Para pembaca yang terhormat, marilah kita merenungkan sifat yang paling berperan pada diri kita, yang menjadikan kita berperan positif atau negatif. Kedua sifat itu, akan selalu memberikan kita kemampuan kearah membangun atau merusak diri sendiri serta lingkungan. Hal yang penulis kemukakan ini, akan merupakan topik didalam membentuk keluarga, sebagai pondasi seorang yang emosional atau yang pintar mengendalikanya untuk tujuan yang membangun dan bukan sebaliknya.
Bila ada diantara pembaca yang sekiranya tergelitik emosinya dan berpendapat, bahwa emosi itu sudah menjadi lumrah didalam menjalankan hidup kita, akan penulis bawa kepada pembentukan kita pada masa masih memerlukan banyak arahan serta bimbingan pada awal hidup kita, yang sangat diperlukan untuk pembentukan performa positif atau sebaliknya.
Didalam sifat-sifat yang terbentuk didalam diri kita, tidak akan lepas dari pengaruh yang di-induksikan pada neuron otak kita, sewaktu masa pendidikan dini dengan segala kerumitanya yang dialami oleh orang tua kita, yang pada dasarnya menginginkan kita akan mejadi manusia yang genius, soleh dan mampu mengendalikan emosi sepanjang hidup.
Memang didalam hal ini, banyak ragam pendapat dari mereka yang sedang menyelidiki sifat-sifat manusia melalui peran Alam Pikirnya. Yang telah diketahui dengan tuntas, didalam penyelidikan yang seksama adalah, bahwa kemampuan manusia mempunyai dasar pada suatu kekuatan dahsyat yang dinamakan E m o s i . Kekuatan yang menjadi I n t i dari segala perkembangan pada diri kita ini, ternyata dapat dengan tuntas di k e n d a l i kan dengan cara yang mengarah kepada merugikan diri sendiri atau menguntungkan. Cobalah merenung apa yang penulis sebut dengan P e n g e n d a l i a n itu.
Betapa tanpa adanya pengendalian itu, kita dapat merusak segala sesuatu pada diri kita serta lingkungan yang menyangkut hal pertumbuhan Tubuh maupun Alam pikiran. Dari penyelidikan yang ketat yang menyangkut hal emosi itu, dapat diketemukan, bahwa terjadi suatu penurunan dari otomatisasi pelestarian kesehatan tubuh, sehingga kita dapat merasakan hal-hal yang tidak wajar.
Antara lain, suhu akan naik, jantung akan berdebar dengan tidak teratur dan melebihi detak alami, yaitu 80 detak per menitnya. Pernapasan kita akan melebihi 14 kali per menit, dan pertumbuhan butir-butir darah putin, yang menjadi tentara elit kita didalam menyerang virus-virus, akan makin berhenti.
Adakah hal ini diperhatikan oleh kita sepanjang masa? Tentu tidak, karena disibukan oleh bermacam ragam bentuk aktivitas yang memerlukan perhatian kita. Waktu untuk merenungkan hal itupun biasanya tidak terdapat, karena kita berfungsi secara reflex yang diatur oleh pengelolaan pada diri kita, yang penuh dengan pengaruhnya emosi, bukan?
Banyak hal yang dipercontohkan, sewaktu kita masih banyak memerlukan bimbingan dari pertama-tama lingkungan dekat, yaitu keluarga, belum lagi yang dialami bila diluar itu. Bila dirumah, bapak dan ibu mempercontohkan sering marah dan ada kemungkinan melaksanakan perdebatan sengit tanpa memperdulikan ada anak kecil dilingkunganya atau tidak, maka kita akan terinduksi oleh hal tersebut sehingga akan melaksanakan reaksinya pada saat emosi kita akan berperan suatu ketika.
Suatu contoh yang penulis masih ingat pada masa dini itu. Penulis tidak pernah melihat adanya pertengkaran antar orang tua, sehingga bila menemui adanya gejala itu dirumah teman, maka merasa heran, kok orang sudah tua masih bisa marah-marah. Lalu dipertanyakan hal itu dirumah, dan mendapatkan jawaban yang menyangkut peran emosi tadi, sehingga mengerti benar, bahwa emosi itu seharusnya dapat dikendalikan, karena akan lebih banyak merusak daripada membangun.
Inilah didikan penulis, sehingga waktu dewasa menjadi orang penengah didalam banyak pertengkaran antar teman. Anehnya, para teman tidak menjadi marah dan mengerti bila diterangkan bahwa marah itu tidak ada gunanya, karena mengadakan pengunduran atau set back dari perkembangan kearah maju.
Banyak yang menderita penyakit, karena sifatnya pemarah dan sulit untuk mengendalikan diri, tapi bila dinasehati, tetap ada yang menyatakan, bahwa marah itu sudah lumrah yang merupakan reaksi dari suatu kejengkelan terhadap orang yang membuatnya berpikiran seperti itu.
Hal ini merupakan pemikiran yang sangat terbatas dan tidak akan bisa pernah luas, karena selalu terangsang pada suatu saat dan memperlihatkan pikiran pendeknya, tidak mengetahui, bahwa timbulnya emosi bisa jadi dari tingkahnya diri sendiri, yang dianggapnya paling sempurna. Tidak banyak orang yang dapat mengakui kesalahan pada dirinya. Dianggapnya selalu benar, dimana hal itu akan bertentangan dengan pantauanya Hukum Alam. Kasihan dan prihatin penulis melihat orang-orang seperti itu.
Kita sebenarnya wajib menolong orang-orang seperti itu, karena bakal terjerumus didalam kancah fungsi negatifnya. Bukankah hal ini akan menjadikan kita seorang yang akan menolong melihat seorang bakal tenggelam oleh tingkah lakunya? Haruskah kita mempunyai kepedulian terhadap orang-orang seperti itu? Seharusnyalah kita peduli terhadap mereka yang berfungsi tanpa mampu mengendalikan emosi.
Tapi, bila kita belum mampu untuk itu, maka akan ikut tenggelam didalam kesulitanya. Oleh karena itu, kita wajib memperkuat dan menyempurnakan diri kita untuk dapat mempengaruhkan kekuatan nirsdar kita demi menolong orang lain yang sedang didalam kesulitan mengendalikan emosi dan membawanya kearah mau belajar cara pengendalianya. Cobalah, selidiki diri sendiri, sampai dimana kepedulian kita pada hal yang subyektif dan bukan obyektif.
Hal subyektif akan mengamankan diri kita dari segala unsur pengaruh negatif yang kini sedang melanda dunia dan tanah air kita. Berusahalah kearah mendamaikan suatu situasi yang sedang sekarat dengan peran emosinya yang keluar dari jalur yang wajar Apakah memang kenyataanya selalu akan seperti ini?. Marilan merubah diri dengan telak, membawa keharmonisan serta kedamaian !