Sosbud
15-May-2007 15:04:32 WIB
MAGIC BRAIN
Persekongkolan yang Selalu Mengarah pada Perusakan



Para pembaca yang budiman, judul yang penulis angkat kini, merupakan sesuatu yang kita harus waspadai, karena memberikan dampak yang  n e g a t i f  pada linkungan luas. Kitapun biasanya tidak merasakan akan adanya pengaruh yang banyak merusak daripada membangun suatu pemikiran yang sehat.

Kemudian, tujuanya tidak lain untuk sesuatu yang menyangkut menguasai sesama dalam hal melestarikan kekuasaan yang arahnya selalu tidak benar. Mereka yang kini sedang giat untuk mencari bukti-bukti adanya persekongkolan, kini boleh dikatakan mulai marak dimana-mana.

Salah satu tayangan TV dari Geographic Channel yang berani dan didukung oleh banyak pihak yang tadinya masuk kedalam kancah persekongkolan itu, kini berusaha membuka kebenaran yang telanjang –the naked truth- berdasarkan banyak pengakuan-pengakuan yang didasarkan atas kejujuran tanpa manipulasi.

Hal ini akan membuka lembaran baru didalam pengungkapan hal-hal yang selalu ditutup-tutupi. Padahal apapun yang disembunyikan dengan serapat-rapatnya, akan pasti terbuka pada saat tertentu, memberikan gambaran bagaimana asal-usulnya suatu kejadian yang membawa bencana bagi kemajuan manusia. Hal positif tidak memerlukan penutupan hal-hal yang akan selalu menguntungkan.

Mereka yang peka sekali terhadap informasi apapun, akan langsung dapat melaksanakan verifikasi dari adanya dasar kebenaran atau yang sedang dipelintir dengan tujuan suatu  p e m b e n a r an,  mengelabui pandangan dari informasi yang disuguhkan kepada masyarakat luas.

Mereka yang mempunyai kedudukan yang berwenang untuk merubah arah jalannya sejarah dunia, baik internasional maupun nasional, yang ‘notabene’ adalah pelimpahan kepercayaan dari suatu masyarakat yang menginginkan perubahan telak dari kondisi situasinya, ternyata selalu terkena,  yang secara nyata merupakan  p e n i p u a n  belaka.

Mereka tidak menyadari dengan tuntas adanya suatu Hukum yang berefek timbal-balik yang menguasai seluruh kehidupan makhluk dengan bentuk apapun, termasuk yang canggih, yaitu  M a n u s i a . Bila kita percaya akan sesama kita didalam mengarahkan haluan suatu negara, serta hukum-hukum yang disepakati yang dibuat bersama-sama, kita haruslah mempunyai yang, -sekali lagi penulis ungkapkan disini-, dinyatakan dengan  K e p e k a a n   I n t u i t i f  , sehingga mampu mengadakan  K o n t r o l   atau pengawasannya terhadap mereka yang sedang dipercayai.

Karena kita, yang termasuk 90 prosen dari penduduk dunia, yang melaksanakan cetusan pikiran serta penangkapan informasi, dengan Otak bagian Kiri saja, ternyata mempunyai keterbatasan didalam berfungsinya suatu penangkapan.

Maka tidak mungkin akan dapat menembus batas-batas yang memisahkan kita dari suatu penglihatan untuk melaksanakan verifikasi dari bentuk informasi yang merupakan rangkuman dari suatu cetusan kejadian, persepsi yang dikumandangkan oleh yang terlibat didalamnya, dan biasanya penuh dengan keterbatasan penglihatan. oleh kondisi emosional serta pengendalianya.

Pengaruh emosional inilah yang bagaimanapun akan berperan didalam kita melaksanakan persepsi yang berhubungan dengan suatu peristiwa kejadian dengan bentuk apapun. Apakah para pembaca tidak dapat merasakan hal ini pada diri masing-masing?

Didalam banyak hal kita akan selalu terumbang-ambing oleh kejadian-kejadian yang pada dasarnya merupakan konspirasi atau persekongkolan. Selama adanya manusia dibumi ini, persekongkolan merupakan hal kebudayaan yang dibuat oleh mereka yang ingin berkuasa penuh, layaknya menjadi Tuhan.

Dan akhirnya lupa juga, karena kekuasaan itu mempunyai ‘bisa kejahatan’ yang mempengaruhi cetusan pikiran dan akan selalu mepunyai bentuk perusakan dan bukan pembangunan atau destruksi dan bukan konstruksi. Manusia selalu akan mencoba dimana batas-batas kemampunanya. Tapi sering terjebak kedalam hadangan berbentuk masalah, karena tidak sejalan dengan cetusan pikiran yang sedang merasuk pada dirinya serta tujuan pen-Ciptaanya oleh Tuhan…..

Mampukah kita mewaspadai hal itu bila tidak mempunyai kesempurnaan dalam menggunakan kelengkapan indra-indra kita pada kedudukan subyektif? Pilihanya ada pada diri sendiri, demikian kenyataanya.

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America
Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :