Sosbud
7-Aug-2007 12:26:55 WIB
MAGIC BRAIN
Individu Yang Korupsi Berjiwa Negatif Serta Anti Agamis



Kalau kita mengamati sesama yang doyan korupsi tapi taat sembahyang, ke mesjid dan sok sosial untuk menutupi sumber tindakannya, apakah hal itu sesuai dengan pelajaran yang didengungkan dengan lantang didalam tempat sembahyang manapun?

Seakan kita itu tidak menaruh nilai lagi pada apa yang dibentangkan didalam buku-buku religi, yang juga dikatakan sakral itu? Kelihatan hanya sebagai ritual dan teori saja, tapi tidak perlu untuk difahami serta dipraktekan. Dengen demikian, maka ke- M u n a f i k a n berkembang dengan leluasa. 

Menurut penyelidikan akan adanya kontroversi antara kenyataan dan pelajaran agama, yang seharusnya menjadi pedoman untuk hidup tanpa noda, dalam banyak kasus selalu diabaikan. Sepertinya aturan hukum dan ketentuanya dibuat untuk di- l a n g g a r . Apakah memang begini nyatanya?

Penulis ketika berdiskusi mengenai aturan serta ketentuan yang dibentangkan didalam buku-buku agama, selalu dibantah dengan kata-kata seperti diungkapkan diatas. ABG sudah tidak percaya lagi kepada apa yang disebut religi. Sudah tentu hal itu tidak dapat disama-ratakan, karena diantara mereka juga ada yang mempunyai pendidikan M o r al  yang  T e g u h .

Bila hal itu berjalan terus, akan merusak sekali kepada moralitas serta etika yang seharusnya dipunyai oleh seorang yang terdidik dengan sempurna. Jadi, sebagai pendapat akhir, ternyata kelihatan  d e g r a d a s i  pada mutu kejiwaan generasi penerus.

Betapa tidak demikian, karena lingkunganya memberikan  c o n t o h  yang tidak sesuai dengan teori dan etika serta moral dari kenyataan tindakanya. Hal ini dianggap enteng oleh mereka yang menyatakan dirinya sudah makan garam kehidupan, banyak pengalaman yang selalu  menyimpang dari kenyataan menjadi seorang pendidik bangsa yang memberikan haluan   positif.

Kontroversi seperti itu tidak disadari benar dan diambil enteng saja, sehingga akibatnya akan juga dirasakan mereka sendiri bila berhubungan dengan anak muda, tapi sudah telanjur melewati batas kemampuan untuk memperbaikinya.

Upaya melaksanakan perbaikan, sekali lagi penulis tekankan disini, t i d a k  mungkin, bila difokuskan hanya pada kemampuan berfungsinya bagian objektif kita, tanpa berpaling pada bagian yang tidak pernah dikembangkan, dipercayai serta digunakan dan ditrapkan.

Percaya kepada sesuatu yang disuguhkan dengan negatif akan menarik, bila kondisi pengelolaan Otak kita bernuansa negatif pula. Tapi bila positif, maka sudah pasti akan ada penolakan dari system Otak itu sendiri, seperti tubuh kita yang menolak organ asing yang menggantikan organ aslinya, bukan begitu halnya?

Tapi, demi kebaikan kesehatan tubuh, maka didalam sains allopati diusahakan dengan cara yang tidak alami, untuk mencegah penolakan tadi. Didalam banyak kasus sudah tentu ada hasil dan ada yang tak berhasil, seperti halnya dengan hal pencurian, pembohongan dan penipuan, bukan? Mempertahan suatu hal yang negatif akan pasti mempunyai keterbatasan kelanggenganya.

Apakah hal ini tidak dapat difahami oleh mereka yang berbuat hal yang nuansanya negatif? Laksanakanlah penyelidikan sendiri, dan akan pasti bertemu dengan kenyataan dari hal yang benar dengan arti tanpa adanya usaha  p e m b e n a r a n.

Karena vibrasi atau getaran atmosfir sudah banyak terkontaminasi dengan pembenaran-pembenaran serta usaha penipuan, pembohongan untuk dijadikan hal yang benar dari sumber yang nyata benar berdasarkan naunsa positif, maka usaha apapun yang mengarah kepada yang diungkapkan tadi akan selalu mengalami kegagalan, karena pantauan dari HTBA yang menjaga keseimbangan dan kestabilan kehidupan pada planit bumi ini.

Penulis tahu, bahwa banyak yang enggan memberikan komentar terhadap apa yang disuguhkan ini, karena bila tidak mendalami hal kehidupan itu sendiri akan kelihatan pada ungkapanya betapa dangkal pengetahuanya tersebut.

Penulis mengungkapkan ini semua demi memberikan pengetahuan universal yang tidak terdapat pada pendidikan manapun sampai kepada pendidikan Universitas sekalipun baik itu dikatakan melalui tingkatan S1, S2, S3. Yang kurang disini adalah hal tingkatan  I n t e l i g e n s i a – nya, bukanya peran I n t e l e k t u a l. Pendidikan saat terkini hanya mengarahkan kepada suatu teori perhitungan serta analisa yang harus dihadapi dengan keterbatsan dari fungsi Otak bagian Kiri.

Dalamilah arti kehidupan itu sendiri dan mengapa kita di-Ciptakan pada bumi yang merupakan sesuatu yang mikroskopis didalam konteks galaksi.

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :