Sosbud
17-Jul-2007 16:53:32 WIB
MAGIC BRAIN
Para Pemimpin Kini Tidak Lagi Berkualitas Serta Punya Ideologi (I)



Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
 
Bila kini kita persamakan para pemimpin generasi penerus dan mereka yang mempunyai ideologi untuk menciptakan suatu bangsa merdeka yang juga bisa sejahtera, maka kemunduran pada mutu atau kualitas, kini kelihatan sangat menonjol.

Sejak terjadinya suatu ambil-alih kekuasaan memerintah yang  t i d a k  wajar, dimana naskah 11 Maret menjadi sorotan tajam dari masyarakat, dan dimana para pengambil alih saat itu tidak b e r a n i mengutarakan kenyataanya dengan  J u j u r .

Karena itu, terjadi banyak dugaan, bahwa didalam hal itu kita telah dikendalikan oleh pihak Amerika, maka transparansi tindakan-tindakan yang terjadi saat itu menjadi di- p e l i n t i r sedemikian rupa, sehingga jalan sejarah yang murni telah diperkosa. Itulah yang disebut  P o l i t i k , perlukah kita meniru politik-politikan seperti negara-negara manca negara? Adakah konsep politik khas Indonesia yang positif?

Bersyukurlah kita, bahwa kemudian ada orang-orang yang berani membongkar situasinya untuk meluruskan jalanya sejarah yang telah dibengkokan. Mereka yang melaksanakan hal itu bisa saja menghadapi konsekuensi untuk ditanggapi sebagai yang menghina suatu haluan pemerintahan. Hal ini sering kita jumpai pada negara-negara lain, yang mana para penguasa melaksanakan tindakan-tindakan yang tidak wajar, brutal (ingat Mahatir dengan Ibrahim???) didalam menumpas pendapat-pendapat yang seakan menyerang kewibawaan pemerintah.

Banyak pemerintah yang berkelit dan tak mau di- K o n t r o l. Mengapakah hal seperti itu yang akan toh selalu bisa terbongkar, sekalipun ada penjagaan untuk tidak bisa terbongkar, melalui cara konspirasi, dilaksanakan dengan ketat yang penulis telah ungkapkan pada naskah sebelum ini. Mengapakah hal yang negatif dan tidak wajar selalu dimiknati oleh mereka yang mempunyai kedudukan didalam kekuasaan?

Disinilah, para pembaca yang setia, terjadi suatu kelemahan didalam unsur  P e n d i d i k a n . Hal ini sangat rentan pada masa dini, dimana orang tua ternyata tidak mampu dan juga tidak serius menanggulangi pendidikan para anak remajanya, sehingga menjadi rentan terhadap pengaruh lingkungan diluar keluarga.

Terkadang, dan dalam banyak hal, kelihatan pendidikan tradisional orang tua yang tinggal didesa-desa, dan kurang berhubungan dengan pengaruh kota, para remaja yang diasuhnya, lebih banyak mempunyai sopan santun positif, sekalipun orang tuanya tidak mempunyai pendidikan intelektualitas yang mapan. Mereka antara lain, petani pekerja kasar dan tukang becak.

Tapi begitu terkena pengaruh kota, maka bila penanaman sopan santun tidak mendalam dan kuat, maka ditirulah kebrutalan orang kota, bukan begitu kita sering melihat? Penulis tidak memukul ratakan bahwa orang kota pun ada yang mengindahkan pendidikan sopan santun, tapi dibandingkan dengan yang dari desa, kelihatan kekuranganya didalam pendidkan itu.

Lihat saja, bagaimana pendidikan feodal telah meninggalkan sesuatu yang membedakan orang desa dari orang kota. Mengapakah banyak diantara kita tidak senang melihat pembantu duduk dikorsi sepadan dengan kita? Jujurlah para pembaca. Apalagi makan semeja dengan kita, bukan? Pembantu di manca negara, umumnya di Eropa, akan setaraf dengan kita, mereka makan bersama. Apa penyebab sebenarnya ? Pendidikan yang akan membedakan hal itu.

Itu tidak lain juga merupakan suatu  G e n g s i yang ingin dipertahankan didalam mempertahankan kedudukan tingkatan sosial. Kini kelihatan juga bahwa orang yang punya uang, akan merasa dirinya diatas yang tidak punya, buken demikian kenyataanya?

Kita harus ingat, bahwa waktu perjuangan, kita menyatu dengan rakyat, karena hanya melalui dukungan mereka, kita bisa mencapai cita-cita menjadi suatu negara yang diakui internasional. Kejiwaan pemimpin-pemimpin masa itu, tidak dapat diteruskan maknanya oleh para penerus, yang lalu menjadi kebablasan melaksanakan wewenangnya. Nasionalisme kini digeser ketepi, hanya sebagai simbol saja untuk dijadikan alasan pembenaran bagi langkah-langkah yang mengutamakan kebutuhan pribadi dengan kelompok masing-masing.

Menurut opini para pembaca, tepatkah hal itu? Didalam situasi ekonomi kini, dimana bagian besar masyarakat hidup dengan pas-pas-an, bahkan selalu kekurangan dan tidak layak, ada saja mereka yang ingin mempertontonkan kekayaan dengan rumah mewah, mobil (lebih dari satu) serta tindakan-tindakan yang menyakitkan hati yang tak punyai apa-apa, pantaskah hal itu dilaksanakan dalam masa ke p r i h a t i n a n masa kini? Jangan dusta, karena kita dipantau didalam segala tindakan kita oleh HTBA, ingat selalu akan hal itu.(akan disambung)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :