Sosbud
23-Jul-2007 15:13:23 WIB
MAGIC BRAIN
Para Pemimpin Kini Tidak Lagi Berkualitas Serta Punya Ideologi (II)



Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
 
Apakah para pemimpin NKRI yang kini, setelah mereka yang berprestasi membebaskan kita dari penjajahan, mempunyai kualitas yang sama? Mempunyai ideologi yang serupa, dengan hanya satu tujuan membentuk suatu negara yang sejahtera bagi semua penduduk, tanpa kecuali didalam urut duduk takdir kesosialan menurut ketentuan HTBA?

Bila diteliti serta di-investigasi dengan cermat, maka titik pertemuanya masih jauh ketinggalan. Apakah lembaga statistik pernah melaksanakan penyelidikan yang menyangkut kedudukan sosial materi setiap penduduk dengan dasar kewajaran yang  L a y a k ? Mungkin belum pernah, karena mereka sendiri, sang pegawai tidak berkecukupan didalam menerima nilai balasan atau gajih yang sepadan serta layak mempertahankan kehidupan materinya.

Apakah itu semua telah mendapatkan perhatian tuntas dari para pemimpin kini ? Apakah pikiran kita waktu ada issu, bahwa para anggota DPR mengajukan remunerasi atau gajih yang lima puluh juta, sedangkan banyak diantara mereka yang korupsi? Kita tidak memerlukan bukti-bukti nyata secara hitam dan putih. Karena sudah dapat diduga adanya kenyataan harta berupa rumah mewah, bukan satu, tapi beberapa, serta mobil-mobil mewah seperti BMW, Jaguar, Mercedes dan Volvo.

Banyak orang yang mempunyai bakat ke-para normalan, akan mudah mengetahui adanya asal usul dari harta seseorang, apakah itu wajar atau tidak didalam memperolehnya. Tapi mereka pun lalu disuap dengan sejumlah uang untuk menutupi tindakan-tindakan korup itu. Dan hal itu menurunkan martabat seseorang yang mempunyai bakat tersebut, sehingga nama paranormal menjadi tidak harum lagi. Sudah tentu mereka akan dipantau dengan seksama oleh adanya HTBA. Kita semua, tanpa kecuali, tak dapat menghindarkan diri dari pantauan tersebut yang lalu melaksanakan  t i m b a l – b a l i k n y a. Masih belumkah difahami benar Hukum itu ?

Diantara mereka yang dasarnya jujur di DPR, apakah tidak bisa berbuat sesuatu terhadap rekan-rekan yang demikian serakahnya? Jawaban dari itu semua adalah terjadinya kemunduran  M u t u  atau kualitas dari jiwa masing-masing, dan mengalah dengan pengaruhnya KKN yang kelihatanya sangat sulit untuk diberantas.

Salah seorang pemimpin dalam masa Bung Karno memimpin bangsa ini, adalah Bapak Suwiryo Sastromihardjo, yang saat itu menjadi Wali Kota Pertama Jakarta, sejak zaman akhir pemerintahan Jepang. Inilah cuplikan berta dari web Jakarta Tempo Doeloe didalam rangka pemilihan Gupernur baru:

***
Wali Kota Suwiryo Diculik NICA
Bulan Juni mendatang, warga Jakarta akan memilih gubernur baru menggantikan Sutiyoso. Untuk itu, tiap Sabtu kami secara berturut-turut akan menurunkan artikel para wali kota dan gubernur yang pernah memerintah Ibu Kota. Kita mulai dengan Wali Kota, Suwiryo (1945-1947) dan (1950-1951). Dalam foto tampak Suwiryo (berkacamata), berdiri di sebelah kiri Ibu Fatmawati. Mereka hadir di kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56, Jakarta, saat proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Proses Suwiryo, yang lahir 1903 menjabat sebagai wali kota dimulai pada Juli 1945 di masa pendudukan Jepang. Kala itu dia menjabat sebagai wakil wali kota Jakarta, sedangkan yang menjadi wali kota seorang pembesar Jepang. Pada 10 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki. Berita takluknya Jepang ini sengaja ditutup-tutupi. Tapi Suwiryo, dengan berani menanggung segala akibat menyampaikan kekalahan Jepang ini pada masyarakat Jakarta dalam suatu pertemuan. Hingga deman kemerdekaan melanda Ibu Kota, termasuk meminta Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamirkan kemerdekaan.

Ketika kedua pemimpin bangsa ini memproklamirkan kemerdekaan, Suwiryo-lah salah seorang yang bertanggung jawab atas terselenggaranya proklamasi di kediaman Bung Karno. Semula akan diselenggarakan di Lapangan Ikada (kini Monas) tapi karena balatentara Jepang masih gentayangan dengan senjata lengkap, dipilih di kediaman Bung Karno.

Suwiryo dari PNI pada 17 September 1945 bersama para pemuda ikut menggerakkan massa rakyat menghadiri rapat raksasa di lapangan Ikada (Monas) untuk mewujudkan tekad bangsa.

***

Penulis sendiri merupakan keponakan dekat beliau dan memberikan komentar pada tulisan diatas tersebut. Pada hari Minggu yang lalu telah diadakan pertemuan keluarga Pak Wir, begitu penulis memanggilnya secara akrab, atas diberikan Bintang Emas sebagai penghargaan postum atas jasa-jasa beliau, dimana salah satu keponakan juga, yaitu Pratikto Adi, yang mengikuti jejaknya, waktu Pak Wir menjadi Presdir dari Bank Industri Negara, kemudian dilebur menjadi Bank Pembangunan Indonesia dan akhirnya menjadi Bank komersial, dilebur pada Bank Mandiri.(akan dilanjutkan)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America
Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :