Sosbud
14-Aug-2007 14:07:33 WIB
MAGIC BRAIN
Mengenang Masa Berjuang 62 Tahun Lalu dan Menyatu dengan Rakyat



Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
 
Kenangan dan semangat yang ditimbulkan pada masa yang lalu, sangat berbeda dengan majunya bangsa kita kedalam masa membangun yang berjalan dengan penuh masalah yang menyangkut terutama pembangunan  M e n t a l yang jauh lebih rumit daripada pembangunan fisiknya.

Hal ini rupanya sampai saat terkini masih menjadi kendala didalam meratakan jalan menuju suatu negara yang bisa dikatakan makmur dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Jangan lupa, bahwa mereka para orang tua dari masa itu kebanyakan telah larut ditelan usia dan kematian.

Mereka banyak yang telah dilupakan dan tidak menerima penghargaan yang sepatutnya dengan memberikan kehidupan yang  L a y a k sesuai dengan jasanya berupa pengorbanan yang sampai detik ini belum juga selesai-selesai.

Mereka yang telah meningkatkan diri dalam hirarkhi kedudukan sosial melalui cara apapun yang kebanyakan T i d a k   H a l a l , adalah dari generasi kedua setelah itu yang kini rata-rata telah mencapai umur 65 pada tahun 1995. Menjelang 2008 mereka akan mencapai umur pukul rata 78 tahun, dimana produktivitas berfikir sudah tak dapat dikatakan  O p t i m a l  lagi.

Menurut penyelidikan seksama, maka satu generasi yang benar-benar matang, memerlukan masa penggemblengan mental dan fisik selama 25 tahun, dimana produktivitasnya sedang optimal selama masa 30 tahun mendatang.

Setelah itu akan menurun sesuai dengan kondisi kesehatanya, dimana unsur frustrasi dan stres merupakan hal yang seharusnya dikendalikan pada masa itu. Kini banyak yang sudah tak dapat menghindarkan diri serta mewaspadai kondisi stres tersebut, karena tidak ditanggapi dengan serius.

Berjoang bersama-sama yang mempunyai arti benar-benar  m e n y a t u  didalam tujuan serta pikiranya, merupakan unsur  u t a m a  untuk mencapai suatu keberhasilan yang  M e r a t a  ! Pada masa itu, selama kurang labih duapuluh tahun, angan-angan mencapai suatu negara yang benar-benar makmur dan sejahtera, sangat memerlukan penyatuan kembali dari tujuan dan pikiran yang pada mulanya terpusat pada membebaskan diri dari suatu penjajahan.

Hal itu sebenarnya jauh lebih sulit, karena merupakan pengorbanan  H a r t a ,   R a g a    dan  J i w a. Tapi ternyata rakyat secara  S p o n t a n  menyambutnya dengan perasaan  R e l a  berkorban selama masa tersebut. Tersediakah hal itu kini?

Setelah tercapai tahap pertama dengan kebebasan, maka tibalah saatnya untuk melaksanakan tahap perjoangan kedua, yaitu meniti dasar-dasar mecapai perbaikan serta memberikan nilai pada masa pengorbanan bagi rakyat yang telah berkorban.

Dalam masa tahap kedua ini, sangat diperlukan pemimpin yang  J u j u r serta mampu mengisi masa pembangunan ini dengan banyak malaksanakan introspeksi dari masa lalu tanpa mengadakan perubahan dari gagasan semula dari yang mendobrak suatu masa  M e r d e k a  yang telah dinodai dengan banyak hal-hal yang negatif untuk dapat dirubahnya.

Disinilah sangat diperlukan pemimpin yang mempunnyai  K h a r i s m a yang setingkat dengan yang pertama, untuk melanjutkan gagasan utamanya, yaitu membangun serta mengelola suatu NKRI yang sejahtera. Masa tahap kedua ini, dilalui dengan banyak penyimpangan dari azas tujuanya itu dan mengakibatkan terjadinya suatu bentuk masa yang penuh dengan nilai-nilai yang justru mengarah kepada perusakan mental, karena dibalut dengan kemakmuran yang  S e m u  serta  penindasanya bila terjadi penimbulan gagasan yang baik dan positif yang danggap melwan adanya ketenangan semu tersebut.

Hal ini telah banyak merusak mental lebih dari satu generasi dengan telak dan memperkecil kemungkinan bagi rakyat mendapatkan nilai yang seharusnya dapat diperoleh dan  memang menjadi  H a k n y a . Pengelolaan dilaksanakan tanpa mengindahkan hal  M o r a l i t a s ,  E t i k a  dan sifat sopan-santun yang merupakan sifat bangsa kita yang khas.

Dan hanya sebagaian  K e c i l   saya yang dapat menikmati apa artinya sejahtera, yang seharusnya meluas. Kini, dengan munculnya kasus-kasus korupsi, kita baru mulai meniti apa yang salah didalam melaksanakan pengelolaan negara yang begitu luas dengan penduduk kini mencapai lebih dari 225 juta jiwa.

Jalannya masih panjang, tapi bila generasi penerus mendapatkan pendidikan  S u b y e k t i f  sebagai dasar yang kokoh, maka jangka waktu itu dapat teratasi. Renungkanlah hal ini dengan seksama para pembaca. Jangan dianjang negara mau berumur 62 tahun, kita tidak ada pondasi yang  k o k o h  mengembalikan semangat joang 1945 pada proporsi yang benar dan yang diharapkan oleh generasi saat itu !

Dimanakah letak hilangnya semangat joang yang murni itu? Kita telah banyak tertipu oleh kemajuan teknologi  F i s i k  dan jurang mengarahkan perhatian kepada teknologi berpikir  S u b y e k t i f . karena hal ini dianggap tidak relevan. Kita semua telah terjebak oleh kemanjaan teknologi canggih, seakan komputer sudah segalanya dan akan mengatur pikiran kita.

Bukanya Mind over Matter, tapi justru kebalikanya, Matter over Mind !!! Waspadailah hal ini dan siap untuk merubah diri. Demikianlah kenyataanya.

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :