Sosbud
16-Apr-2007 09:38:51 WIB
MAGIC BRAIN
Bila Pembaca Menjadi Presiden dalam Kondisi Negara Seperti Kini



Penulis akan membawa para pembaca didalam kancah imajinasi yang mungkin saja bisa terjadi. Kita sebagai penonton gerak-geriknya dari mereka yang dikatakan telah ‘mujur’(?) dipilih menjadi pengelola negara, sering melaksanakan pendapat kritis terhadap kelemahan serta tindakan-tindakan yang tak dapat dipandang sebagai sesuatu yang benar serta positif.

Kita hanya mampu sebatas kritik tersebut, yang karena ragamnya begitu banyak, maka terjadi kesimpang-siuran yang demikian luas, sehingga mengkusutkan pandangan persepsi dari bentuknya yang akan sulit untuk dapat dimengerti, apalagi untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan penetrapanya.

Atas dasar itulah, maka penulis ingin membangkitkan suatu  i m a j i n a s i  atau khayalan pada diri pembaca, untuk membayangkan diri sebagai ‘Presiden Terpilih’ oleh rakyat. Mampukah kita bila terjadi hal seperti itu ? Bagaimana perasaan kita, serta siapkah kita untuk tugas seperti itu?

Sudah tentu, sebagai orang biasa dengan kemampuan intelektual pada tingkatan apapun, mampukah kita menyatakan pada diri kita bahwa telah siap untuk mengemban tugas yang  m a h a    b e r a t, karena hal itu akan menyangkut segala bentuk bidang yang diperlukan didalam menjaga serta melestarikan bentuk negara yang telah disepakati sejak revolusi menyingkirkan penjajahan. Kita harus dapat merasakan dan mengetahui bahwa  akan berhadapan dengan aspirasi dari  j u t a a n  orang. Keinginan yang tulus serta ada yang menyimpang sudah tentu membentuk keragamanya yang harus dapat kita antisipasi, bukan?

Kita sebagai, misalnya seorang Presiden direktur suatu organisasi besar, mungkin multinasional, hanya akan mencakup beberapa ribu, puluhan atau ratusan, bahkan beberapa puluh juta orang manusia saja yang harus dikelola dengan baik. Tapi bukanya dua ratus duapuluh lima manusia dimana termasuk presiden-presiden kecil dari organisasi-organisasi yang menunjang eksistensi ekonomi dari hidupnya suatu negara dengan  S e h a t  dan bukan  S a k i t. .

Kemudian, kita harus mampu membayangkan secara  l u a s  antar hubungan dari bentuk organisasi didalam memberikan penunjanganya dan bukan saling menjatuhkan yang menyangkut tujuan eksistensinya, bukan? Hal ini merupakan suatu tugas yang seharusnya dipikirkan secara mendalam sekali dengan kemampuan yang memang sudah di-Ciptakan oleh Maha Organisator dari Alam Semesta.

Penulis sendiri pernah diminta untuk mengelola ratusan ribu orang Indonesia di bilangan Benelux di Eropa, sebagai Ketua masyarakat Indonesia Luar Negeri. Memang merupakan suatu pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup, bagaimana menyesuaikan diri dengan aspirasi menyatukan mereka yang dengan berbagai alasan berada dan menyambung hidup di luar negeri sebagai suatu kelompok yang kompak, serta mengalami berbagai bentuk hambatan dalam tugas masing-masing.

Memang tidak mudah dan selalu berhadapan dengan mereka yang mempunyai rasa iri hati dan selalu mencari kelemahan-kelemahan serta berusaha mencoreng nama baik. Tapi kenyataanya adalah, bahwa sampai saat ini, masih banyak yang menghubungi penulis dari masa lalu tersebut, yang penulis sendiri sudah lupa akan sosok dan mukanya.

Kita harus juga menyadari, bahwa menjadi seorang nomor satu dinegara ini, haruslah juga menjaga  N a m a   B a i k  yang akan dijadikan panutan bagi khalayak ramai. Ingat selalu, bahwa kitalah yang menjadi  T e l a d a n  bagi banyak orang, karena kitalah yang harus menjadi  C o n t o h  dari suatu perilaku sebagai Presiden. Sebabnya adalah, bahwa  s e k a l i  tercoreng nama itu, maka akan terhapus segala peristiwa yang baik yang telah kita lakukan.

Seakan kita selalu diharapkan, tidak pernah bisa tergelincir karena suatu tindakan kita yang merupakan penyelewengan dan penyimpangan dari bentuk yang positif. Ingat selalu, bahwa sekali pencuri, akan tetap dianggap sebagai pencuri dan pada saat tertentu, bila pengawasanya sedang lemah akan pasti mencuri lagi. Sampai detik ini, hal ini masih saja menjadi sesuatu tanggapan di masyarakat manapun. Bukankah seorang narapidana akan selalu mendapatkan kesulitan untuk memberikan tanggapan yang positif setelah berbuat negatif?

Mengapakah bisa demikian tanggapan pada masyarakat manapun? Bila diteliti benar, maka suatu perbuatan negatif dengan bentuk apapun, terjadi dari, selain provokasi lingkungan, cetusan pikiran yang bernuansa menurut pengelolaan jiwa. Emosi didalam hal ini akan mengambil peran yang menentukan, artinya kita mempunyai pengendalian atau tidak sama sekali. Dan bila tidak ada pengendalian yang tuntas, maka sekali waktu pada kondisi kurang waspada, akan terjadi tindakan yang dikhawatirkan tersebut.

Disinilah manusia salau akan mencari suatu  p e m b e n a r a n  dari tindakan yang lemah itu dengan menyatakan bahwa hendaknya dimaklumi tindakan tidak tegas tadi, dengan pengertian, bahwa manusia tidak sempurna dalam bentuk tindakanya. Hal itu bisa dimengerti, karena kita tidak pernah menguasai seluruh potensi manusia yang  s e u t u h n y a . Kesempurnaan pengelolaan berpikir melalui potensi sadar dan nirsadar yang terintegrasi atau berkesinambungan.

Dan bila pembaca sebagai seorang Presiden negara, yang tak mempunyai pengendalian kesadaran seperti itu, maka sudah pasti akan selalu mengalami keterbatasan pandangan yang akan memberikan hambatan yang merupakan bentuk  m a s a l a h . Hal ini sering kali dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin dan seakan mendahului kehendak Sang Kuasa. Pengertian seperti itulah yang tersebar dimana-mana, menimbulkan justru hambatan karena masuk didalam daya imajinasi kita. Suatu imajinasi yang tidak tepat dan seharusnya diteliti kembali secara tuntas dengan menggunakan potensi kesempurnaan lengkap yang mana juga terbentuk sejak dilahirkan.

Kompleksnya keadaan didalam mengelola suatu negara dengan penduduk yang begitu beragam latar belakang kebudayaan serta tradisinya, memerlukan suatu kondisi sempurna dari seorang presiden yang mampu mengembangkan visinya kemasa depan, masa kni dan masa lalu, melalui cara-cara  s u b y e k t i f  yang masih saja dicurigai didalam konteks serta pengertianya. Dan inilah hendaknya dapat diterima sebagai kenyataan untuk merubah dan memperluas pandangan kita dari kondisi masa kini dijadikan kondisi masa depan dengan segala kemungkinan yang ada pada diri kita sebagai manusia yang seutuhnya.

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :