* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
System Silva atau Psychorientology diperkenalkan didunia sejak tahun 1966, setelah melalui masa penyelidikan sejak 1944 selama 22 tahun oleh penemunya :DR. JOSE SILVA Beliau adalah seseorang, yang oleh kebanyakan dari rekan-rekan sepenyelidik, disebut mempunyai ‘inteligensia’ yang sangat tinggi, yang melebihi mereka yang disebut dengan ‘super intelektual’.
Beliau mempunyai suatu penglihatan yang demikian luasnya, yang menyangkut banyak peristiwa yang bersangkutan dengan masa depan. Di kalangan para penyelidik dalam bidang ‘subyektif’, beliau memang tak dapat ditandingi. Dan itu menyangkut hal bagaimana manusia dapat mengembangkan ‘pengendalian diri’, yang sebelumnya masih merupakan hal yang persepsinya sedang dilanda oleh banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tidak mantap.
Profesor DR.Wilfred Hahn, merupakan seorang cendekiawan yang banyak mendukung dalam menarik perhatian serta mengajak para cendekiawan lain didalam menjaga unsur-unsur ilmiahnya, karena apa yang sedang diselidiki itu bukan sembarang bidang. Mereka telah berkecimpung didalam psychologie, menyangkut ‘psyche’ atau ‘mind’, dan parapsychologie, suatu bidang diatasnya psychologie, dimana yang disebut terakhir ini, pada saat itu telah menemukan ‘jalan buntu’ disebabkan keterbatasan dari sumber yang digunakan sebagai suatu ‘pembuktian imperis’ yang selalu diinginkan oleh para penyelidik pada bidang-bidang yang sifatnya ‘obyektif’.
Definisi obyektif tadi, menurut Jose Silva, merupakan semua informasi berupa peristiwa apapun yang dapat ditangkap oleh panca indra fisik. Hal itu bagi manusia mutlak diperlukan untuk melaksanakan keaktifan didalam suatu kondisi ‘bangun sadar’, untuk mengantisipasi lingkungan yang ‘nyata’. Tetapi, menurut beliau, manusia juga telah diperlengkapi dengan panca indra ‘nirsadar’, yang mana tidak pernah dikembangkan untuk dapat difungsikan didalam kondisi yang setaraf seperti pada indra-indra fisik. Kenyataannya juga, menurut penyelidikan-penyelidikan didalam bidang parapsychologie, hal itu merupakan suatu ‘fenomena’ yang berfungsi pada orang-orang yang disebut mempunyai bakat kepekaan yang mendukung kondisi normal, biasa dikenal juga dengan sebutan ‘para-normal atau diatas yang normal’. Dan memang semua manusia mempunyai bakat ke-para-normalan itu tanpa kecuali, hanya tingkatannya berbeda satu sama lainnya.
Hal seperti itu didalam kehidupan manusia adalah wajar-wajar saja, karena Yang Maha Pencipta menciptakan sesuatu didalam keadaan sempurna, boleh dikatakan ‘maha sempurna’. Beliau tidak pernah dapat disebut tidak sempurna didalam menciptakan sesuatu. Manusia diperlengkapi selengkap-lengkapnya, karena harus memenuhi suatu tugas suci atau ‘mission’ pada planit yang dinamakan bumi. Tugas, yang menurut pengertian dan penemuan DR. Jose Silva harus memelihara kondisi dunia, mengikuti ‘phase-phase’ evolusi yang diperuntukkan manusia dalam ‘konteks’ penyempurnaan dari kemajuan-kemajuan, untuk dapat dinikmati oleh semua ciptaannya. Arti itu dipertegas oleh Jose Silva dengan menyatakan, bahwa kita harus memperhatikan sesama kita, yang beruntung ‘wajib’ mendukung yang kurang beruntung.
Dengan demikian, menurut beliau, maka kita tidak akan dihadapkan pada masalah. Penyelidikannya juga menyinggung adanya suatu ketentuan Alam, yang mana manusia tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan tersebut. Kita selalu akan bertanggung jawab terhadap semua kelakuan kita, apakah itu baik atau buruk. Menurut penyelidikan ilmiah statistis, ternyata bahwa hanya 10 % dari adanya manusia yang diciptakan dibumi ini mempunyai kriteria yang mampu memperbaiki masalah-masalah yang dibuat oleh jumlah yang 90 %. Apakah kriteria itu ?
Mereka yang masuk ‘kategori’ itu, secara alamiah mempunyai bakat kepekaan untuk merasakan ‘jalur penyentuhan’ pada ‘Otak bagian Kanan’ dimana terdapat dan diciptakan sifat ‘Spiritual’ yang tidak terdapat pada ‘Otak bagian Kiri’. Menurut riset dari ahli-ahli kesehatan ‘organis’, hal seperti itu tidak dimungkinkan, karena otak kanan tidak dapat dengan nyata ‘difungsikan’ pada saat kita berada didalam kondisi bangun sadar. Ini merupakan pendapat yang sudah ‘kuno’ dari penyelidikan masa lampau.
