Sosbud
3-Oct-2007 10:55:02 WIB
MAGIC BRAIN
Mengapa Pendidikan Rohani Kini Terkesampingkan dari Jasmani



Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
 
Bila kita membicarakan yang dinamakan  p e n d i d i k a n, maka hal itu sepertinya tak akan pernah berhenti sepanjang kehidupan kita. Hal itu juga berarti menangkap segala bentuk informasi yang datang kepada kita melaui sumber-sumber dari dimensi obyektif maupun dari yang subyektif.

Arti yang luas adalah begini: Setiap saat, bila kita menerima informasi berbentuk apa saja, maka hal itu telah merupakan cara pendidikan yang nuansanya memberikan kita patokan untuk diikuti didalam menjalankan kehidupan, bukan?

Misalnya: waktu masih kecil, kita dididik oleh orang tua yang menyangkut cara-cara kebiasaan didalam menindakan cetusen pikiran kita. Lingkungan pun, yaitu keluarga dekat, akan memberikan peranya yang sedikit banyaknya akan diresap oleh seorang anak. Jadi semua informasi itu merupakan bentuk pendidikan yang akan memberikan suatu patokan pemikiran bagi yang dididik.

Didalam hal penerimaan patokan inilah, yang sedang dididik juga akan mempunyai bentuk pilihan yang didasarkan kepada bentuk  e m o s i yang terpengaruh oleh nuansa negatif ataupun positif. Beginilah kita untuk seterusnya menerima pendidikan itu. Emosi yang merupakan pondasi kemampuan serta kekuatan expressi didalam diri manusia, pada saat-saat tertentu sering kali tak terkendali, sehingga yang ditindakan sering tidak sesuai dengan suatu bentuk  n i a t  yang telah tercetuskan.  Disinilah letaknya kelemahan kita untuk dapat mengekang atau mengendalikan cetusan emosi tadi.

Sudah tentu para pembaca pernah mengalami adanya suatu cetusan niat yang tadinya dimaksudkan untuk berbuat positif. Tapi begitu pengaruh berbagai macam informasi yang merupakan bentuk provokasi melanda diri kita, maka niat tersebut langsung saja bisa berubah menjadi bentuk yang negatif.

Dan hal seperti ini tidak dapat begitu saja dirubah kembali, bila kita berada didalam suatu nuansa yang selalu memberikan pengaruh negatif. Disinilah kita mulai menerima suatu bentuk  p e m b i a s a a n  yang dapat melengket terus seumur hidup. Jadi, harus ada suatu cara tertentu, untuk mampu melaksanakan perubahan tersebut. Pembiasaan yang positif akan selalu menguntungkan daripada yang negatif, bukan?

Pikirkan saja hal kebiasaan merokok, meminum alkohol dan drug, obat tidur. Rangsangan marah dan lain hal yang merugikan serta segala rangsangan lainya yang memperngaruhi diri kita. Sepanjang hidup, kita akan selalu dihadapkan kepada pilihan untuk berbuat menurut rangsangan yang telah mempengaruhi diri kita atau berbuat yang kebalikanya.

Manusia yang tidak membiasakan diri atau belajar kemampuan  p e n g e n d a l i a n  dengan tuntas akan selalu rentan terhadap kelemahan-kelemahanya. Padahal manusia diCiptakan dengan sangat s e m p u r n a  !

Bila ada yang menyatakan, bahwa manusia itu selalu lemah, maka kekuranganya terletak pada  d i r i – nya sendiri dan bukan pada Sang Maha Pen-Cipta, bukan begitu kenyataanya?

Kita masih saja mempunyai kebiasaan mengandalkan yang bagian  F i s i k –nya dan bukan memfokus kepada  M i n d  atau mental. Hal ini seharusnya sudah difahami benar dan dibelajarkan kepada generasi penerus, yang akan menjadi manusia yang genius dan terkendali menentang serta menantang hal-hal yang berkonotasi negatif.

Pendidikan rokhani kini terpisahkan dari kenyataan fisik, karena kita akan selalu mengandalkan teknologi, yang memberikan manusia merasa menjadi sombong dan meyombongkan diri, dan meninggalkan hal  S p i r i t u a l !  Benarkah kita memang demikian dalam hal mendidik mereka yang memerlukan pendidikan seksama, sempurna dan tuntas?

Bila pendidikan kita akan mengutamakan kerokhanian atau spiritual, maka kita tidak perlu khawatir akan pemyelewengan-penyelewengan yang dilaksanakan oleh mereka yang pendidikan rokhaninya masih memberikan kebimbangan serta keraguan didalam memilih antara yang negatif dan yang positif, dan tidak akan pernah sampai kepada kesempurnaan yang memang sudah diberikan oleh Sang Khalik.

Ada yang menyatakan kepada penulis, bahwa sesekali boleh saja bohong untuk kebaikan. Hal ini misalnya, bila seorang yang menderita kanker tidak diberitahu terus terang yang menyangkut kondisinya. Kini para ahli kesehatan akan selalu berterus terang mengenai hal itu, sekalipun akan mengagetkan.

Memang kebenaran yang nyata akan selalu menyakitkan bila hal itu bernuansa negatif. Maka dari itulah, kita harus mengajarkan kebenaran yang telanjang, jangan diselubungi dengan kemasan yang nantinya toh akan terbuka lebar, bukan? Tapi harus mengetahui, bahwa menyatakan hal itu bisa menyakitkan orang yang tak bersedia menerima kebenaran. Demikianlah kenyataan-kenyataan dari kehidupan kita. Waspadailah..(Ijs)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America 

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :