Sosbud
26-Mar-2007 08:44:23 WIB
MAGIC BRAIN
Mencari Bukti yang Menyangkut Penyalahgunaan Wewenang



Bila kita bicarakan soal mencari pembuktian apakah suatu tindakan menjadi hal yang disebut menyimpang dari keteraturan serta ketentuan dari  bentuk cara yang telah disepakati untuk dilaksanakan, kita akan sering terbentur kepada hal-hal manipulatif. Hal yang disebut manipulatif itu, merupakan tindakan yang dipengaruhi oleh kadar emosional didalam pelaksanaan suatu analisa, adanya unsur perhitungan dan pemilahan dari pencarian alternatif didalam unsur pembenaran suatu kasus.

Hal ini serupa dengan meneliti, apakah pembentukan suatu bahan untuk dasar dari suatu tindakan telah mantap. Tapi, ternyata, sekalipun kelihatan mantap dengan asumsi sudah dipantau dengan seksama, secara kenyataanya, akan selalu ada saja yang masih bisa disebut kurang sempurna. Bagaimana lalu suatu kesempurnaan itu dapat diharapkan, kalau kita sendiri masih juga belum sempurna didalam menggunakan semua kemungkinan pola pikir yang hanya didasarkan atas fungsi dari sebagian kemampuan lengkap kita, bukan?

Masalah inilah yang masih saja diperdebatkan untuk mempertahankan situasi kurang sempurna itu dijadikan berbentuk sempurna. Tapi hal itu tidak mungkin, karena kita hanya menggunakan informasi-informasi yang sebenarnya saja, sudah terjadi dimasa lalu. Mengertikah para pembaca yang menyangkut hal ini? Informasi kejadian apapun harus dijadikan terlebih dahulu, sebelum dapat ditangkap oleh panca indra kita. Jadi, hal itu menandakan, kita belum mampu menangkap informasi  s e b e l u m  akan terjadi atau dijadikan SECARA  NYATA.

Hal seperti itu memang belum dapat dimaklumi untuk dipergunakan sebagai bahan sebagai suatu pertimbangan dan verifikasi dari suatu kejadian yang  t e l a h  dapat kita tangkap kemudian. Dan didalam hal ini, pada banyak peristiwa, kurang dapat diterima sebagai sesuatu yang bisa dikatakan ‘imperis’. Karena hal kondisi ‘ I m p e r i s ‘  ini erat bersangkutan dengan penerimaan serta akseptasi melalui indra-indra  F i s i k . Seperti telah kita ketahui, banyak kini diungkapkan, bahwa kita juga mempunyai indra-indra yang  N o n  -  F i s i k. Jadi, bila kita menerima sesuatu yang dikatakan  sebagai ‘Hunch’ atau “Ilham’ atau ‘Firasat’, itu ditangkap oleh indra-indra non-fisik tadi, dan bukan oleh indra-indra yang fisik, yang ditunjang oleh fungsinya Otak Bagian Kiri.

Memang mengenai kenyataan ini, sekalipun sudah banyak penjelasanya, masih saja menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima serta dimengerti oleh banyak orang. Mengapa bisa seperti itu? Hal seperti ini tergantung dari terbukanya Alam Pikiran kita masing-masing, yang belum terkena doktrin dan dogma oleh pelajaran apapun antara lain didalam  r e l i g i, yang tidak menginginkan, bahwa kita mempunyai persepsi serta pandangan lain yang menyangkut hal  S u b y e k t i f. Dogma dan Doktrin, termasuk pandangan  O b y e k t i f , yang sudah selayaknya tidak luas dan terbatas dari Ruang dan Waktu.

Bila kemampuan kepekaan sudah menjelma sebagai sesuatu yang nyata serta dapat melaksanakan  V e r i f i k a s i  dari informasi yang disuguhkan  pada kondisi obyektif, maka akan terjadi sesuatu yang tadinya tak dapat disangka. Misalnya, seorang menerima informasi mengenai suatu peristiwa yang telah di manipulasi. Dengan kepekaan, kita dapat menangkap kejadian yang masih murni, kemudian dipelintir oleh pikiran seorang, dengan maksud hendak mengambil keuntungan bagi dirinya. Dorongan emosional dari orang yang telah memelintir informasi itu, sudah pasti muncul dari pengaruh emosi yang egoistis serta tak terkendali. Didalam hal ini, kita dapat mengantisipasi tujuan negatif itu melalui pengaruh getaran yang positif, sehingga meluruskan bentuk peristiwanya sebelum dapat ditindakan.