Pada saat kita membutuhkan istirahat yang tuntas ‘alias’ diarahkan kepada ‘pra-tidur’ disusul dengan tidur dan tidur nyenyak, bilangan otak bagian kiri terkena ‘enzym-enzym’ pembiusan yang menyebabkan kita tidak lagi dapat merasakan dan menggunakan bagian otak itu dengan akibat akan ‘buta lingkungan’ termasuk buta rasa, penglihatan, pendengaran, pengecapan dan penyentuhan. Justru pada saat itu, Otak kanan melaksanakan fungsinya untuk melestarikan serta memperbaiki kembali sel-sel seluruh tubuh, termasuk otak dan semua organ-organ, sehingga kondisi yang melelahkan, keausan dan kerusakan yang diakibatkan oleh pekerjaan dan desakan-desakan pikiran dengan akibat ‘Frustrasi’ dan ‘Stres’, pada kondisi ‘sadar’, akan dipulihkan kembali.
Pada saat kita bangun lagi, seharusnya perasaan segar dan nyaman akan menyertai rasa tubuh dan pikiran untuk dapat memberikan ‘energi’ baru. Tetapi, berapa banyak diantara manusia yang pada saat ia bangun merasakan kenyataan kesegaran dan kenyamanan yang tuntas ?
Mengapakah bisa demikian ? Hal itu disebabkan kekurangan adanya kondisi ‘gelombang-gelombang’, yang dinamakan ALPHA, THETA dan DELTA. Kondisi-kondisi seperti itu diperoleh, bila kita istirahat dan tidur melalui suatu ‘pengendalian’ dari nirsadar. Hal ini dapat diperoleh dengan nyata, melalui ‘system pelatihan Silva’. Banyak sudah yang kini mahir menggunakan system itu. Tetapi didalam banyak system yang timbul dimana-mana dan dilatih oleh kita, kurang dapat difahami, bahwa suatu ‘pemeliharaan’ merupakan ‘keharusan mutlak’ yang tak dapat ditawar-tawar. Tanpa pemeliharaan yang ulet dan tuntas ditambah dengan ketabahan, maka kita mustahil akan selalu SIAP menghadapi kemungkinan-kemungkinan dari provokasi-provokasi masalah yang melanda kita didalam perjalanan hidup setiap harinya.
Selain keadaan yang diperlukan bagi manusia yang menyangkut kesehatan, berpikiran jernih, berkelakuan baik, jujur dan berpola pikir murni positif, keleluasan yang ditimbulkan oleh System Silva ini telah melampaui batas-batas dugaan dan harapan. Kondisi bawah sadar atau nirsadar demikian dominannya, sehingga kepekaan mengenai apapun yang terjadi di lingkungan kita dapat diantisipasi yang dapat menghindarkan diri kita dari timbulnya masalah-masalah antara lain kecelakaan, dan bila hal-hal seperti itu memang kita hadapi, maka menyelesaikannya akan jauh lebih mudah dan selalu tuntas, tanpa kekurangan-kekurangan dalam suatu pemecahan persoalan.
System Silva memberikan kita banyak kemungkinan dalam semua bidang, seperti karier, mengelola orang-orang, keharmonisan antar sesama, terutama dalam keluarga, mendukung dan menolong yang kurang beruntung, selalu mempunyai pandangan atau ‘visi’ jauh kedepan didalam ‘kodrat’ dan ketentuan urut duduk ‘takdir’, beribadah lebih sempurna tanpa terganggu oleh adanya pikiran-pikiran negatif.
Semua itu dapat diraih melalui suatu pengendalian kondisi nirsadar, yang dengan lain kata, dapat ‘disadarkan’, sehingga kita akan mempunyai suatu keadaan yang ‘seimbang’ didalam mencetuskan pola pikir. Pada hakekatnya, apa yang berada didalam nirsadar, sudah dijamin ‘baku positif’ oleh Penciptaan Yang Maha Esa dan tak dapat digunakan untuk tujuan yang negatif. Bila tujuan kita negatif, maka kemampuan nirsadar yang terkendali, tak mungkin dapat digunakan untuk tujuan seperti itu, seakan-akan ada suatu ‘switch’ atau ‘kontak’ yang menutup kemungkinan penggunaan kekuatan itu untuk tujuan negatif tadi.
Apa yang kita tangkap dari kejadian-kejadian negatif yang dilaksanakan oleh mereka yang ‘menyalah gunakan’ kemampuan nirsadar, bukanlah kekuatan nirsadar itu sendiri. Banyak yang lalu meminjam kekuatan getaran halus diluar nirsadar, dimana dimensi ‘status quo’ akan banyak mempunyai peran.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America