Untuk mendapatkan perasaan yang benar, cerah dan tanpa ada pemelintiran yang menyangkut arti kata H a l a l tersebut sudah tentu akan tergantung dari pengelolaan cetusan pikiran kita sendiri. Dan hal ini selalu akan mempunyai latar belakang yang tidak sama, berhubungan dengan persepsi, pengalaman, pendidikan dan penetrapan tanpa ada variasi serta improvisasinya.
Pada dasarnya, kita semua sudah akan mengerti apabila mendengar kata itu, yang menyangkut hal kebersihan dari suatu noda yang k o t o r . Makna yang terkandung didalamnya dan nuansa yang bisa mempengaruhinya menjadi tidak murni, sudah jelas mempunyai variasi yang seharusnya tidak diperbolehkan merusak kebersihanya, bukan?
Benang M e r a h yang seharusnya jelas dapat dilihat serta pelanggaranya, bila terjadi, tidak dapat ditangkap bila pandangan serta perasaan kita terserang oleh kondisi S t r e s . Disinilah penulis ingin menekankan lagi, bahwa kondisi itulah yang menjadi M u s u h didalam selimut, yang menyerang konstruksi cetusan serta pengelolaan pikiran kita yang menjadi tidak bisa murni sebagaimana semustinya.
Kebanyakan diantara kita memberikan sikap yang kurang mempunyai bobot yang menyangkut sesuatu yang halal atau tidak.
Apalagi pada suatu era yang dipenuhi dengan manipulasi serta konspirasi, kata yang dipandang lebih berbobot daripada persekongkolan. Nah, sekarang barulah kita bisa merasakan, bahwa segala sesuatu yang sudah terkena g e t a h dari lika-liku konspirasi korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak dapat dimasukan didalam kategori H a l a l, bukan?
Pada zaman penjajahan selama tiga ratus lima puluh tahun, hal yang baru dibentangkan itu, menjadi peran utama didalam suatu pemerintahan penjajahan yang diperankan oleh pendidikan ‘pamong praja’ pada zaman tersebut. Kita, generasi penerus terkena warisan getah tersebut, sekalipun si penjajah tidak lagi berada dilingkungan kita. Siapa yang menyangkal hal ini bukanlah seorang yang tahu pengaruh sejarah mental kepada kelanjutan performa para penerus.
Tidak perlulah mengambil contoh dari luar negara kita. Didalam hal ini, tigapuluh dua tahun penjajahan otoriter, dari kelompok konspirasi yang ingin memisahkan makna perjoangan dengan menjadikan suatu masa baru, yang dinamakan orde baru, semustinya kita sudah bisa lebih kelihatan serta merasakan kesejahteraan bersama yang diidamkan oleh kita semuanya setelah merdeka. Banyaklah janji-janji yang ditabur, yang ternyata k o s o n g belaka bagi kebanyakan rakyat penghuni bumi Indonesia ini.
Yang menjadi sejahtera, tapi penuh dengan permasalahan, yang dianggap merusak suasana, bila dikemukakan sebagai suatu peringatan, bahwa tindakanya sudah menyimpang, disumbat dengan cara-cara yang T i d a k H a l a l yang boleh dikatakan merupakan k o n s p i r a s i dari orde baru itu. Hal itu banyak telah melampaui batas kemanusiaan yang dianggap mempunyai peradaban yang tinggi hingga terkini. Hanya merupakan K a t a saja, lepas dari kenyataanya. Ingat lagu yang berjudul W o r d s ?
Jalan keluar dari situasi seperti itu bisa mengarah kepada tindakan konvensional, taitu melalui r e v o l u s i yang biasanya menyangkut tindakan fisik. Itu memang sudah termasuk cara k u n o . Kita kini sudah berteknologi canggih yang menyangkut hal fisik dan mental itu, tapi ternyata tidak mampu melaksanakan revolusi mentalnya. Apa sebabnya? Karena bila hal itu dilaksanakan, maka apa yang sudah dibangun secara fisik bisa hancur kembali, Hal inilah yang harus dihindarkan.
Zaman canggih kini telah juga menelorkan cara canggih untuk merubah yang bukan fisik, yaitu merubah dasar cara berfikir yang ter- b a t a s dengan cara yang L u a s , sehingga dapat dilaksanakan perbaikan-perbaikan telak didalam tindakan-tindakan yang dasarnya menjadi tidak k o t o r lagi.
Bukankah hal ini akan merupakan suatu solusi yang ampuh didalam kesemrawutan cetusan pikiran yang melanda suasana negara kita dari, kini, suatu belenggu penjajahan pikiran dari getah KKN yang makin lama akan diterima sebagai sesuatu yang H a l a l ???
Kelanjutan penyelesaianya ada pada diri kita masing-masing didalam menentukan suatu s i k a p disusul dengan tindakan yang sesuai dari perubahan M i n d atau A l a m P i k i r a n ! Demikian Kenyataanya.
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America