Sosbud
11-Mar-2008 11:23:30 WIB
MAGIC BRAIN
Orang Jujur Harus Dapat Merubah Diri dengan Kemampuan Deteksi Subyektif (II)



* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar 
 
Marilah penulis ungkapkan suatu peristiwa dari seorang yang termasuk kategori jujur,serta akibat yang menimpa dirinya. Beliau merupakan seorang kepercayaan dari ketua sebuah lembaga penyelidikan dan penetrapan bagi kemajuan bangsa. Kejadian ini bukan merupakan satu-satunya peristiwa. Banyak dapat dikemukakan yang meyangkut adanya pengorbanan dari mereka yang ingin mempertahankan kebenaran yang erat berhubungan dengan sifat jujur.

Beliau, sebagai seorang yang sangat dipercaya mempunyai kedudukan sebagai salah seorang <deputy> dari Ketua lembaga tersebut yang juga menjabat menteri.

Penulis mempunyai hubungan erat dengan deputy tersebut yang memberikan kesempatan untuk mengajarkan system Silva pada lembaga itu, dengan tujuan memberikan kemandirian bagi mereka yang akan dikirim keluar negeri guna memperluas pengetahuan yang menyangkut  pengembangan lembaga tersebut.

Yang akan dikirim itu masih dalam umur setaraf dengan anak SMA. Melalui pendidikan subyektif itu, diharapkan mereka akan dapat menghadapi perbedaan budaya yang dialami pada berbagai Negara kemana mereka akan dikirim. Penulis sempat mendidik system tersebut pada tidak kurang dari 17 kelas.

Alasan penulis diberi kesempatan tersebut adalah, bahwa selama mereka mengirim ratusan anak keluar negeri, terjadi banyak masalah dengan menarik kembali mereka yang telah dilanda oleh stres berat, karena tak dapat menyesuaikan diri pada lingkungan dengan budaya berbeda dengan tanah air. Sudah tentu hal in  merupakan kerugian besar bagi lembaga tersebut. Setelah diadakan pendidikan subyektif tersebut maka terjadi banyak perubahan dalam alam pikir mereka yang telah mengikuti pelatihanya, dan kenyataanya adalah bahwa pengiriman kembali dapat dinetralisir.

Namun demikian, kita banyak mendapatkan tantangan berupa kritik yang tak sehat dan ingin meniadakan pelatihan tersebut. Karena dikatakan, bahwa penyuluhan Agama serta penetrapanya lebih penting daripada peningkatan kemampuan penggunaan mental. Tapi kita bahkan lebih dapat bertahan selama itu. Sungguhpun deputy juga telah menjadi alumni dari system Silva, tapi masih lemah didalam pemeliharaan dan banyaknya pekerjaan yang diserahkan kepadanya, maka terjadilah dengan mendadak suatu peristiwa yang tak diharapakan.

Pada saat itu, penulis sedang mengajar di Surabaya, dan mendapatkan kabar, bahwa beliau terkena <stroke> dan langsung berada didalam <koma>. Ternyata juga, bahwa selain pekerjaan berat dan rasa tanggung jawab yang besar karena adanya kepercayaan itu, ada peristiwa lain yang melanda diri beliau melalui suatu <shok psikologis> karena sangat kaget, bahwa ada juga orang-orang yang mendustainya didalam suatu transaksi pengganti rugi.

Dengan sendirinya atasanya juga kaget mendengar peristiwa tersebut dan menekankan kepada para dokter dirumah sakit untuk berusaha dengan serius menanggulangi kesehatan deputynya untuk bisa sehat kembali dengan tuntas. Tetapi, keparahan dari serangan shok tersebut tidak memungkinkan para mediri untuk melaksanakan dukungan didalam mengembalikan kesadaran pada kondisi semula.

Akhirnya setelah dua minggu dirawat dengan berbagai upaya medik, deputy itu meninggalkan dunia dengan tenang dan damai, dengan menampakan senyum terakhir pada wajahnya.  Umur beliau pada saat itu baru 61 tahun dan masih mempunyai produksi yang tinggi yang dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mendukung beliau didalam usahanya untuk mempositifkan lingkungan dilembaga itu sendiri yang sudah terkena kontaminasi KKN pula.

Peristiwa ini memberikan alasan pada mereka yang melawanya untuk memberhentikan keberlangsungan pelatihan system Silva pada lembaga tersebut. Sangat disayangkan, tapi penulis hanya ingin melihat saja apakah lembaga tersebut akan langgeng atau sudah mulai berantakan. Kabar terakhir menyatakan demikian.

Peristiwa seperti itu menandakan, bahwa suatu kekuatan yang dapat dikembangkan pada jiwa seseorang, tapi tidak atau kurang ada pemeliharaanya, akan pasti melarutkan kembali kekuatan tersebut, sehingga akan rentan kembali terhadap   pelandaan provokasi-provokasi yang menyerang.

Banyak dapat dikemukakan peristiwa-peristiwa seperti ini. Tapi orang menyatakan bahwa hal itu sudah termasuk kehendak Tuhan. Hal ini berarti, bahwa kita tidak megakui, bahwa pada hakekatnya, kita belum mampu untuk menimbulkan kekuatan yang memang secara alami sudah di-Ciptakan pada diri kita. Kita tidak cukup berusaha untuk menambahkan kekuatan yang ada pada diri kita sendiri untuk dapat dikembangkan.

Ini seharusnya menjadi tantangan kita semua. Yang Maha Kuasa meng-Anugerahkan mental (psikho) dan tubuh yang <sempurna>. Dan disinilah juga termasuk mereka yang melaksanakan riset serta penemuanya dengan tujuan dimanfaatkan oleh kita semua mewujudkan kesempurnaan itu.

Adakah pemikiran seperti ini timbul pada para pembaca, serta kemudian melaksanakan perubahan kearah penyempurnaanya itu, yang memang sudah sesuai dengan Ciptaan Sang Kahlik? Sejak dini kita hendaknya sudah terdidik untuk itu, sehingga hidup yang sedang dialami akan bebas dari hambatan-hambatan yang sedikit banyaknya akan banyak menimbulkan stress dan penyakit sebagai hasilnya.

Apakah lalu, bila kita terhinggap suatu penyakit dapat dikatakan merupakan ke-Hendak-Nya? Renungkanlah hal ini sedalamnya. Bila semua adalah ke-Hendanya, maka manusia ibaratnya makhluk tanpa adanya <free will> atau kebebasan berfikir serta bertindak. Tingkatkanlah persepsi kita bebas dari pengaruh-pengaruh yang membingungkan. Ini terutama bagi mereka yang mempunyai fungsi <mengajarkan> sesuatu pada yang akan dididik.(Ijs)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America
Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :