kita sendiri.

Sikap negatif itu tidak bakal membawakan keadaan yang lebih komunikatif terhadap mereka yang berkecimpung didalam masalah. Segala sesuatu akan berkembang lebih kearah yang lebih merusak daripada membangun. ESKALASI dari penghimpunan pertahanan diri seperti itu, akan juga memberikan suatu ‘feedback’ atau reaksi yang akan sesuai dengan sikap yang kita perlihatkan, dan akan berlanjut seumur hidup kita.

Dan hal pemupukan perilaku seperti itu, sudah pasti akan membawakan serta meng-induksikan hal ke-TIDAK MANUSIAWI-an. Kenyataannya adalah, bahwa kita tidak bakal dapat menciptakan suatu kondisi DAMAI pada sesama kita, karena kedamaian harus dapat dirasakan terlebih dahulu pada diri kita sendiri, yaitu kedamaian yang mengena sesama kita, apapun perilakunya.

Oleh karena pendidikan SUBYEKTIF belum pernah diadakan pada kita selama ini, maka sudah WAKTU-nya kita memikirkan hal itu untuk dapat dilaksanakan, terutama pada DIRI KITA SENDIRI, mengatur perubahan SIKAP pada sesama dan lingkuangan, dimulai dari yang terdekat pada diri kita.

Kita hendaknya mengetahui bagaimana dapat me-MAAF-kan kepada suatu sikap yang tadinya ditanggapi tak ter-MAAF-kan.

Bagaimana kita bisa menghentikan melakukan serangan kepada sesama yang bodoh, tidak spiritual, selalu menyebalkan dan mempunyai sifat kejam ?

Bagaimana sikap kita terhadap sesama yang sering menyeleweng, bohong, munafik serta mengawasinya ?

Bagaimana kita dapat merubah suatu komunikasi negatif dan diarahkan kepada suatu komunikasi positif ?

Yang PENTING adalah untuk menimbulkan suatu pe-NGERTIAN dan kemudian dapat di-MENGERTI oleh sesama kita. Dengan cara obyektif, hal itu biasanya tidak bakal MEMPAN. Cara subyektif menurut banyak penyelidikan telah memberikan hasil yang efektif !

Suatu pengertian yang mendalam didalam situasi apapun, memberikan kita KEKUATAN untuk membebaskan diri dari perasaan-perasaan yang negatif. Sikap pemafaan merupakan sesuatu PEMBERIAN, bukan yang di-HASIL-kan dari sesuatu yang dianalisa-, kalkulasi, seleksi serta manipulasi didalam pencarian alternatif.

Kenyataannya adalah, bahwa kita akan bisa menjadi seorang yang mempunyai mutu kebijakan yang tinggi, melalui suatu PENGERTIAN INTUITIF. Pengertian, yang dapat memberikan kita kebebasan dan kekuatan yang bersumber pada NIRSADAR. Jadi, kenyataan suatu MISSI terdiri dari EMPAT unsur, yaitu PENGERTIAN, PEMAHAMAN yang diliputi dengan KESAYANGAN yang menimbulkan PERDAMAIAN di-karena-kan sikap PEMAAFAN. Demikianlah kenyataan-NYA.

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America
Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :