Menurut pantauan Pak Pratikto tersebut, sosok Pak Wir mempunyai wibawa yang tinggi, sekalipun tubuh beliau kecil dan ramping. Jadi disinilah kenyataanya, bahwa bukan pembawaan tubuh besar serta atletis, yang bisa mampu mempunyai wibawa serta kharisma yang besar.
Dengan Bank yang dipimpin oleh Pak Wir, maka telah diwujudkan pasal 33 itu, tanpa beliau sendiri memanfaatkan kekuasaanya sebagai Presdir tersebut. Yang meneruskan tidak melanjutkan gagasan pak Wir, bahkan yang memalukan adalah, bahwa suatu ketika beberapa Direktur dari Bank penerus masuk penjara. Setelah tidak lagi ada BIN dan Bapindo, masya’alah, apa yang terjadi didalam benak para pemimpin itu yang sebenarnya saja tidak layak dipercayai sebagai pemimpin pengelolaan uang negara.
Karena hal isi pasal 33 U.D.45 itu telah diusahakan dengan tidak jujur dan pada tempatnya, karena yang menikmatinya ternyata hanya kelompok mereka yang berkuasa dengan keluarga termasuk para kroninya, maka situasi kesejahteraan kini berjalan sangat p i n c a n g , bukankah begitu kenyataanya? Dan mereka yang sedang berusaha untuk mencari kebenaran selalu dipatahkan serta dihadang dengan silat lidah para pengacara yang sudah tentu mendapatkan bagian dari kekayaan koruptif tersebut. Bukti-bukti subyektif akan selalu jauh lebih jelas dan berharga, karena tak dapat dimanipulasi oleh Hukum buatan manusia yang mulai dibuat sejak zaman dulu dan memang tak pernah bisa sempurna.
Komentar yang penulis sajikan kepada web Jakarta Tempo doeloe adalah seperti ini:
*** KOMENTAR MENGENAI PAK WIR DI WEB JAKARTA TEMPO DOELOE.
Kebetulan sekali, Pak Wir (begitu saya memanggilnya) adalah pamanku yang menikah dengan adik dari Ayahanda Dyar, ibu Purnami Indijah, yang kini masih hidup, berumur hampir 89 tahun. Saya mengikuti keluarga ini sejak masih sekolah pada SekolahTinggi Kewartawanan, mulai dari tempat tinggal di Pengangsaan Barat, pindah ke Taman Surapati, rumah dinas Walikota Jakarta saat itu, lalu pindah lagi ke kini Jalan Suwiryo, mentok dengan Jalan Teuku Umar,dulu Jalan Palm, waktu beliau menjadi Wakil Perdana Menteri dalam kabinetnya Bapak Sukiman. Sejak mengikuti pak Wir, saya sekali waktu ketemu dengan Bapak Ir.DR.Soekarno, yang saya kagumi dan angkat topi dengan sepenuh hati, karena saya pun juga ikut mempertaruhkan jiwa dan raga memenuhi cita-cita bangsa kita, bebas dari penjajahan yang terlalu lama, yaitu 350 tahun.
Saya sendiri telah berumur 81 tahun kini. dan dapat banyak dukungan dari Pak Wir, baik lahiriah maupun mental. Beliau merupakan seorang yang bersahaja, tidak pernah punya mobil sendiri, semua adalah mobil dinas dan jauh dari tindakan KKN yang kini sedang merajalela.
Waktu beliau terkena serangan sakit Otak atau stroke, sehingga sempat dirawat di Jepang, sayapun melangkah keluar negeri, Eropa, dan Amerika, menuntut ilmu pengetahuan Komputer. Parapsikhologi dan Psikhorientologi serta bekerja selama 24 tahun lebih dan baru kembali ketanah air pada tahun 1983 membawa konsep pendidikan 'subyektif' yang belum dikenal ditanah air. Saya banyak mendapatkan pertentangan, tapi tetap mencoba mendidik mereka yang bersedia untuk mengikuti pelatihanya. Hingga kini telah terdapat hampir tujuh ribu alumni dari berbagai kalangan, seperti kedokteran, psikhologi, pebisnis, remaja mulai sekolah dasar hingga universitas, dosen, notaris, pengacara, para iburumah tangga dan lain sebagainya.
Tujuanya tidak lain untuk mengintegrasikan kemampuan sadar dan sub-sadar, dalam meningkatkan kemampuan mental manusia untuk merubah serta mengendalikan diri pada jalur kejujuran serta kepositifan.
Bila Pak Wir masih hidup kini, beliau akan pasti bangga dengan kemajuan keponakan-keponakanya yang mengikuti arahannya untuk tetap menjaga kejujuran serta mawas diri didalam kondisi dunia pada saat terkini.
Bila sempat mendapatkan Buku Mahakarya Indonesia Emas 2007, yang diterbitkan oleh Lembaga Pusat Profil dan Biografi tokoh berprestasi, silahkan mencari nama pengkomentar. ***
Janganlah kita diumbang-ambingkan oleh politik negara lain dan dunia. Kembalilah pada pengenalan diri sendiri. Bentuklah tokoh-tokoh genius pada generasi penerus yang nanti akan memegang tapuk pimpinan untuk masa mendatang. Janganlah dirusak dengan kebudayaan yang tidak sesuai dengan sifat kita bangsa Indonesia. Tingkatkan kehidupan bermasyarakat kita secara berkesinambungan dan aktif melalui suatu pendidikan baru, yaitu pendidikan Subyektif. (Tamat/Ijs)