Sosbud
23-Feb-2006 09:22:56 WIB
MAGIC BRAIN
Memberi Nilai Harga Diri Kepada Sesama Akan Menyelesaikan Banyak Masalah



* H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar

Kursus Metoda Silva

Penulis kini akan membahas INTI dari terjadinya suatu masalah, yang sering kali kurang diperhatikan dengan seksama. Bila hal itu bisa diperhatikan melalui ke-WASPADA-an yang dapat diperoleh dengan rasa SAYANG kepada sesama kita, maka sebagian besar dari timbulnya gejala masalah akan PASTI dapat teratasi.

Memberikan nilai harga diri kepada sesama kita, merupakan AWAL dari hubungan HARMONIS antar manusia, yang merupakan unsur pokok pada konstruksi ke-BERGAUL-an yang menjadi PONDASI dari timbulnya komunikasi per-DAMAI-an antar kita. Suatu persaingan merupakan hal yang sebenarnya sering kurang TEPAT serta pada tempatnya pada inti pelaksanaannya. Hal ini sudah pasti akan menimbulkan gejala me-NYOMBONG-kan diri yang berakhir pada tingkatan CONGKAK, AROGAN dan merendahkan harga diri sesama yang berada dibawah kemampuannya.

Sebagai manusia, kita memang belum pernah ter-DIDIK didalam NORMA-NORMA yang LUHUR, seperti yang di-INGIN-kan oleh YME. Hal ini, tak dapat dengan serta-merta kita persalahkan kepada para orang tua kita pada masa lalu, karena pada saat itu, perkembangan pendidikan pada tingkatan SUBYEKTIF belumlah se-CANGGIH kini. Segala sesuatu kemajuan yang kita alami dan rasakan, sudah sepatutnya dapat kita hargai dengan sewajar- dan setepatnya, tanpa berlebihan.

Kita diterjunkan kini, didalam suatu kondisi yang seakan di-KEJAR oleh WAKTU. Kita beramai juga mengejar kesempatan, yang memang diberikan oleh KODRAT, tapi karena pikiran tidak lagi tenang, akan sering menyalah persepsikan kesempatan itu. Kebanyakan diantara kita memikir, bahwa satu-satunya cara untuk menjajaki suatu kesempatan, adalah melalui cara KOMERSIAL, sehingga dirasakan, kalau TIDAK KOMERSIAL, maka seuatu tidak bakal bisa ditanggapi oleh orang-orang.

Didalam bisnis periklanan, kita menjumpai banyak hal yang menyangkut kebohongan dan penipuan psikhologis. Hal ini dalam arti kata mem-BUNGKUS suatu produk dengan kecemerlangan akan mutunya, tapi yang ternyata tidak memenuhi apa yang dikemukakan pada bungkusannya itu, bukan ?

Bisnis berkembang dengan LANTANG, dan tidak memperhitungkan lagi bentuk produk yang tak dapat di-komersialisasi-kan dan toh bisa memikat para penggunanya, karena MUTU dan MANFAAT-nya. Salah persepsi seperti itu belum dapat dirasakan dengan tuntas oleh mereka yang dengan cara serta sepak terjang apapun, berusaha meng-‘AMAL’-kan suatu produk. Apakah lalu didalam kesemrawutan cara pengamalan ini, akan terdapat suatu MUTU yang dapat diandalkan ?

Sekolah-sekolah bisnis, yang mengutamakan suatu proses ‘HARD’-selling atau penjualan dengan tekanan paksaan psikhologis atau “psychological penetration force” yang telah di-SCRIPT, artinya dirancang melalui bentuk performa yang di-SKENARIO, menjadikan hal itu berbentuk suatu penganiayaan terhadap sesamanya. Yang terpenting adalah memenuhi TARGET bagi sang majikan, bukankah begitu masyarakat kita telah dibentuk ?

Menyanggah apa yang penulis kemukakan ini, mempunyai arti tidak mengakui kenyataan serta kebenarannya. Ada saja yang berkilah, bahwa didalam bentuk lingkungan yang kini terjadi, tanpa cara tadi, maka kita akan tidak mendapatkan keberhasilan. Apakah para pembaca akan puas dengan keberhasilan yang diperoleh dari penganiayaan psikhologis, seperti yang dilkemukakan ini ? Semua itu kembali kepada judul yang penulis bentangkan diatas. Kita dengan bertindak dan bersikap seperti yang baru saja diungkapkan, akan bertanggung jawab terhadap terjadinya masalah.

Terkadang, kita tidak menyadari seluruh tindakan kita yang mendukung suatu SIKAP yang seharusnya tidak demikian. Hal itu dimasukan serta diperlindungkan kepada sifat ketidak sengajaan. Nah, para pembaca, inilah termasuk kekurangan kemampuan ke-PEKAAN INTUITIF. Masih belum dapat dirasakan hal itu ? Cobalah menganalisa diri sendiri dengan JUJUR, dan pasti akan menemukan kekurangan tadi. Hanya saja, memerlukan ke-BERANI-an pada diri sendiri untuk mengakui sikap seperti itu, sekalipun tidak di-obral kepada umum.

