Sering kita dihadapkan pada suatu keadaan, dimana tak seorang pun yang mengawasi kita. Didalam hal ini, kita merupakan seorang yang menentukan sendiri segala sesuatu yang menyangkut keputusan bertindak. Kita tidak ada satu orang pun yang diharapkan bisa memberikan arahan dan nasehat, bagaimana harus berbuat.
Bagaimanakah bila pembaca dihadapkan pada situasi seperti itu? Apakah kita bisa merasa nyaman dan mudah untuk melaksanakan keputusan untuk bertindak? Dan hal itu akan tergantung dari kondisi kecerahan untuk berpikir, bebas dari keadaan stres yang mana kita sendiri terkadang tidak dapat merasakanya.
Seorang yang tidak pernah mengenal akan kemampuanya yang hakiki, sudah pasti dapat diterka tindakan apa yang akan diadakan pada situasi seperti itu, bukan? Ada dua kemungkinan, yaitu melaksanakan pilihan tindakanya sendiri atau menunggu sampai dapat menemukan seorang yang bisa memberikan nasehat atau paling tidak dapat melaksanakan verifikasi dari apa yang sudah ingin diputus- serta tindak-kan.
Jangan hal ini dianggap ringan atau remeh. Penulis pernah mengalami peristiwa seperti itu, dimana tiada pertolongan sama sekali didalam situasi yang gawat serta memutuskan kemana kita akan pergi untuk menyelesaikan suatu masalah. Mungkin ada diantara pembaca yang pernah dihadapkan pada situasi seperti itu, dan juga melaksanakan tindakanya sesudah mengadakan keputusan didalam memilih bentuknya.
Disini dapat kita mempunyai pilihan didalam hal adanya suatu pengawasan tadi. Diawasi oleh seorang yang sudah kita kenal serta mempunyai kepercayaan terhadapnya dan yang satu lagi adalah, pengawasan oleh diri sendiri. Yang terakhir disebut ini, memang jarang didapatkan pada seseorang yang tidak pernah mempunyai pengetahuan kemampuan mengenai dirinya sendiri. Dalam arti kata, benar-benar mengetahui serta mengerti akan kemampuan-kemampuanya yang hakiki.
Biasanya pengetahuan itu akan timbul sesuai dengan umur serta pengaruh lingkungan yang dapat diandalkan. Bila tidak, maka kemana kita harus mendapatkan suatu bantuan pemikiran diluar diri kita sendiri? Pada saat masih kecil, sudah tentu akan berpedoman kepada apa yang dikatakan serta dinasehatkan oleh orang tua. Tapi, bila kita tidak terlalu dekat kepada mereka, maka kita akan tergantung dari nasehat orang lain didalam keluarga yang ada kemungkinan lebih dekat dan sejiwa dengan kita.
Selama berabad-abad, pengawasan setiap manusia berada pertama-tama pada kebijakan orang tua dan keluarga dekat. Bila itu tidak terdapat, maka kita akan berpaling diluar lingkungan itu. Tapi celakanya adalah, bahwa luar lingkungan tidak akan begitu tahu benar yang menyangkut bentuk serta sifat jiwa kita. Hal ini tidak dan belumlah menjadi kebiasaan umum.
Kita banyak mendengar pengakuan seorang yang mengatakan bahwa ia lebih dekat kepada seorang diluar keluarga, sepertinya saudara sepupu. Tapi didalam hal itu, karena hubungan kejiwaan dan fisik melalui kondisi darah, tidak merupakan hal yang bisa dikatakan mempunyai penentuan mutlak, maka sering kali manusia akan berbalik kepada orang yang mempunyai kepintaran subyektif.
Itupun pada suatu saat akan mengecewakan, dan akhirnya manusia akan tergantung dari kemampuan diri sendiri, bukan begitu? Tapi, didalam mengetahui kemampuanya itu ia harus sudah mempunyai yang dinamakan hubungan subyektif dengan dirinya untuk mengetahui dengan pasti, bahwa apapun yang timbul sebagai suatu keputusan akan dapat menghindarkan dirinya dari masalah yang sedang dihadapi, baik yang ringan maupun berta atau ‘crucial’.
Dengan lain kata, manusia tidak mungkin akan melepaskan dirinya dari suatu lingkungan dimana ia dibesarkan, dididik dan diawasi sepanjang masa. Dia akan selalu mengandalkan suatu gagasan yang datangnya dari lingkungan yang dikenalinya dan dimana dirinya merasa nyaman dan aman.
Meninggalkan lingkungan seperti itu, akan memberikan frustrasi besar yang berakibatkan timbulnya frustrasi dan akhirnya meningkat menjadi stres yang akan bisa berakibtkan suatu peristiwa fatal bila tidak ada pengawasan dari orang lain yang memperhatikanya.
Perhatian serta kepedulian kepada sesama kita merupakan hal biasa, bila kita sudah mampu mengatur kemampuan yang l e n g k a p pada diri kita. Dan bila hal itu terwujud bagi setiap penduduk dunia, maka alangkah bahagianya kita mempunyai tempat tinggal yang tanpa ada batas-batas yang dibuat oleh manusia sendiri berdasarkan kesukuan, kebudayaan, agama, kebiasaan dan lain-lain hal yang kini dimana pun menjadi sumber bentrokan karena tiada kepedulian serta pengertian kepada sesama kita.
Yang ketinggalan, wajib kita bantu dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk berkembang sesuai dengan tingkatanya. Kita tak dapat memaksakan sesuatu kepada yang tertinggal untuk langsung berada pada tingkatan sosial dimana kita berada, misalnya. Semua itu akan selalu melalui kematangan yang sudah ditentukan oleh Alam dimana kita berada dan tak terpisahkan yang menyangkut perkembangan kita sendiri dan lainnya.
Memaksakan suatu perkembangan karena kita tidak sabar menunggu saat kematangan akan menimbulkan berbagai bentuk masalah, yang terkadang kita sendiri sulit untuk menanggulanginya. Memupuk perhatian serta kepedulian sudah seharusnya ditrapkan sejak dini dengan suatu penjelasan yang nyata mengapa kita harus seperti itu.
Ini merupakan suatu pendidikan yang seimbang, dimana hal positif harus dapat mempunyai kelebihan daripada yang negatif, bukan? Karena bila tidak, maka keseimbangan yang diharapkan akan sirna kembali karena hal negatif bisa merebut kembali pengaruhnya dan tidak akan memberikan kenyamanan selain kecemasan serta kekhawatiran yang berkepanjangan.(Idh)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America