Sosbud
19-Nov-2007 10:33:51 WIB
MAGIC BRAIN
Pembelajaran dari Sri Sultan Hamengku Boewono ke X



Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar

Penulis pada suatu siang, 04 Nopember 2007, telah mengikuti suatu tayangan di salah satu stasiun TV swasta, dimana hadir dalam forum yang cukup besar, Sri Sultan Hamengku Boewono ke X. Dalam tanya-jawab yang merupakan keinginan tahu pewawancara apakah penyebabnya beliau tidak ingin lagi dipilih menjadi Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta, terungkap suatu ketegasan dari Sri Sultan yang menyangkut hal kondisi NKRI saat terkini.

Penulis dapat mengerti benar dan juga sependapat dengan hal yang diucapkan dengan tegas oleh beliau, yang memberikan gambaran, bagaimana ruwetnya kondisi negara kita pada khususnya didalam alam <Globalisasi>. Hamengku Boewono ke X, oleh pewawancara bahkan dikatakan bisa menjadi presiden kemudian, lepas dari kenyataan menjadi keturunan kerajaan Jogja zaman dahulu.

Disinilah kenyataan suatu pendidikan  M o r a l  dan  E t i k  yang tinggi, yang mencerminkan suatu pimpinan keturunan kerajaan. Mengharapkan serta berusaha keras adanya perubahan yang telak yang menyangkut kesejahteraan rakyat dan tidak terbatas pada wilayahnya.

Beliau mempunyai pengetahuan yang cukup luas dan kelihatan, seperti ayahandanya Hamengku Boewono ke IX, adanya pengaruh kespiritualan yang cukup tinggi. Hal ini seharusnya dapat dipunyai oleh setiap pemimpin yang bermaksud membawakan kesejahteraan pada rakyat yang dipimpinnya. Terpencar juga adanya kewibawaan yang dapat dirasakan oleh mereka yang berada didalam forum itu.

Tentu saja akan ada pendapat-pendapat yang dipengaruhi oleh sifat-sifat dengan nuansa negatif. Misalnya saja, bahwa secara halus beliau mengemukakan ingin jadi presiden…..<bila rakyat menghendakinya>. Sifat pendapat seperti itu, tidak lain karena pengaruh lingkungan yang sudah <amburadul> dengan adanya tindakan kriminal sepanjang ini dari para pemimpin serta antek-anteknya, yang menamakan dirinya <orde baru>. Rupanya memang  b a r u , artinya didalam <mem-brain wash> para pelaku pemerintahan kearah yang bernuansa  <negatif> berat daripada yang <positif>.

Kondisi dunia kini, dengan adanya pertumbuhan penduduk yang makin banyak, karena banyak lelaki tidak menyadari tindakan sex yang akan mengakibatkan pertumbuhan yang seharusnya dapat diatur sedemikian rupa supaya tidak melampaui batas kewajaran, didalam arti kata, dapat mengatur nafsu birahinya dengan cara pendidikan sex yang dianggap  t a b u , dengan antara lain menggunakan alat anti kehamilan.

Hal ini masih dianggap sebagai hal yang mencegah dan mengurangi kenikmatan didalam hal sex tersebut.Tak jeranya pula melawan HTBA didalam hal melaksanakan penganiayaan pada isteri, anak dan keluarga dengan perselingkuhan. Inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya peluapan kelahiran manusia, yang terjadi karena suatu tindakan tanpa dikendalikan serta dipikir panjang efeknya pada lingkungan, bukan?

Hidup kebanyakan diantara kita kini hanya merasakan sesuatu pada saat terkini dan kurang mengarah pada perbaikan masa depannya. Misalnya saja, membeli barang yang seakan diperlukan, padahal dalam waktu singkat tidak dipakai atau diperhatikan lagi, sehingga karena terlalu bertumpuk menjadi <mubasir>.

