Tapi hanya berlindung pada makna kisah tersebut, tidak dapat membebaskan seorang dari tuntutan HTBA, bukan? Didalam hal ini, seorang manusia dengan segala kerterbatasanya, mau berkelit bagaimanapun, tidak akan dapat menipu diri sendiri ataupun aturan serta ketentuan Hukum Alam tersebut. Seorang yang sudah tak dapat merasakan bahwa tindakanya itu serupa dengan penipuan ataupun kebohongan, merupakan seorang yang sudah <b e j a t> didalam konstruksi kebenarannya.
Waktu kita masih kecil, banyak sekali menerima contoh-contoh yang membawakan kepada penerimaan kenyataan apakah itu yang bernuansa negatif maupun positif. Disinilah kita mendapatkan bentuk pendidikan sifat, bukan teori seperti pada pendidikan diluar keluarga. Bila suatu keluarga sudah terbiasa dengan cara-cara yang oleh Hukum Alam tidak ada peluangnya, maka perusakan A k h l a k akan terus saja berlangsung sampai kepada puncaknya.
Didalam hal ini terjadi suatu gejala yang tidak ada kendali sama sekali dan akan menjadi suatu kebiasaan yang akan diartikan sebagai sesuatu yang benar. Tapi justru dengan demikian, maka kita akan lebih terjerumus didalam kancah kenistaan yang hanya dapat diukur dengan Hukum Alam tersebut, dan yang memang <diatas> segalanya dari ilmu pengetahuan manusia.
Manusia jail dan nakal akan selalu mencari jalan untuk menghindar dari Hukum Alam tersebut, tapi kenyataanya adalah selalu akan terbentur. Itu seperti halnya melawan Maha PenCipta. Dengan sendirinya kita akan terus dikejar dengan masalah yang akan makin banyak dan akhirnya kta akan bertobat, memohon penghapusan dari tindakan-tindakan yang serong. Pengetahuan seperti itu, memang kurang dipelajari secara mendalam, karena kita di tanah air, tidak mempunyai suatu Lembaga Riset yang khusus untuk bidang seperti itu. Dan kenyataanya adalah, bahwa kita tak dapat m e n g h a p u s begitu saja suatu pengelolaan yang telah direkam kedalam s u b – s a d a r.
Kapankah di suatu Universitas kita akan ada fakultas yang akan melaksanakan penyelidikan yang menyangkut efek dari tingkah laku manusia secara M e n t a l atau M i n d. Sekalipun kita dikatakan mempunyai banyak orang yang berkecimpung didalam bidang yang menyangkut kemampuan Mind, bila tidak diikuti melalui suatu penyelidikan Ilmiah atau R i s e t, maka sudah pasti tidak akan ada ditemukan hasil yang O p t i m a l dari kemampuan makhluk manusia yang di-Ciptakan dengan S e m p u r n a oleh yang <Maha Sempurna>, bukan demikian kenyataan-NYA?
Marilah membuka mental serta pemikiran kita akan hal yang N y a t a ini, tapi tidak pernah diikuti dengan perhatian yang seksama, sehingga lepas dari pemfokusan yang menyangkut bidang yang maha penting didalam melanjutkan kehidupan pada bumi ini atas A n u g e r a h – NYA. Mereka yang mencari kebenaran seharusnya mempunyai kemampuan total akan bidang ini, karena bila tidak, akan menemukan kesulitan didalam mengatasi kekurang pahaman mengenai hal tersebut.
Sekali lagi diperingatkan, bahwa segala sesuatu yang menjadi penemuan teknologis, tapi tidak diikut sertakan dengan pengendalian unsur S u b y e k t i f yang menyangkut bidang <spiritual> manusia, maka akan selalu menyimpang dari tujuan yang sebenarnya, dimana unsur kesejahteraan U m u m mempumnyai kedudukan yang maha penting, karena setiap penemuan akan selalu menyangkut hal kesejahteraan manusia dan kemanusiaanya, bukan?
Batasan kemanusiaan terletak pada pemahaman, bahwa apapun yang berkonotasi melaksanakan P e n g a n i a y a a n terhadap sesama akan selalu menimbulkan M a s a l a h. Pemahaman ini sudah harus dididikkan kepada anak didik kita dengan suatu percontohan yang nyata dan bukan T e o r i serta kebenaran yang <semu>. Banyak teori yang bagus dan memberikan kekaguman, tapi bukan merupakan suatu demo yang kita dapat tangkap dari orang lain yang akan memberikan suatu kepercayaan tuntas. Kenyataan yang dapat dirasakan pada diri sendiri itulah yang jauh lebih mantap dan akan menjadi pondasi kokoh dari kelanjutan untuk meningkatkan diri. Pengalaman orang lain, sekalipun mengagumkan, tidak akan dapat meresap dengan optimal didalam penangkapan <Neuron> atau sel Otak kita.
Tapi pengalaman yang dialami oleh diri sendiri akan selalu merupakan bahan unsur pemberian kepercayaan atau suatu <believing performance> yang akan tidak mudah diumbang-ambingkan oleh bentuk provokasi apapun yang dapat melanda diri kita pada saat-saat yang mendadak atau yang tak terduga sama sekali dan juga meresap tanpa disadari.
Efek dari pengalaman akan selalu melekat pada diri kita untuk jangka waktu yang tak terduga lamanya. Dan hal ini akan terjadi bila nuansanya negatif ataupun positif. Kini pada kitalah yang mampu menentukan mengikuti hal yang bernaunsa negatif atau sebaliknya. E g o kitalah yang selalu sangat menentukan didalam melaksanakan suatu k e p u t u s a n !
Celakanya bahwa disini akan berperan berapa banyak pengelolaan negatif ataupun positif yang menonjol didalam alam sub-sadar kita. Bila yang negatif menonjol, maka tidak dapat diharapkan akan segera bisa berbalik menjadi positif, itu bukan cara Otak kita bekerja. Dan yang paling berperan didalam hal ini adalah sang koordimnator atau thalamus yang mengatur segalanya melalui <System Jaringan Aktivasi>, yaitu segala bentuk persyarafan serta yang bersangkutan dengan fenomena bidang Kimiawi tubuh kita.
Demikian yang seharusnya sudah diketahui dengan telak oleh kita semuanya, tanpa kecuali melalui tingkatan pengembangan serta pendidikannya.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America