Memang untuk mempunyai perilaku seperti yang diungkapkan itu, memerlukan suatu PENDIDIKAN KEMBALI dari unusur-unsur kenormalan yang didasarkan atas pondasi POSITIF. Penyimpangan dari hal NORMAL, kini telah banyak terjadi dan telah menjadi suatu kebiasaan, sekalipun hal itu pada dasarnya mempunyai nuansa NEGATIF ! Dan bila sesuatu menjadi kebiasaan yang TIDAK NORMAL, maka akan memberikan nuansa NORMAL yang melawan KODRAT dan TAKDIR, kemudian akan menjadikan unsur pengaturan NASIB menjadi KABUR sama sekali. Apakah hal ini, akan mampu membentuk suatu masyarakat yang ADIL dan kesejahteraan yang menyeluruh sesuai dengan urut duduknya Takdir ?

Dimana-mana masyarakat suatu negara akan selalu dipacu dengan norma-norma yang telah menyimpang dari AZAS pelajaran AGAMA apapun. Kini makin nampak, bahwa hal religi, mempunyai keterbatasan dari inti hakikinya, melalui yang menyatakan dirinya PAKAR, tapi mengalami kekurangan sikap kejujuran didalam mengamalkan azas tersebut. Dikiranya, bahwa bila kita telah melaksanakan suatu kesalahan sebagai manusia (ini merupakan mencari pembenarannya), dan diulang-ulang lagi, didukung oleh pengertian, bahwa kita akan selalu di-AMPUNI oleh TUHAN, merupakan pendidikan yang tidak tepat dan tidak pada tempatnya.

Berusaha untuk tidak lagi berbuat SALAH, masih merupakan hal yang belum di-SADARI benar oleh kita. Suatu cetusan pikiran yang tidak diolah serta dikelola dengan pondasi POSITIF terlebih dahulu, dan benar-benar dapat mempunyai VISI dari benang merah antara POSITIF dan NEGATIF, akan menjerumuskan setiap insan pada situasi bertabrakan dengan HUKUM ALAM dengan timbal-baliknya, Apakah setiap orang tua yang sudah SIAP menjadi seperti itu, mengerti benar akan hal tersebut ?

Hal inilah yang akan menjadi pondasi dari pendidikan yang bernuansa sangat POSITIF terhadap asuhan yang di-TITIP-kan kepada kita, untuk dijadikan GENERASI PENERUS yang tangguh didalam menghadapi segala bentuk PROVOKASI yang mencoba membimbangkan  persepsi dengan segala caranya. Sikap yang menyangkut performa kita sebagai insan yang NORMAL, dengan arti kata ANGGUN dan LUHUR, seharusnya merupakan pendidikan utama disekolah-sekolah, mulai dari pra-sekolah sampai kepada tingkatan kesarjanaan dan seterusnya, tanpa ada batas-batas yang menyangkut umur, kedudukan, kepintaran dan lain sebagainya.

Orang yang disebut pintar, belum ada jaminan, bahwa akan mempunyai pandangan hidup yang MAPAN. Bila pintar itu didasarkan kepada pengumpulan unsur intelektualitas saja, maka tidak pula ada jaminan, bahwa ke-intelektualitas-annya itu dapat menembus dinding atau batas psikhologis serta filosofis yang demikian luasnya. Tapi, bila pengumpulan dari psikhologis dan filosofis itu tidak didasarkan atas KENYATAAN SUBYEKTIF, maka sekali lagi, hal itu akan selalu dibatasi oleh KENYATAAN OBYEKTIF.

Mengisi diri kita dengan ilmu pengetahuan yang dasarnya subyektif, kini harus sudah kita sikapi dengan suatu Alam Pikiran yang terbuka. 

"Be open in your Mind performance, and you only could have any benefit that evolves as such." Demikan kata-kata penemu ilmu pengetahuan PSYCHORIENTOLOGY yang diakui oleh banyak cendekiawan kini, sebagai PIONEER dari suatu SAINS yang menyangkut hal PENGENDALIAN ALAM PIKIR atau MIND CONTROL ini.

Segala sesuatu yang berbentuk apa saja, yang didasarkan atas pengelolaan didalam Pusat Pikir atau Brain, yang lalu terbentuk didalam Alam Pikir atau MIND, akan mengontrol sikap perilaku kita yang akan dipindahkan sebagai suatu tindakan FISIK yang menjadi kenyataan. Langkah-langkah dan urutannya, bila sudah dapat dimengerti benar oleh setiap kita, akan menjadikan kita sebagai insan yang mempunyai MIND CONTROL.

Inginkah para pembaca seperti itu ? Renungkan dulu apa yang dibeberkan ini, endapkan dengan serius. Dan melalui pengertian itu akan terbentuk suatu tindakan yang pasti dapat menguntungkan dan memajukan diri kita, Amin.

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :