Hal Hukum ini, oleh kalangan koruptor beserta antek dan pembela-pembelanya dijadikan ajang mencari unsur pembenaran guna dapat membebaskan para tersangka dari kenyataan tuduhan tersebut. Media Jawa Pos telah mengutip serta mengungkap keputusan PBB atau United Nations itu sebagai berita yang bagi mereka yang ingin melihat ke- a d i l a n menimbulkan kegemesan, bahwa dinegara kita, dimana suasana korupsi sudah mebudaya benar, kok masih juga terjadi kelolosan dari para tertuduh yang merupakan k a k a p, masih saja bisa berkelit didalam membebaskan diri dari noda tercemar tersebut.
Memang, suatu kebiasaan yang terjadi terus menerus, akan sulit dapat dirasakan sebagai sesuatu yang pada hakekatnya merusak akhlak. Dan bila akhlak sudah mulai rusak, apakah yang dapat diharapkan bahwa dasar keadilan suci akan dapat dilanggengkan. Kita sebagai orang yang masih mempunyai akhlak yang positif, lama kelamaan ada kemungkinan akan ternoda juga dengan konotasi seperti itu. Pada saat tertentu, bila ada peristiwa, dimana keterdesakan menjadi unsur utama, hal perusakan akhlak akan terjadi, tanpa disadari.
Kita sebenarnya boleh agak lega, bahwa pada tingkatan internasional ada kelompok individu yang masih mempunyai perasaan berakhlak sehat dan ingin memberantas hal korupsi. Dinegara kita, hal ini sudah menjadi seperti diterima sebagai suatu budaya, karena sistem pengaturan kesejahteraan negara masih didalam kondisi bersimpang siur.
Kelompok yang berduit, tidak akan mermpunyai akhlak untuk memperhatikan yang seharusnya dilaksanakan, yaitu untuk tidak terkena noda korupsi. Hal ini, kesemuanya merupakan bagaimana mendidik norma-norma yang wajar didalam mencapai kesejahteraan kepada mereka yang akan menyusul kita didalam mengatur negara nantinya.
Banyak yang bertanya, apakah lalu ada <jaminan> yang telak, bila hal budaya korupsi ini dilanjutkan, tanpa ada yang mampu menghadangnya? Dan siapakah yang berani menghadang hal itu, karena akan selalu terbentur kepada cara penyuapan yang sedang berkembang dengan sangat halus, tanpa mengenai kepada jiwa yag masih berakhlak bersih.
Bila demikian halnya, maka satu-satunya jalan adalah adanya suatu perombakan besar yang dapat mengakibatkan banyak pengorbanan. Ini sudah pernah terjadi dimana-mana dengan cara yang fisik, yaitu melaksanakan suatu re-volusi, seperti terjadi pada saat perang sistim atau idealisme.
Hal itu merupakan suatu bentuk yang k u n o dan tidak akan bisa ditanggapi sebagai sesuatu yang ber- a d a b. Jadi pertanyaanya adalah, bagaimana dan apa yang harus diperbuat untuk melaksanakan perubahan tanpa mengakibatkan korban fisik?
Karena terjadinya kekarasan merupakan sesuatu yang diakibatkan oleh tak adanya pengendalian emosi, maka satu-satunya cara yang <e l e g a n> adalah untuk merubah watak melalui pendekatan mental. Tapi bukan cara yang lama, yang selalu mengandalkan pendekatan v e r b a l . Hal ini masih termasuk hal fisik obyektif.
Cara yang paling jitu adalah, melaksanakan perombakan mental dengan mengembangkan kemampuan s u b – s a d a r serta mengendalikanya, sehingga tak akan bisa lagi terpengaruh oleh nuansa dan konotasi negatif. Disinilah juga akan terjadi rasa keadilan yang jauh lebih besar dan memberikan kasih sayang kepada sesama kita yang kurang berkesempatan dalam kesejahteraan.
Kita sebagai manusia Ciptaan Sang Khalik,tidak akan mungkin menghilangkan <hirarkhi> atau urut duduknya tingkatan T a k d i r, karena hal ini ada pada Hukum Alamnya. Bila sistim seperti ini, yang mengutamakan pendidikan sub-sadar dapat diperluas dimana-mana serta pada tingakatan apapun, maka kita akan mendapatkan j a m i n a n bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan benar dan akan langgeng untuk seterusnya. Masalah apapun tak akan terjadi lagi, karena setiap orang mempunyai kepekaan intuitif, yang langsung dapat men-deteksi adanya penyimpangan serta melaksanakan pengaruh positifnya secara tindakan <non-fisik>! Demikianlah seharusnya.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America