Didalam meninjau suatu himpunan kekuatan, baik yang obyektif maupun yang subyektif ada solusi yang sebenarnya ampuh, tapi sering diabaikan karena adanya jarak pendapat yang sering kali menjadi hambatan dan yang akhirnya menimbulkan satronan antara yang punyai dana dan yang memerlukan dana.
Banyak contoh terdapat disekeliling kita, bahwa seseorang yang berlimpah dana, yang didapatnya melalui usaha payah ataupun mudah, positif atau negatif, memberikan rasa berkuasa yang tidak sewajarnya dipertontonkan terhadap mereka yang punyai banyak gagasan baru, tapi selalu terbentur pada dana yang dapat mendukungnya untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Disini pun akan dapat menimbulkan suatu rasa <sombong> pada diri seseorang yang punya dana besar, bahwa adanya dana itu merupakan usaha diri sendiri, tanpa adanya kesadaran, bahwa untuk mendapatkanya akan selalu tergantung dari orang-orang sekelilingnya yang dipergunakan, sengaja atau tidak, didalam pengumpulanya itu.
Mereka suka tidak menyadari, bahwa sebagai manusia kita tak dapat hidup sendiri, tanpa ikut campurnya manusia-manusia lain disekelilingnya, baik yang dekat maupun yang tidak dekat. Apalagi, bila mempunyai perasaan, bahwa dengan kekayaanya itu bisa melaksanakan hal apapun dengan suatu pengetahuan, bahwa orang yang tak berduit akan selalu mau melaksanakan kehendaknya dan <harus> berterima kasih karena telah ditolongnya.
Sifat seperti itu tak dapat dihilangkan dari diri seseorang yang berlimpah kekayaanya. Ia merasa akan selalu mampu menimbulkan gagasan untuk memperbanyak kondisi dananya tersebut atas dasar perasaan, bahwa yang kaya sudah merupakan haknya diatas yang tidak kaya.
Apakah pembaca setuju dengan sifat seperti itu? Terkadang kitapun kurang menyadari kelakuan kita terhadap seorang pembantu, baik dengan sengaja maupun tidak , maupun yang diantara lingkingan sendiri. Kita melaksanakan tindakan seakan harus dilayani terus menerus, tanpa batas waktu, karena kita telah mampu memberikan kehidupan kepada mereka dan meminta balasan yang banyak tidak wajarnya, bukan? Contohnya majikan TKW diluar negeri dan dikalangan kita sendiri.
Bentuk dari perangkat kesosialan dimasyarakat kita masih merupakan pembangunan yang memakan waktu panjang. Hal ini karena kesadaran mengangkat derajat sesama yang berada didalam tingkatan sosial yang sangat rendah, masih belum menjadi sifat yang U m u m . Hal ini juga terjadi dinegara-negara berkembang lainya. Hanya saja systemnya lebih transparan, antara lain, bila tanpa kerja, dapat sokongan dari pemerintahnya supaya masih bisa melangsungkan hidup dengan layak.
Tetapi bila kesadaran untuk memperhatikan sekelilingnya didalam mengangkat kedudukan sosial sudah berkembang dengan positif secara luas dan umum, maka kondisi negara dengan sendirinya akan berkembang dengan baik dan sejahtera.
Disini juga selalu timbul pendapat, bahwa yang berkuasa, dengan dalih apapun, akan mempunyai gagasan yang paling tepat dan bisa menyelesaikan masalah apapun. Tetapi pada kenyataanya, sering kali lebih banyak menimbulkan masalah daripada yang dapat diselesaikan. Mereka yang kaya, tidak bakal mau menerima gagasan-gagasan yang ditimbulkan oleh mereka yang dibawah kedudukan sosialnya, bukankah demikian kenyataanya, para pembaca?
Seorang yang mempunyai kedudukan sosial yang masih dihimpit oleh kondisi kekurangan, akan selalu mampu menimbulkan gagasan yang cerah yang dapat diwujudkan bila mendapatkan perhatian dari mereka yang kedudukan sosialnya diatas mereka.
Hal seperti itu yang membawakan ideologi baru bisa berjalan dengan baik, bila didukung oleh suatu pengertian yang luas serta akseptasi dari yang berdana dengan suatu <profile> yang wajar dan rendah hati. Tanpa kondisi seperti itu, tidak akan ada penyesuaian yang akhirnya akan mampu mewujudkan kondisi kesejahteraan bersama menuruti <urut duduk Takdir> yang sudah ditentukan didalam keteraturan dan ketentuan Hukum Timbal-Balik Alam.
Bila manusia pada umumnya bisa menaati serta merasa menyatu dengan Hukum tersebut, maka bentuk dunia dan dinegara kita pada khususnya akan menjadi wajar dan tidak menimbulkan kepincangan disana-sini yang menyangkut kesejahteraan. Klimaks perbedaan itu, suatu ketika akan terwujud secara keras ataupun lunak tergantung dari kesadaran kita masing-masing didalam mewujudkan kerja sama yang positif antara yang berdana dan yang tidak berdana, tapi mempunyai gagasan yang cerah.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America