* H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar
Judul yang penulis cantumkan diatas, merupakan keberhasilan HAKIKI yang dapat diperoleh, bila kita dapat me-NGENDALI-kan keinginan yang dikembangkan oleh EGO. Memang, bila ditelusuri dengan cermat, maka dasar mendapatkannya, terletak didalam semua bentuk yang dinamakan PENDIDIKAN, atau di-GURUI oleh seorang yang menjadi pen-DIDIK dengan cara ILMIAH SUBYEKTIF dan bukan OBYEKTIF lagi.
Para pembaca janganlah JENUH mengikuti artikel-artikel yang disajikan oleh Indosiar website pada kolom Magic Brain. Sudah tentu keputusan untuk menghadirkan kolom ini, sudah disepakati dengan bulat oleh kedua pihak, yaitu pimpinan redaksi dan penyumbang artikel. Hal ini merupakan suatu penyambungan dari getaran frekuensi yang setaraf serta serasi, dengan tujuan yang KHUSUS mengantarkan TETESAN informasi KHUSUS yang dapat mewujudkan ke-SEJUKAN serta MANFAAT pada penangkapan Pusat Pikir. Dan bukanlah STRESS !
Informasi atau masukan OBYEKTIF memenuhi dunia tiga dimensi ini dengan berbagai nuansa yang di-ISI-kan pada Pusat Pikir melalui jalur penangkapan dari indra FISIK yang sedang berperan pada saat kita sedang BANGUN SADAR, bukan ? Banyaknya informasi yang melanda diri kita memang akan sangat sulit untuk ditangkap secara keseluruhan dengan segala nuansanya. Kemudian bermanfaatkah masukan itu bagi kemajuan kita secara me-nyeluruh ?
Kita mengetahui sudah, bahwa apapun yang kita tangkap berupa bentuk informasi apapun merupakan hal dari masa yang berlalu, artinya, dimana informasi itu SUDAH ter-JADI sebelum sampai pada kita. Dapatkah hal ini dimengerti oleh para pembaca ? Informasi itu terjadi, karena adanya bentuk kejadian yang kita tangkap SETELAH kita dapat menyadari adanya masukan tersebut. Bukankah hal ini merupakan sesuatu yang TELAH me-LEWATI unsur WAKTU ? Kemudian, tanpa kita dapat merasakan dengan jelas serta mewaspadai, kita ini mengikuti dorongan arus waktu tersebut, yang jauh lebih cepat dari yang dapat kita sangka.
Nah, para pembaca, disinilah hal yang menyatakan pada kita, bahwa dengan penggunaan fungsi OTAK KIRI itu, ada batas dari ruang dan waktu, yang sering kali penulis sebut pada artikel-artikel sebelumnya. Tapi, disamping keterbatasan itu, ada LEBIH BANYAK lagi masukan pada dimensi di-LUAR dimensi tiga, dimana kita berada ini. Bisakah para pembaca menerima dan percaya, bahwa bentuk kejadian dan masukan apapun, SUDAH akan ada pada dimensi SUBYEKTIF ? Pernahkah para pembaca dapat merasakan, menangkap dan memanfaatkan hal masukan seperti itu ? Apakah arti dari pengertian subyektif itu bagi pembaca didalam konteks pengertian GLOBAL ?
Kebanyakan diantara kita, melalui HARAPAN yang masih belum PASTI, selalu menginginkin perubahan-perubahan yang POSITIF bagi kita pada umumnya. Hal ini dilaksanakan dengan berbagai cara yang tak dapat dikategorikan dalam cara yang OBYEKTIF. Oleh karena itu, kita laksanakan hal itu melalui cara-cara yang SUBYEKTIF, yaitu, mem-BAYANG-kan sesuatu yang bukanlah merupakan GAMBARAN NYATA. Karena yang disebut terakhir ini, adalah sesuatu yang kita TELAH ALAMI dengan nyata.
Bayangan, merupakan sebuah KHAYALAN dan angan-angan yang di-HARAP-kan dapat terjadi, dimana harapan itu datangnya dari bayangan kita sendiri dan ada hubungan dengan keber-KENAAN TUHAN, yang mem-BERI-kan anugerah itu kepada kita, apakah sudah WAKTUNYA kita dapat menerimanya, bukankah demikian selalu dilaksanakan oleh kita ? Sebenarnya saja, TUHAN telah melaksanakan bentuk kesempatan apapun pada suatu bentuk vibrasi waktu yang berada di-DEPAN kita, berbentuk suatu VIBRASI atau GETARAN yang diwujudkan menjadi kenyataan yang disebut KODRAT atau pre-DESTINY didalam penentuan urut-duduknya TAKDIR atau FATE.