Hal ini sering kali kita jumpai pada saat seorang diwawancarai mengenai suatu peristiwa yang telah dialaminya. Sebagai pewawancara, tanpa adanya kepekaan, kita tak dapat melaksanakan verifikasi atau menguji kebenaran dari apa yang sedang diucapkan oleh yang diwawancarai. Oleh karena itu, sering terjadi protes, bila persepsi seorang pewawancara sudah tidak tepat. Atau bisa juga terjadi protes dari pihak lain, yang kebetulan mengetahui, bahwa yang diucapkan oleh orang yang diwawancarai itu tidak benar.

Nah disinilah sering kali terjadi kesemrawutan dari bukti-bukti fisik yang diajukan oleh penuntut umum didalam perkara pengadilan, untuk menentukan seseorang bersalah, dengan tingkatan tertentu atau tidak. Seorang hakim pun, sudah mutlak harus mempunyai  k e p e k a a n  intuitif yang sempurna, karena dari bukti-bukti yang diajukan ada yang bersifat nyata (imperis) dan yang tidak nyata dapat ditangkap dengan indra-indra yang non-fisik tadi. Hal pembuktian inilah yang sering didjadikan sesuatu yang mudah sekali dipelintir.

Seorang jaksa, misalnya, yang mempunyai indra ke-enam atau ESP, akan mudah membuktikan seseorang bersalah atau tidak dan apakah kesalahan seseorang itu merupakan ‘konspirasi’ atau pesekongkolan untuk menjebloskanya didalam penjara, karena tidak disukai oleh suatu kelompok tertentu dan bisa saja membongkar semua peristiwa yang sedang ditutupi dengan alasan-alasan pembenaran, bukan begitukah sering terjadi, para pembaca?

Apalagi seorang yang kita sebut H a k i m , yang mana seharusnya  s a n g a t   p e k a mengenai tuduhan-tuduhan yang dikemukakan untuk mengadili seseorang. Namun demikian, para pembaca, apapun yang dipelintir didalam suatu peradilan, pasti tidak akan luput dari pantauan Hukum Timbal-Balik Alam, ‘HTBA’.

Mengapakah banyak orang dengan enaknya berbohong, sedangkan menurut aya-ayat serta ketentuan dari agama bentuk apapun, beserta pendidikan awal hal itu sangat dibenci. Didalam bohong seolah orang mengharapkan ada suatu  t o l e r a n s i , tapi dengan tegas hal itu pasti ditolak oleh HTBA, bukan? Banyak orang kini sudah tidak mempunyai rasa  m a l u , bila berbuat suatu tindakan yang merugikan sesamanya.

Jangan salah menafsir mengenai timbal-baliknya Hukum Alam tersebut, kita akan pasti merasakan ‘tombal-baliknya’ kerugian atau keuntunganya. Bila kita berbuat sesuatu yang sudah pasti akan merugikan orang lain, kemudian memohon maaf setelah itu kepada Tuhan, apakah lalu hal salah tindak tadi akan begitu saja dihapus? In merupakan hal yang bisa dikatakan mustahil dan merupakan tindakan mencari suatu pembenaran dari kesalahan yang telah diperbuat. Kenyataanya adalah, bahwa  menerima ‘tanggung jawab’ dari suatu tindakan, tidak lagi ditanggapi dengan serius, dan banyak yang lalu menghindarkan diri dari kondisi seperti itu atau  L a r I  dari tanggung jawab. Dan terkadang mencari sesama yang akan dilibatkan.

Manusia menutupi dirinya dengan menyatakan, ‘itulah  m a n u s i a w i ‘ . Bukankah hal ini menjadi sesuatu yang tak pantas lagi diucapkan didalam zaman baru, dimana kita sudah mulai banyak mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, tapi karena sudah terbiasa dengan sesuatu kebiasaan, maka keluar dengan merubah diri kearah yang akan jauh lebih baik dan menandakan bahwa manusia itu sebenarnya sangat sempurna, karena yang menciptakan  M a h a    S e m p u r n a , bisakah hal ini dapat para pembaca fahami?

Jangan selalu menyatakan, bahwa diri kita lemah sebagai manusia. Justru karena lemah terhadap hal-hal yang negatif itulah, telah menjadikan dunia seperti sekarang ini. Dan untuk merubahnya, kita harus memulai dengan  merubah diri sendiri    terlebih dahulu. Setuju?

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :