Dengan judul dan apa yang penulis ingin kemukakan disini, merupakan suatu peringatan serta nasehat bagi mereka yang sudah berada pada tingkatan ke-manajer-an serta juga tingkatan diatasnya, sebagai direktur dan CEO. Hal ini terutama bagi mereka yang secara a m b i s i u s mengejar tingkatan itu yang memberikan kesempatan mempunyai tingkatan sosial yang tinggi menurut angan-angan mereka yang biasanya didasarkan atas kepentingan diri sendiri.
Penulis, yang pernah menjadi penasehat dari beberapa perusahaan diluar dan didalam negeri, kenyataanya adalah, bahwa kebanyakan diantara para manajer belum mempunyai pengertian serta tindakan yang benar, apa itu artinya m e n g a s u h atau memanage bidang ini, serta melaksanakan gagasan serta tindakan yang memberikan dampak kenyamanan kerja bagi mereka dibawahnya.
Banyak yang suka menekankan kepada suatu t a r g e t yang telah diperhitungkan tanpa mengenal kondisi psikhologis serta ketrampilan dari bawahan, hanya meraba dan menganalisa. Hal seperti itu dapat dikategorikan sebagai suatu p e m a k s a a n yang bisa menimbulkan frustrasi dan akan berakumulisasi sebagai s t r e s pada yang berkepentingan.
Kita sendiri sebagai pimpinan, mau atau tidak akan mengandung s t r e s tersebut yang dipengaruhkan kepada bawahan, ini so pasti. Tapi didalam banyak peristiwa yang penulis investigasi, para dedongkot pimpinan tak dapat melepaskan diri dari pengaruh e m o s i yang negatif serta sulit di- k e n d a l i k a n. Tidak pernah diakui dan dirasakan hal itu. Dan mereka pun tidak memperhitungkan hal itu didalam kemunduran produksi kerja, yang toh sudah begitu pendek, hanya 4 jam dalam kurun waktu 12 jam bekerja. Bahwa akan terjadi kesalahan-kesalahan akan tentu dilemparkan kepada bawahan, bukan? Ini yang umum terjadi dimana pun, baik didalam bidang pemerintahan, maupun swasta.
Penulis sendiri, yang telah mempunyai pengalaman kerja selama 55 tahun lebih didalam bidang ini, baik didalam maupun diluar negeri, telah dapat mendeteksi adanya banyak perpindahan atau mutasi dalam jajaran pekerja bawahan disebabkan oleh adanya frustrasi dan stres tadi. Sekalipun yang sering berpindah itu termasuk mereka yang mampu bersabarkan diri, karena terkadang terpaksa mengikuti suasana didalam tempat kerjanya. Stres yang ada akan ditelanya, yang akan mengakibatkan tubuh menjadi sakit dan lain sebagainya. Sehatkah suasana seperti itu?
Ini juga mengingat umur mereka yang makin meningkat, sehingga untuk melamar ditempat lain sudah harus memulai dari permulaan, karena majikan baru harus dapat melihat produksi keterampilanya yang harus disesuaikan dengan tempat kerja yang baru.
Gejala seperti itu, ditambah lagi dengan kelayakan penghargaan yang belum ada standarisasi di negara kita, serta adanya s o c i a l s e c u r i t y bagi yang bekerja sebagai pelaksana dan ujung tombak dari organisasinya, maka setiap orang akan selalu dibebani dengan tekanan s t r e s yang disebut tadi.
Bahwa lalu tidak dapat diharapkan suatu produksi mental yang tinggi sudah jelas menjadi akibatnya, bukan begitu? Apa yang penulis kemukakan disini dapat mengungkapkan adanya banyak kesalahan-kesalahan yang timbul dari produktivitas yang terlalu rendah itu. Apa boleh buat kata kebanyakan diantara kita, dan terus saja akan berada pada kancah kesemrawutan kondisi produksi rendah tersebut. Bila ingin ada perbaikan, maka penulis anjurkan untuk merubah secara systematis cara serta bentuk cetusan pikiran kita yang hanya berpedoman pada kemampuan fungsi Otak bagian Kiri saja.
Hal ini harus diresapkan pada jiwa para pemimpin suatu organisasi baik yang berbentuk perusahaan, pemerintahan maupun yang privat. Penulis banyak mendengar ucapan seperti ini: “Ah, kita ini hidup didalam suasana yang dipengaruhkan oleh situasi kepemimpinan yang memang sulit dirubah sifat-sifat keserakahanya. Apa yang bisa kita perbuat untuk merubah kondisi seperti itu?”
Menyerah seperti ini tidak bakal bisa merubah suatu kondisi dan suasana, tapi pada hakekatnya ada system perubahan yang telah diselidiki dengan cermat selama 22 tahun dan sudah ditrapkan selama lebih dari 40 tahun dengan kenyataan, bahwa setiap individu bisa b e r u b a h dengan nyata melalui pengembangan sistematika yang dapat diperolah dari systemnya DR.Jose Silva, yaitu Psychorientology.
Masihkah kita meragukan hal itu, tanpa merasakan sendiri perubahan pada diri sendiri setelah dapat mengikuti kursusnya? Bagi mereka yang berharta bersih, masih mempunyai kekhawatiran untuk menunjang suatu Lembaga Penyelidikan, yang mana LIPI tidak mungkin berkembang tanpa systemnya Silva tersebut.(Idh)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America