Sosbud
14-Mar-2007 10:19:45 WIB
MAGIC BRAIN
Penyelidikan ESP dari Lembaga Teknologi Komunikasi Psi di Amerika (V)



Oleh

 

John Mihalasky

Professor Emeritus of Industrial Engineering
Director, PSI Communications
New Jersey Institute of Technology
Newark, NJ


Kembangkan dan Gunakan Kemampuan ESP

Sebelum ini telah dinyatakan, bahwa kepekaan yang menyangkut hal masa depan atau prekognisi bukanlah berasal dari fenomena mistik. Hal itu merupakan ‘energi’  atau transfer informasi menggunakan indra-indra yang pada saat ini belum diketahui atau tersedia. Profesor Mihalasky yang memimpin penyelidikan ini, percaya, bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang menyangkut kepekaan intuitif itu. Jadi hal ini bukanlan merupakan pertanyaan, apakah seorang mempunyai atau tidak mempunyai ESP. Tapi bagaimanakah dapat dikembangkan dan digunakan kemampuan itu.

Informasi prekognitif diperoleh melalui banyak bentuk, melalui mimpi tengah malam, pengilhaman pada saat apapun serta yang disebut ‘gut feeling’. Yang ingin mempergunakan harus mempunyai pengetahuan itu terlebih dahulu, serta kepercayaan yang menyangkut sumbernya. Kemudian harus membiasakan diri menerima informasi seperti itu serta mengenali bentuknya. Sering mengunakan kemampuan prekognisi akan pasti mempertajam bakat untuk itu.

Banyak eksekutif menyatakan, bahwa mereka mempercayai akan adanya ESP’ juga menggunakan kemudian diselubungi yang rasional untuk pembenaran gagasan tersebut, suapaya jangan dikatakan bahwa mereka itu seperti merupakan orang yang bodoh.

Informasi prekognitif biasanya merupakan suatu hal, dimana yang akan menyelesaiakan masalah ada hubungan ‘emosional psikhologis’ yang mendalam yang menyangkut masalahnya itu. Adanya gejala itu juga tergantung dari kondisi seseorang pada saat itu, dengan suatu mind yang sesantai mungkin dan sedang tidak memfokuskan diri pada permasalahanya.

Yang penting adalah bersedia menerima informasi yang ditangkapnya itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Banyak terdapat engineers dan scientis, tapi sedikit sekali yang bisa mempunyai gagasan meraba masa depan. Yang dinamakan sebagai orang ‘super generator’ akan balik melalui data-data yang telah digunakan oleh yang lainya, tetapi harus mempunya sesuatu yang ‘extra’ didalam menyampaikan gagasanya. Apakah yang disebut ‘extra’ itu merupakan hal kepekaan yang kini disebut ESP?

Penggunaan Kemampuan Prekognisi

Penyelidikan-penyelidikan yang menyangkut hal prekognisi ini tidak mendukung gagasan, bahwa soal kemampuan itu merupakan hal yang ‘unik’ dan istimewa.
Namun demikian gagasan tersebut memang telah mendukung, bahwa ada beberapa orang yang mempunyai lebih banyak kemampuan dari yang lain, dan dapat mengunakanya dengan lebih baik. Seorang eksekutif yang ingin mempunyai kemampuan prekognisi, pertama-tama harus mempunyai pengertian akan fenomena ini serta bentuk informasi yang disuguhkan kepadanya.

Prekognisi merupakan bagian dari proses sub-sadar, dan karena itu tidak terbatas pada kondisi ruang dan waktu. Suatu bentuk dari informasi prekognisi dapat merupakan sesuatu yang formatnya variabel. Bisa hadir bila seseorang sedang sadar, dan terkadang sepertinya seorang berbicara dengan diri sendiri. Hal seperti itu dapat juga terjadi pada saat seorang sedang tidur, berbentuk mimpi atau simboliknya. Masalah dari simbolik itu, harus diterjemahkan melalui cara yang disadari dengan segala ‘bias’-nya.

Kondisi yang paling ideal dari informasi prekognisi adalah, bahwa tidak diperlukan suatu interpretasi lagi. Ini sangat tergantung dari kondisi seseorang pada saat menerima informasi tersebut. Sebabnya adalah, bahwa suatu interpretasi yang akan menggunakan kondisi logik akan dapat menghilangkan kebenaran dari informasi prekognitif tersebut.

Suatu contoh dari prekognisi adalah, bila seorang yang sedang mengemudi didalam trafik berat, mendapat suatu ilham untuk membelokan kendaraanya yang berarti mencari jalan keluar dari suatu masalah trafik. Suatu bentuk pemikiran disini tidak diperlukan sama sekali, hanya mengikuti saja apa yang sedang tersirat dialam Alam Pikiranya. Para eksekutif yang sedang di-uji-coba, harus mampu untuk mendeteksi informasi prekognitif tersbut pada setiap saat.

Bagi mereka hal ini bukanya merupakan suatu kemampuan yang otomatis, tapi dapat dikontrol melalui suatu keinginan untuk  menerimanya. Kemudian yang akan mengunakan informasi prekognitif, harus mempunyai kepercayaan akan hal itu dan keberanian untuk mengunakanya. Sangat diperlukan suatu akseptasi dari informasi tersebut dalam kondisi dapat dimengerti ataupun belum. Akhirnya juga bahwa banyak berpraktek dalam hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting.

 Hal itu sepertinya meminyaki suatu mesin, sampai bisa berjalan tanpa hambatan atau mempraktekan menjalani sebuah mobil sampai terjadi suatu rutin dari banyak berpraktek, yang lalu menjadi otomatis. Para ‘pemutus’ hatus melaksanakan testing dan verifikasi dari adanya prekognisi pada dirinya dengan suatu Alam Pikir yang terbuka positif didalam berperilaku. Bila hal ini ditolak, maka kemampuan itu akan hilang, karena ditekan oleh ketidak percayaan. Kita sering menolak sesuatu, karena belum ada pengertianya, bila ingin ESP itu akan berfungsi bagi kita, maka kita harus menghilangkan resistensi tersebut. Dan didalam penyelidikan kita, ternyata timbulnya suatu gejala ESP akan terjadi bila resistensi itu berada pada tingkatan yang paling rendah.

Kita telah banyak berhubungan dengan mereka yang mempunyai kemampuan prekognisi tersebut, bahkan ada yang takut dan sengaja ditekan untuk menghilangkanya. Tapi setelah dijelaskan, bahwa precognisi tidak perlu ditakuti dan bahkan akan memberikan peluang yang jasuh lebih luas, maka terjadilah suatu kondisi yang lebih santai, dan kemampuan tersebut kembali berfungsi.(Idh)

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :