Pembentukannya dapat dilaksanakan melalui pengaruh dari informasi yang dirangkum untuk tujuan tertentu bagi mereka yang memerlukan ‘ m a s s a ‘ didalam memperoleh suatu kedudukan dalam situasi apa saja. Hal seperti itu pada hakekatnya merupakan penyalah gunaan dari kepercayaan itu sendiri, dengan berusaha menutupi keadaan yang benar, artinya melaksanakan m a n i p u l a s i serta pemelintiran dari hal yang lurus yang adalah suatu pembenaran dari yang tidak benar.
Membentuk informasi untuk kepentingan kekuasaan sering kali digunakan didalam permainan p o l i t i k . Kita semua sudah mengetahui mengenai hal itu, dimana hal poliitik itu termasuk penggunaan cara apapun yang di h a l a l k a n atau sama dengan tidak halal. Hal itu tidak dipedulikan sama sekali, asal tercapai tujuanya. Pada hakekatnya menjadi terlibat dalam kancah politik, merupakan hal yang disebut M u n a f i k ! Tapi hal ini kini sudah dipandang tidak serius, siapapun bisa menjadi munafik, karena melintasi benang merah antara bentuk tindakan yang jujur - bohong, benar - tipu, baik - buruk dan lain sifat perangai manusia yang kita sudah mengetahuinya sehari-hari.
Itu sering dinamakan merupakan pencucian Otak, lebih dikenal dengan kata asingnya: B r a i n w a s h . Hal ini adalah sesuatu yang memberikan kita arah yang telah dirangkum serta dibuat sedemikian rupa, banyak dengan diatas namakan untuk kepentingan umum. Akhirnya akan terbuka juga arah dari tujuanya yang pada dasarnya bukan bagi kepentingan umum, tapi kepentingan kelompok, pribadi yang bersekongkol.
Penulis pernah mengupas yang menyangkut persekongkolan itu, yang tidak dapat dinyatakan dengan nuansa positif, karena tidak terbuka bagi umum, hanya mereka yang tergabung didalamnya.
“As from ancient time” atau sejak zaman purba, manusia tidak ada perubahan yang boleh dikatakan, mempunyai tabiat yang elegan, mempunyai pengertian luas terhadap segala sesuatu yang nampaknya terbatas.
Bila seperti itu tabiatnya, maka tidak akan terjadi banyak perusakan melalui bentuk saling baku hantam dan berakhir dengan perang. Memang merusak merupakan hal yang dapat terjadi dalam sekejap mata. Tapi membangun serta membangun kembali yang rusak, akan memakan waktu yang lama sekali.
Ingat saja bagi generasi tua yang masih memenangi perang Dunia ke I dan ke II, akan mengetahui bahwa waktu pembangunan kembali secara fisik diantara selesainya perang Dunia I pada tahun 1918 dan dimulai kembali perang Dunia II pada tahun 1939, hanya 21 tahun terjadilah pembangunan kembali. Tapi yang mana tidak ada perubahan telak didalam jiwa manusia. Disana-sini terjadi lagi peperangan yang dianggap kecil, tapi yang pasti makan korban dari tahun ketahun.
Belum beres semuanya, karena Mental pun harus dibangun kembali dari pembunuh menjadi orang beradab lagi, tidak akan bisa tuntas. Bayangkan para pembaca, waktu 21 tahun tidak cukup satu generasi yang memerlukan pembangun mental paling tidak 25 tahun.Bahwa manusia mencari alasan dengan menyatakan, bila tidak membunuh maka akan dibunuh, merupakan hal yang tidak wajar sebagai manusia yang sebenarnya mempunyai kesempurnaan, karena yang men- C i p t a k a n tidak dapat dipungkiri mengenai ke- S e m p u r n a a n - N y a itu!
Karena sesatnya penggunaan pikiran itulah, maka Tuhan telah memberikan kesempatan untuk me- r u b a h cara penggunaan Pusat Pikir, dengan penemuan suatu cara dalam melaksanakan perubahan tersebut. Dan kenyataanya adalah, bahwa yang menyangkut pembangunan M e n t a l , kini merupakan hal yang diutamakan, dimana sejak dahulu hal itu hanya terbuka bagi mereka yang mempunyai penganugerahan B a k a t , sehingga mampu mempunyai pengaruh pengobatan serta penglihatan diluar batas ruang dan waktu, dimana para ahli pengobatan fisik mengaku kewalahanya dari keterbatasan teknolgi pengobatan dan yang lainya.
Karena kita tak pernah terdidik yang menyangkut bagian lain dari kemampuan manusia, maka K e p e r c a y a a n akan selalu hanya dapat dipupuk, bila terdapat bukti-bukti I m p e r i s , bukan? Nah, disinilah kelemahan kita. Kita telah ter – B r a i n w a s h dengan teknologi yang canggih, sehingga akan selalu tergantung dari hal fisik tersebut? Kita masih sangat ragu terhadap kenyataan S u b y e k t i f, tapi toh selalu akan meminta bantuan dari yang mempunyai kecanggihan subyektif, bukan begitu kenyataanya?
Nah, disini kita harus mempunyai Daya K e p e r c a y a a n yang serius kepada suatu cara bagaimana mampu menggunakan B a g i a n L a i n dari Pusat Pikir atau Brain kita, seperti kita biasanya juga P e r c a y a kepada seorang ahli pengobatan obyektif.
Dengan demikian kita akan memang memasuki E R A baru didalam pengembangan manusia, yang pada hakekatnya sudah dilaksanakan oleh para leluhur didalam hal subyektif, tapi masih juga belum faham benar akan kemampuan yang hakiki. Itu dapat diketahui, karena ada pendekatan F i s i k yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan mental atau M i n d –nya, melalui bertapa, menganiaya tubuh sendiri, kungkum, tidur di kuburan dan lain sebagainya.
Mereka belum memahami bahwa segala sesuatu tergantung dari mental, yang dapat memberikan banyak kemudahan pada kondisi fisik fisik. Tapi karena demikian banyaknya kemanjaan fisik, maka kita diserang oleh kondisi S t r e s yang merupakan perusakan dari segalanya yang dibangun dengan susah payah, seperti menjaga K e s e h a t a n serta pelestarian proses didalam tubuh, tanpa harus percaya pada obat-obat-an. Masih mempunyai keraguan akan hal kepercayaan? Penulis harapkan kita semua dapat merubah diri.(Idh)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America