Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Yang mulai memahami kemudian ternyata juga merasakan keampuhan dari Hukum daya Tarik-menarik tersebut dan dimana pengendalian Emosi masih kendor, maka kelakuanya menjadi seperti para pendahulu.
Merasa berKuasa terhadap sesama kita, memang masih merupakan hal yang menggelitik dengan kuatnya didalam sanubari. Energi itu menggetarkan emosi tadi dan bila tidak dapat mempunyai cara pengendaliannya, maka hasilnya akan selalu menuju kepada hal-hal yang mempunyai konotasi negatif!
Menelusuri sejarah manusia serta penggunaan hal Kerahasiaan Hiup inilah yang sejak masa purbakala memusatkan kekuasaan pada kelompok-kelompok yang gagasan emosinya justru selalu condong kepada tujuan pelaksanaan penganiayaan kepada kebebasan berfikir oleh sesamanya. Bukankah demikian telah terjadi dari masa ke masa, para pembaca? Yang tidak setuju dan sesuai dengan gagasan yang dicetuskan itu, akan dimusnahkan bila diperlukan.
Seakan dengan memusnahkan suatu pemahaman itu, kekuasaan akan menjadi langgeng bagi seseorang. Kehendak Tuhan bukanlah seperti itu, dan terjadilah cetusan-cetusan gagasan yang Positif yang akan melawan hal yang <negatif>. Sebab, dipandang dari sudut pendapat manapun, <Positif> itulah yang jauh lebih mampu dan berkuasa dari unsur negatif tadi.
Tetapi, mengapakah hal itu hingga saat terkini masih saja belum meluas didalam pengaruhnya? Penjelasan didalam hal ini ialah, bahwa kebanyakan diantara manusia belum menyadari akan hal fungsinya <Otak Bagian Kanan>, yang <tanpa> suatu analisa, kalkulasi serta mencari penyamaan, selalu mampu memberikan <Inti Kebenaran> yang berada pada Hukum <Timbal-Balik> Alam (HTBA). Disinilah pula adanya Hukum Gaya Tarik-Menarik tadi, yang merupakan salah satu aspeknya.
Semustinya, sejak lama hal ini harus sudah diungkapkan pada sesama kita serta dibelajarkan dengan seksama, sehingga kita bersama-sama akan mendapatkan manfaat dari Gaya tarik-menarik tadi. Bila demikian halnya, maka tidak mustahil, bahwa bentuk dunia tidak akan seperti yang terjadi sejak masa lampau, penuh dengan kenegetifan serta kekerasan, dimana perdamaian terjadi dengan suatu persyaratan tertentu, bukan?
Kebanyakan diantara kita masih saja tergantung, yang menyangkut perjalanan hidup, dari mereka yang menyatakan akan memberikan kesejahteraan, tapi dimana kenyataanya selalu di-<bengkok>-kan kearah yang menguntungkan yang berkuasa. Sudah tentu hal itu juga disadari, tapi masih saja kebiasaan masa lalu melengket pada pengelolaan cetusan pikiranya, karena belum dapat melepaskan diri dari <cengkeraman> tersebut.
Pendidikan <Subyektiflah> yang akan memberikan kebebasan itu dan bahkan dapat mempengaruhkan cetusan gagasan kepada yang belum memahaminya, sekalipun masih tersendat-sendat. Hal itu, karena konotasi negatif masih terlalu menguasai lingkungan.
Tapi, percayalah, bahwa suatu ketika, mereka yang tak dapat mengendalikan emosi, akan menyadarinya dan akan berubah kearah yang <Positif>. Memang waktu pematangan akan menentukan hal itu.
Bila kita selalu memikirkan, bahwa keadaan positif masa kini tak mungkin dilaksanakan, maka kondisi seperti itu akan makin menjadi-jadi. Hilangkan keterkaitan kepada sesuatu yang <Negatif>, apapun bentuknya. Dan merasa diri kita didalam kondisi yang <Positif> selalu. Maka Gaya Tarik-Menarik itu akan melaksanakan pikiran tersebut.
Hal ini sepertinya didalam cerita lampu Aladin, dimana jin keluar dan menyatakan bahwa <Keinginan anda merupakan perintah pelaksanaan bagi-Ku>. Dan apapun bentuk kondisi perintah itu, baik positif maupun negatif, akan dilaksanakan dalam konteks-Nya.
Kekurangan yang terdapat didalam The Secret tersebut, terletak didalam hal bentuk system bagaimana seorang awam mampu melaksanakan gagasan-gagasan yang dikemukakan.
Didalam system yang diketemukan oleh DR.Jose Silva, sudah ada diungkapakan hal tersebut, dimana setiap orang akan mampu melaksanakan gagasan yang terungkapkan didalam tayangan tersebut.
Bila kita mengikuti hal itu melalui fungsi tangkapan dengan sub-sadar, dimana peran <Otak Bagian Kanan> akan menonjol, maka akan pasti terdapat pengertian dari kenyataan yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh yang mengutarakan pengalaman-pemgalamanya disitu.
Hal ini bukanlah isapan jempol belaka, tapi merupakan kenyataan-kenyataan didalam meraih keberhasilan yang dikelola oleh cetusan pikiran kita. Penjelasannya bagaimana bisa berhasil, terletak didalam apakah kita sudah didalam penyesuaian telak yang menyangkut pikiran kita dengan gaya tarik-menarik tersebut atau <in line with the Law of Attraction>.
Hal ini akan merupakan dasar utama didalam keberhasilanya, bebas dari rasa ragu, ketidak percayaan dan lain sebagainya. Kemutlakan dari unsur-unsur KeInginan Besar, KeYakinan Tuntas dan Harapan Pasti> sudah harus menyatu dengan kondisi pengelolaan kita. Bila tidak demikian, maka hal <Ke-Optimal-an> akan terkena rangsangan yang dapat mengurangi Potensi-nya.
Harapan penulis adalah, bahwa para pembaca dapat mempunyai penangkapan yang <Positif> dari tayangan film tersebut, yang akan memberikan motivasi kuat untuk merubah cara mengatur <Nasib> para pembaca. Demikianlah suatu ungkapan yang dapat kita manfaatkan bersama didalam meraih keberhasilan yang merata bagi kita semua tanpa kecuali.(Ijs)