Mengetahui serta dapat memanfaatkan hal ini, akan memberikan kita kemungkinan-kemungkinan POSITIF yang hingga saat terkini masih saja diselidiki serta dicari-cari oleh kita dan para cendekiawan. Sudah tentu, mencari sesuatu yang masih berada pada masa depan yang adalah SUBYEKTIF, hanya dapat dilaksanakan, bila kita mampu menempatkan bayangan itu untuk berada pada lingkungan seperti itu juga. Dan berada pada lingkungan subyektif itu, haruslah di peroleh melalui suatu CARA atau SYSTEM yang telah melampaui RISET atau penyelidikan ilmiah, yang panjang dengan uji-coba kenyataan dengan hasil yang identik selalu serupa.
Kita sudah terbiasa dengan hal cara seperti itu, karena menginginkan bukti-bukti yang nyata atau IMPERIS, bukan ? Ini yang diperlukan pada kondisi obyektif atau nyata, karena dapat ditelusuri melalui unsur-unsur kenyataan pula. Akan lain halnya dengan unsur-unsur yang diberikan oleh pemindahan kenyataan SUBYEKTIF yang dibentuk oleh bayangan tadi. Misalnya saja, obat yang mendukung orang yang sakit supaya sehat kembali, yang diketahui oleh ilmu kedokteran akan adanya kelemahan IMUNITAS tubuh. Lalu dirangsang dengan reaksi kimiawi yang pada proses pelestarian kesehatan tubuh (PPKT), merupakan unsur proses kimiawi ALAMI, kemudian dicari keseimbangannya melalui penyelidikan takeran atau DOSIS tertentu dari proses campuran bahan kimiawi NON-ALAMI dalam ilmu pengetahauan PHARMACY.
Dengan uji-coba obyektif, maka diharapkan takeran itu akan dapat memberikan stimulasi perbaikan untuk merangsang kelemahan imunitas, menjadi kuat dan sehat kembali. Kelebihan takeran akan tidak berguna dan dapat berakibat meracuni PPKT tersebut. Begitulah riset pengobatan obyektif direkayasa melalui cara manipulatif untuk dapat mencapai apa yang diharapkan dalam ilmu kesehatan pharmasi hingga saat terkini.
Bagaimana lalu, bila segala OBAT itu tidak menghasilkan penyembuhan yang diharapkan ? Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel-artikel sebelumnya, maka kebanyakan diantara kita akan ber-PALING pada penyembuhan ALTERNATIF. Mengapakah lalu, didalam penyembuhan seperti itu terdapat keberhasilan yang tak dapat diraih oleh ilmu kesehatan ALOPATI ?
Pada penyembuhan alternatif, ada dua unsur yang selalu dianjurkan, yaitu, kembali pada bahan ALAMI, berupa adanya tumbuh-tumbuhan yang memang tersedia didalam hal penyembuhan yang sakit. Unsur lain adalah, meng-ke-SEIMBANG-kan kembali suatu labilitas dalam PPKT tadi, yang mengatur kimiawi tubuh melalui rangsangan pembentukan vibrasi oleh OTAK kANAN yang kini sudah ada caranya untuk mengendalikannya pada kondisi sadar.
Apakah lalu, masih diperlukan bukti-bukti imperis yang selalu menjadi kebiasaan berfungsinya Otak Kiri ? Hal ini merupakan adanya KONTRADIKSI antara obyektif dan subyektif. Pada hakekatnya yang menjadikan kita percaya kepada hal penyembuhan alternatif itu, merupakan hal yang sederhana sekali. KEPERCAYAAN pada DIRI SENDIRI-lah yang menjadi unsur UTAMA, yang tak dapat lagi dirangsang serta di-umbang-ambingkan oleh provokasi-provokasi berupa masukan yang dapat membingungkan, dimana kita telah mempunyai ke-MANTAPAN yang PD yang berhubungan dengan penyembuhan suatu penyakit pada diri kita.
Lagi pula, kermantapan itu akan didukung lagi oleh kedisiplinan pemeliharaan suatu ke-PUTUSAN akhir yang telah menjadi pedoman kita didalam menanggulangi segala bentuk MASALAH yang sedang dan akan melanda diri kita, tanpa dapat diduga semula. Akan sangat bermanfaat disini, suatu KEPEKAAN INTUITIF yang menyangkut pengetahuan kita mengenai masukan yang BELUM terdapat pada kondisi obyektif. Kita sudah akan mampu menangkap serta meng-antisipasi yang akan datang kepada kita, tanpa harus melaksanan lagi pemilahan-pemilahan masukan yang begitu redundans pada dimensi obyektif, yaitu suatu dimensi dengan tiga ukuran, Panjang, Lebar dan Tinggi, yang membentuk RUANG yang terbatas, disebut dimensi tiga.
Manusia yang sebenarnya sudah sempurna, oleh kekurangan pengetahuan akan kemampuan diri sendiri, sangat memerlukan pengetahuan itu, yang disajikan oleh penulis, dengan tujuan memberikan kebangkitan kemampuan yang bakal menjadi sangat LUAS didalam mengembangkan kapasitas, kapabilitas serta keterampilan didalam menyongsong perjalanan hidup tanpa harus dihadapkan kepada per-MASALAH-an, yang dapat menghadang para pembaca, Amin.
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America