Banyak pengumpulan benda dan barang dikelola melalui suatu keinginan yang tak terkendali, hanya nafsu sesaat untuk membelinya. Sebaliknya, para produsen melaksanakan produksi sebanyak mungkin, yang dikatakan memberikan pekerjaan pada sekelompok manusia yang membutuhkan pekerjaan. Kurang waspada terhadap efek terjadinya barang dan benda yang tak terjual, karena tak terjangkau kemampuan membeli.

Tapi bila diselidiki dengan benar dan seksama, maka banyak yang bekerja juga tidak terpenuhi keinginan mereka untuk bisa mempunyai kehidupan yang < l a y a k > sebagai manusia yang normal, serta sesuai dengan <penghargaan> menurut tingkatan umur, kepintaran, keterampilan serta kondisi kesehatan <mental> dan perilaku diri. Hal ini merupakan pemikiran <serius> bagi para pemimpin baik secara nasional maupun internasional.

Perputaran penggunaan sesuatu yang fisik, tetapi dibebani dengan mental yang <sehat> dapat memberikan kemudahan didalam melaksanakan kehidupan, dari hari ke hari dipacu oleh rangsangan yang merupakan arah kepada menghilangkan keserakahan yang bila sudah menjadi suatu kebiasaan, tak terbendungkan lagi.

Tanyangan-tayangan oleh berbagai TV luar yang memperlihatkan  <the cream of the world society>, akan memberikan rangsangan kepada sifat keserakahan untuk berusaha kearah itu, tapi yang kebanyakan tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dimana berada. Misalnya yang terjadi dengan adanya suatu Hotel berbentuk kapal layar di Dubai yang hanya bagi mereka yang mampu membayar fasilitas di Hotel itu dengan jumlah uang 28.000,-- USDollar semalamnya. Dapatkah para pembaca membayangkan, betapa kesombongan dari seorang manusia yang mempunyai niat untuk membangun Hotel seperti itu?

Banyak kini terjadi kontras yang makin lama tidak memberikan contoh pendidikan yang benar kepada <generasi penerus>, bukan? Kesombongan yang mentah-mentah banyak uangnya dan dihamburkan seperti itu, tidak memperlihatikan suatu kewibawaan serta kebijaksanaan untuk menuntaskan kesenjangan kesejahteraan didunia ini.

Sepertinya budaya ekonomi kapitalis kini akan menjadi  p e n j a j a h a n   m e n t a l   bagi masyrakat pada umumnya dan akan banyak memberikan rangsangan untuk berbuat kriminal, memenuhi nafsu keserakahan yang sulit untuk dikendalikan.  Betapa makin besarnya kontras didalam <urut duduknya takdir> yang wajar, yang dapat memicu sifat-sifat yang negatif serta meninggalkan azas  L u h u r  dari  Ciptaan Sang Khalik.

Dan bila hal ini terus menerus terpelihara tanpa suatu  keseimbangan yang tuntas yang menyangkut  k e a d I l a n , maka sekali lagi, kriminalitas akan mempunyai lahan yang  s u b u r  didunia ini. Pengontrolan dari sifat-sifat yang negatif serta mendominasikan sifat-sifat yang positif, akan merubah bentuk dunia yang hingga kini masih berbentuk seperti muka yang kasar dan banyak dirusak ibarat jalan tol yang penuh lobang-lobang.

Kita dapat berusaha untuk membentuk dunia itu ibarat jalan tol yang rata tanpa adanya lobang-lobang tadi, menuju kepada kesejahteraan sesuai dengan <urut duduknya takdir> yang memang di-Ingin-kan oleh Maha Pen-Cipta Alam Semesta dengan penghuninya, manusia ini. Pada  J a g a d   R a y a  memang ada  <urut duduk ketakdiran> tersebut, kalau para pembaca sempat melaksanakan penyelidikan mendalam yang menyangkut hal tersebut.

Mampukah kita merubah dunia menjadi penuh dengan kedamaian, keharmonisan serta keamanan yang konon banyak diidamkan selama ini? Berusahalah dimulai dengan <diri sendir> masing-masing melalui perilaku yang <moralistis> dengan etika yang sempurna. Demikianlah hendaknya.(Ijs)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :