Sosbud
5-Mar-2008 11:48:25 WIB
MAGIC BRAIN
Orang Jujur Harus Dapat Merubah Diri dengan Kemampuan Deteksi Subyektif (I)



Melalui naskah ini, penulis ingin merangsang Alam Pikir sesama kita, yang termasuk individu-individu <Jujur> dan tak pernah dapat dirangsang oleh gelombang vibrasi ketidak jujuran, untuk melaksanakan introspeksi pada diri sendiri. Ada beberapa kisah nyata yang mungkin dapat difahami mengenai  dampak dengan akibat fatal bagi mereka.

Bila kita berada didalam lingkungan yang memberikan rasa tidak nyaman pada jiwa kita, maka hal itu menandakan ada sesuatu yang tidak beres atau tak wajar. Disinilah terdapat yang dinamakan ke-<Imanan> atau sifat yang mengutamakan kejujuran tuntas, yang seringkali terkalahkan rangsangan ketidak wajaran itu.

Pada zaman pancaroba yang berlaku diseluruh dunia, kita terlanda oleh nuansa warna peristiwa-peristiwa apapun yang diarahkan kepada nuansa <Negatif>. Kita selalu dikalahkan oleh kekuatan <Emosi> yang demikian dahsyatnya dan lemah untuk mengendalikanya. Tak perlu mengambil contoh dari luar, perhatikan saja lingkungan dekat disekitar tempat kita tinggal dan didalam kekeluargaan.

Masih banyak terdapat mereka yang kurang memahami dengan tuntas apa yang dinamakan <jujur> itu. Sering juga dikemukakan orang, bahwa menerima sesuatu yang jujur itu akan keras sekali. Katanya, kita harus juga memperhitungkan perasaan orang yang mempunyai kondisi jiwa yang lemah, sehingga menerima kejujuran harus diperlunak.

Apapun yang dikemukakan dengan suatu alasan untuk memperlunak nuansa kejujuran, akan memberikan dampak suatu pembiasaan yang akan mengekang kita untuk langkah-langkah selanjutnya. Inilah yang juga terlalu sering dijadikan alasan untuk melemahkan didalam konstruksi <tanggung jawab>, yang mana sekali lagi akan mengakibatkan kelemahan didalam keseluruhannya.

Pada hakekatnya, kejujuran memang merupakan unsur <utama> didalam langkah kehidupan kita tanpa dihadang oleh timbulnya masalah. Bicara mengenai kejujuran <telanjang> yang sering dikatakan itu, memang harus diterima dengan hati yang terbuka. Ini akan menambah pembentukan <kepercayaan> yang mendalam terhadap seseorang, suatu peristiwa yang terkadang penuh dengan dusta.

Anak kecil sering kali terkena imbas dari penyimpangan dari kenyataan suatu kejujuran yang dinamakan pembujukan dengan memindahkan perhatianya kepada suatu janji, misalnya. Padahal kita tidak berniat untuk melaksanakan atau menepati janji tersebut. Bila hal ini dinyatakan secara serius sekali, maka anak itu akan mengetahui, bahwa kita tidak mampu atau tidak ada niat untuk melaksanakan janji yang telah dinyatakan tersebut.

Para permbaca yang setia, hal yang telah dikemukakan ini, banyak mendapatkan polemik yang menjadikan kita terumbang-ambing antara mana yang benar dan tidak benar. Kebenaran sangat erat hubunganya dengan kejujuran. Sedikit menyimpang saja, akan mengurangi suatu nilai yang menyangkut kebenaran tersebut. Dan dengan demikian akan terjadilah penyurutan dari nilai-nilai moral dan etika yang harus kita junjung tinggi.

Patokan nilai-nilai tersebut tidak akan bisa dipelihara hanya karena tercatat didalam buku-buku yang menyangkut agama, meskipun hal itu dianggap  sacral. Informasi yang memberikan kita pedoman serta patokan untuk menjalankan suatu kehidupan yang penuh dengan kejujuran merupakan hal langka pada zaman kini.

Banyak kurang memahami, bahwa pantauan dari Hukum Alam dengan <timbal-balik>-nya tidak berlaku bagi manusia. Hal ini merupakan pandangan yang sangat <naïf> atau lugu. Kemudian, bila terjadi suatu hambatan yang mengakibatkan sesuatu tidak bisa berjalan dengan mulus, maka biasanya akan terheran atau kaget, mengapa terjadi hambatan tersebut.

Tidak diketahui bahwa hambatan tersebut adalah akibat adanya pelanggaran dari suatu <ketentuan dan keteraturan> dari Hukum Alam itu. Apakah hal yang diungkapkan ini kurang dapat difahami oleh pada pembaca yang budiman?

Menurut riset yang diadakan didalam beberapa universitas kondang, seperti Harvard dan Berkeley pada bidang Psikhologi dan Parapsikhologi, terdapat kenyataan yang sedang dibahas ini. Riset seperti itu tidak dengan serta-merta mampu langsung menggelitik jiwa orang awam, untuk langsung bisa percaya dan menerima hasil riset tersebut.

Hal seperti itu harus dirasakan serta dialami sendiri. Hanya saja mempunyai perasaan yang dapat dijamin mempunyai nuansa <positif> belum dapat diharapkan pada skala luas dan umum. Kita telah ter-<didik> dengan banyak penyimpangan karena adanya <persepsi> yang memberikan banyak pendapat serta pendirian yang mempengaruhi opini umum atau public opinion.

Peran para ahli didik kejiwaan dalam hal ini harus merasakan, bahwa pada pendidikan <obyektif>, tidak mungkin dirangsang pada sel-sel Otak bagian Kiri, yang mempunyai keterbatasan didalam berfungsinya. Tanpa dominasi dari fungsi Otak bagian Kanan, yang kini dimungkinkan, maka pengembangan sifat jiwa manusia akan tetap berkembang pada dasar suatu dimensi kenyataan obyektif tadi. Hanya melalui pengembangan dari dimensi subyektiflah, maka kita akan masuk kedalam perspektif yang dinamakan tahap kedua dari <evolusi manusia>.(Ijs)

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :