Sosbud
11-Feb-2008 11:37:59 WIB
MAGIC BRAIN
System Silva di Indonesia (tamat)



* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar 
 
Hal itu tidak wajar, dan seringkali akan merugikan, baik yang diserang, maupun yang menyerang karena melanggar ketentuan-ketentuan dari Hukum Timbal Balik Alam. Dan kejadian itu sudah pasti akan memberikan ‘benturan’ dengan Hukum Alam tersebut. Karena kita belum mempunyai laboratorium penyeledikan ‘Psychorientologie’ ditanah air, maka hal itu masih belum dapat diteliti dan diawasi atau dikontrol secara umum, teliti dan luas melalui suatu  ‘riset’.
 
Dengan berkembangnya penggunaan System Silva ditanah air, penulis melihat banyak harapan untuk menanggulangi kemelut yang terutama disebabkan oleh tidak adanya ‘pengendalian’ diri sendiri yang mencakup kekuatan emosi, yang merupakan kekuatan ‘dorongan’ utama dan dahsyat untuk harus diteliti, diawasi, dikendalikan dan dikembangkan kearah positif atas dasar pengembangan tabiat dengan moral tinggi dan rasa etis yang mantap.

Mengisi diri kita dengan tabiat seperti tersebut diatas itu, pada waktu lalu sangat tergantung dari pendidikan ‘induktif’ melalui lingkungan keluarga yang dasar pola pikirnya harus selalu ‘positif’. Hal itu akan sangat mempengaruhi seorang anak yang mulai berkembang membentuk ‘pola pikirnya’ sendiri melalui banyak contoh dan saran-saran yang baik dan kokoh.

Masa induksi itu berjalan mulai perkembangan anak dari umur satu sampai dengan tujuh tahun. Hal ini merupakan ‘phase’ pertama dari pengembangan kehidupannya secara ‘psikologis’. Setelah tahap pertama itu, anak akan memasuki tahap kedua, yaitu antara tujuh dan empat belas tahun, biasa disebut juga ‘fase puber’.

Disini akan terjadi ‘deduksi’ dari induksi tadi, karena banyak peristiwa yang dialaminya diluar lingkungan keluarga. Bila lingkungan diluar keluarga itu memberinya contoh-contoh yang sesuai dengan perkembangan pertama, maka ia akan berkembang positif. Bila tidak demikian, maka terjadi banyak ‘bentrokan’ dalam pola pikirnya yang memerlukan jawaban-jawaban yang jitu dan positif pula. Disinilah akan terjadi ‘evolusi’ perkembangan pengaruh yang keseimbangannya ditentukan oleh kebergaulan antar anak seumur, serta mereka yang mendidiknya diluar lingkungan keluarga.

Setelah masa itu, mulai dari empat belas sampai dengan dua puluh satu tahun, akan terbentuk pola pikir menuju kepada pra-kedewasaan. Masa seperti itu biasanya mengkokohkan kedewasaannya itu, bila lingkungannya sangat menunjang. Apakah kita sendiri tidak merasakan pengalaman-pengalaman, dimana kita sangat memerlukan saran-saran didalam memutuskan suatu kemajuan mengenai bidang yang ingin kita raih serta cita-citakan?

Banyak sekali variabel-variabel yang  mempengaruhi perjalanan hidup seorang manusia, yang justru selalu akan melihat terus kepada contoh-contoh yang diberikan oleh lingkungan yang dibatasi oleh ‘ruang’ dan ‘waktu’. Suatu penekanan kekuasaan yang dibebankan kepada masyarakat yang dasarnya tidak baik dan tidak manusiawi, pada kenyataannya akan menimbulkan ‘frustrasi’ dan ‘stres’ pada jiwa suatu masyarakat yang disebut rakyat, sehingga kita harus memilih dan memutuskan untuk ikut didalam sesuatu yang ‘membangun’ (konstruktif), ataupun ‘merusak’ (destruktif).

Oleh karena itu, pendidikan akhlak dan keperluan perlengkapan ‘intelektual’, sudah saatnya harus kita ‘tinjau kembali’, untuk menjadikan ‘generasi penerus’ sebagai orang-orang yang mempunyai martabat keakhlakan dengan moral tinggi dan selalu ‘elegan’ dan ‘etis’ didalam menyelesaikan masalah-masalah yang bisa saja timbul pada masanya. Bukankah itu cita-cita setiap orang tua ?

Inilah mutu yang diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan bangsa lain kepada bangsa kita, Indonesia, yang kini sedang dilanda dengan banyak masalah yang diperbuat oleh kita sendiri, terutama mereka yang berkuasa, dimana mengenai sifat moral dan etika sudah terlanjur dinodai oleh ‘system’ penguasaan yang salah bentuk dan arah. Membangun kembali dengan hanya didasarkan atas penggunaan kemampuan ‘obyektif’ atau ‘intelektual’ saja, akan memakan waktu paling tidak tiga sampai empat generasi.

Sistim yang telah diketemukan oleh DR. Jose Silva, merupakan penemuan yang dapat diandalkan keorisinilannya, melalui penyelidikan cukup lama dengan hasil penetrapan yang banyak memberikan harapan suatu perobahan tuntas didalam membentuk sifat kejiwaan yang akan sangat seimbang.

Demikian uraian secukupnya, menambah apa yang telah diungkapkan dan dibeberkan dalam naskah-naskah, yang didukung oleh beberapa wawancara oleh media cetak dan elektronik, serta kesempatan yang diberikan oleh Indosiar Internet untuk mengelola suatu rubriek yang diberi nama ‘Magic Brain’.

Pada masa permulaan, didalam berusaha memperkenalkan system ini kepada masyarakat ditanah air, penulis harapkan dapat diilhami untuk menjadi dukungan nyata secara ilmiah disamping soko guru agama apapun. Penganutan oleh siapapun, tidak akan merobah keyakinan masing-masing yang menyangkut bagaimana menjalani kehidupan secara positif yang pada hakekatnya sangat pendek ini, dan telah terumuskan dalam Agama apa saja.

Menurut DR. Jose Silva, bila Indonesia mempunyai 25.000 pemimpin tingkatan teratas dikalangan manajemen pemerintahan dan swasta yang mempunyai <a centered mind> atau pemusatan Alam Pikir, melalui pendidikan<subyektif> dari Psychorientology, maka ia menjamin adanya solusi yang sangat efektif dari kemelut yang sedang dihadapi dalam waktu singkat.

Letak kelemahannya ada pada jiwa manusia Indonesia, yang kondisi inteligensianya masih sangat perlu ditingkatkan katanya, dan bukan pada hal-hal yang teknis intelektual diluar kejiwaan. Psychorientology merupakan system berfikir masa depan, saat kini.(Ijs)
 
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America
Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :