Sosbud
26-Sep-2007 10:41:23 WIB
MAGIC BRAIN
Bagaimana Mengetahui Batas Halus Antara Nuansa Positif dan Negatif



Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar

Nuansa negatif dan positif memang ada batasnya, tapi sangat halus, bahkan bisa saling mempengaruhi. Didalam hal ini yang sering akan berperan adalah  E m o s i  yang biasanya tak terkendali dan mempunyai bentuk kebiasaan yang telah tertanam benar untuk saat yang lama sekali. Jadi dengan demikian , kita telah di – k e n d a l i k a n  oleh emosi tadi. Seharusnya adalah, bahwa kita melalui  e g o  atau  w i l l  , mampu melaksanakn pengendalian tersebut.

Tapi kenyataanya tidaklah demikian, karena banyak sekali contoh telah memberikan kenyataan akan rentanya kita terhadap berfungsinya emosi tersebut. Banyak sekali orang yang telah membaca artikel-artikel penulis menanyak akan hal apa saja yang diungkapakan didalam berbagai judul yang sedang disajikan.

Hal ini mempunyai tendensi akan perhatian mereka terhadap ingin mengetahui bagaimana merubah diri supaya tidak terlalu terkena pengaruh emosi yang tidak stabil tersebut. Mereka telah banyak mebaca buku-buku yang memberikan saran-saran cara melaksanakan perubahan diri, tapi yang ternyata tidak mempunyai suatu sistem yang sistematis yang diungkapakn oleh banyak cara melaui beraneka sistem, yang ujung pangkalnya mempunyai dasar dari pengalaman yang tidak mempunyai riwayat penyelidikan seksama seperti riset yang dilaksanakan oleh sains Psychorientology.

Oleh karena itu banyak organisasi perusahaan meluangkan waktu serta dana untuk melaksanakan  penyelidikan itu melalui suatu divisi yang dinamakan <research and development>. Mereka melaksanakan investasi yang tidak sedikit, bahkan sampai 60 prosen dari suatu keuntungan. Layakkah hal itu dilaksankan? Menurut pendapat penulis, yang juga pernah terlibat didalam bagian R & D suatu perusahaan besar internasional, sangat diperlukan demi kemajuan serta kesejahteraan mereka yang mengabdikan dirinya pada perusahaan tersebut.

Merasakan apa yang negatif dan apa yang positif berada pada posisi batas kesadaran bangun dan kesadaran yang telah diliputi oleh adanya kondisi masuk tidur. Mengapa lalu kita harus tidur atau istirahat tuntas untuk mendapatkan kesegaran kembali? Hal ini kini sudah diteliti dengan seksama dan tuntas, dengan kemudian ada pendapat yang signikfikan, bahwa manusia yang tidur mengeluarkan atau mempunyai gelombang-gelombang yang sangat diperlukan untuk menyegarkan diri kembali pada saat nanti akan bangun didalam melaksanakan aktivitas bailk fisik maupun mental..

Keinsyafan ini hendaknya diketahui serta difahami dan dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan kita, yang banyak hanya mengejar keuntungan demi kesejahteraan yang empunya beserta keluarga. Jadi tidak diutamakan kesejahteraan yang ikut mendukung jalanya dan kelanggengan perusahaan untuk bisa beroperasi dalam jangka waktu yang lama.

Tapi, bila didalam kondisi perusahaan banyak sekali terjadi hal yang negatif berkat bawahan atau pengawai yang terkena nuansa negatif, maka apakah lalu produktivitas yang sangat diperlukan bagi jalanya perusahaan dapat dijamin dengan telak? Penulis rasa, bahwa setiap CEO dan Direktur akan mengetahui hal ini, tapi belum mampu untuk melaksanakan cara-cara yang ideal bagi perusahaanya.

Mereka banyak yang menekankan kepada target dan ingin mempunyai orang-orang yang mampu mempunyai keterampilan tersebut, bukan dari banyaknya informasi yang dibelajarkan kepada mereka tapi tidak menyelidiki  kondisi  p s i k h o l o g i s – nya dari interkoneksi antar bawahan satu dengan lainya. Hal ini memerlukan suatu kepekaan intuitif yang efektif dari mereka yang membawahi orang didalam setiap bagian operasional suatu perusahaan.

Kemudian ada lagi satu hal yang patut diperhatikan, yaitu mempunyai seorang HRD yang mampu mendeteksi mereka yang sedang direkrut dengan mengetahui bakat-bakat mereka untuk ditempatkan pada bidang yang mana sesuai dengan bakat masing-masing dari yang direkrut tersebut. Para psikholog didalam hal ini, yang sering tidak mempunyai kepekaan intuitif itu, terjebak didalam memilih orang-orang yang tidak sesuai dengan bakat penempatanya. Yang diandalkan hanya psikho tes, yang sudah konvensional dan kita anggap  K u n o .

Disinilah letaknya kelemahan utama yang nantinya akan membawa akibat suatu  p e n g a n i a y a a n kepada mereka yang kurang mendapatkan tuntunan pada awalnya masuk kedalam perusahaan tersebut. Ada yang menyangkal hal ini dari para pembaca?

Perlunya deteksi awal, adalah demi menyelamatkan produktivitas serta kesuksesan perusaah didalam masa depanya, bukan? Merekrut mereka yang konotasi positifnya lebih tinggi dari yang negatif, kini memang masih sangat kurang, sehingga sering kali terjadi mutasi-mutasi didalam perusahaan yang sebenarnya  t i d a k    s e h a t .

Mengetahui jauh sebelumnya yang menyangkut <kualitas> sesorang akan banyakl membawakan manfaat bagi suatu perusahaan yang sudah tentu seharusnya dapat mengetahui benara <garis merah> antara yang nehatif dan positif, bukan demikian hendaknya?

Banyak kini terdapat cara-cara yang mendukung, yang dapat jelas merasakan perbedaan nyata antara kedua nuansa tersebut, tapi biasanya kurang dapat diletakan kepada proporsi yang benar.

Selidiki dan akuilah hal seperti ini dengan seksama dan hati nurani yang jujur, bebas dari provokasi-provokasi yang selalu akan membawakan pikiran yang bernuansa negatif.(Ijs)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America 


Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :