Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Namun, usaha itu tidak pernah mampu dengan telak, untuk menimbulkan perdamaian, harmoni dan keamanan antar bangsa didunia ini. Bangsa yang ditaklukan, sudah pasti tak dapat menerima kekalahan dan akan tetap berusaha untuk membalas kekalahan itu, yang tak lain merupakan usaha Balas - dendam .
Semua gagasan ditimbulkan oleh seseorang yang akhirnya dikagumi oleh yang mempercayai gagasan itu serta mendukungnya dan melibatkan yang lainya, dengan penuh semangat serta dedikasi. Sudah terjadi banyak pada masa lalu, tapi tak satupun yang akhirnya mampu menjadikan suatu gagasan U n i v e r s a l yang bisa dijadikan pedoman serta panutan untuk hidup ditunjang oleh gagasan tersebut.
Dari ungkapan sejarah kita sudah dapat mengetahui adanya gagasan kerajaan (monarkhi), kesosialan, kesama-rataan (komunis), kebebasan pendapat (demokrasi) serta banyak lagi gagasan-gagasan minor yang diikuti oleh banyak pengikut tanpa mempunyai kesadaran bahwa gagasan yang diikutinya itu suatu ketika dapat disalah gunakan bagi kepentingan suatu kelompok yang berkonspirasi serta menjajah mental.
Hal itu terjadi karena ketidak mampuan manusia untuk mempunyai pandangan yang diberikan oleh masa depan, tanpa harus tergantung dari analisa serta perhitungan informasi yang diperolehnya dari masa lampau.
Masih terlalu banyak diantara kita, yang belum dapat memahami, bahwa suatu informasi yang terjadi pada dimensi S u b y e k t i f merupakan hal yang bakal menjadi peristiwa pada masa mendatang. Apa yang kita tangkap pada masa yang sedang dialami, merupakan informasi dari peristiwa yang sudah terjadi dan baru dapat kita tangkap pada saat sedang waspada serta mengalaminya.
Dengan sendirinya, informasi itu telah menjadi masa lalu, bukan? Bahwa masa depan yang masih subyektif dan akan menjadi obyektif, memerlukan penangkapan dari seseorang yang mempunyai daya K e p e k a a n yang I n t u i t i f, seperti mereka yang terkenal didunia a.l. Nostradamus dan pada negara kita pangeran Djojobojo, yang menjadikan kita kagum akan kemampuan meramal masa depan tersebut, bukan?
Bagaimana sebenarnya mereka itu mendapatkan penangkapan dari peristiwa-peristiwa yang bakal mendatang tersebut? Getaran atau vibrasi yang terjadi didalam bilangan atmosfir, yang membatasi bumi, merupakan rangkuman dari angan-angan yang ditimbulkan melaui N u a n s a yang bisa Positif atau justru Negatif. Bila fokus ke-negatifan lebih besar dari yang Positif, maka yang negatif itulah yang akan terjadi.
Setelah diselidiki dengan cermat ramalan-ramalan itu, ternyata banyak sekali vibrasi negatif yang mempengaruhi yang positif yang berasal dari penimbunan daya I m a j i n a s i mereka yang berkhayalkan suatu peristiwa yang diinginkan.
Dan dengan serta merta , maka vibrasi yang akan menjadikan peristiwa tersebut akan terlaksana. Sebagai suatu konklusi, maka bila kebanyakan orang mengimajinasikan suatu kejadian peristiwa negatif, maka hal itu bakal terjadi didalam N u a n s a - nya.
Selama vibrasi itu bersangkutan dengan situasi pada atmosfir yang membatasi bumi dari kondisi diluar itu (universe atau jagad raya), maka pengaruhnya, baik negatif atau positif akan selalu berperan. Hal ini baru dapat ter – n e t r a l i s i r , bila ada pengaruh vibrasi dari L u a r konstelasi atmosfir yang masih murni positif, masuk dan dapat merubah suatu rangkuman negatif menjadi positif.
Dari penyelidikan DR.Jose Silva dan rekan-rekanya serta banyak cendekiawan lain yang melanjutkan penyelidikan itu atas dasar yang serupa, terdapat penyatuan serta kesamaan pikiran, bahwa apa yang terdapat pada jagad raya, merupakan vibrasi yang M e m b a n g u n atau K o n s t r u k t i f dan bukan sebaliknya, yang merupakan rangkuman vibrasi yang dapat mempengaruhi serta merubah pada bilangan atmosfir yang menyelubungi bumi !
Pengetahuan ini merupakan kenyataan, bahwa terlampau sedikit orang-orang yang mampu melaksanakan konsolidasi dan mampu menarik vibrasi universal kedalam atmosfir bumi. Menarikkah informasi ini, para pembaca? Usahakan diri menjadi sosok manusia yang mampu menarik vibrasi universal kedalam atmosfir didalam menyelesiakan banyak masalah yang berat yang sedang melanda atmosfir pada bumi ini dari mereka yang menimbulkan bermacam ragam gagasan yang seakan dapat memperbaiki situasi, tapi ternyata selalu menghadapi kegagalan, bukan demikiankah kenyataanya?
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America