* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Banyak orang yang sulit mendapatkan tanggapan jelas akan peran Alam Pikir, Psiko atau Mind didalam pelaksanaan suatu keputusan dalam menindakan langkah-langkah. Kita kurang memahami, bahwa segala sesuatu yang terjadi pada lingkungan, merupakan pembentukan atau konstruksi dari pengelolaan kesadaran, yang mana hal psikologis akan selalu dikaitkan dengan itu.
Banyak yang juga belum dapat merasakan benar, bahwa suatu pengelolaan kesadaran sebelum menjadi suatu keputusan untuk melaksanakan tindakan mempunyai sumbernya yang disebut
Ada dua bagian yang harus dapat dimengerti dan difahami. Bila sudah diketahui, bahwa kesadaran merupakan hal yang penting untuk dapat dirasakan, diawasi dan diwaspadai, maka kita akan berada didalam suatu kondisi yang dinamakan kepekaan intuitif. Intuisi merupakan perasaan yang bisa rendah atau tinggi, tergantung dari adanya kepercayaan kita masing-masing yang menyangkut yang baru disebut ini.
Hal kepekaan psikhologis ini ada kaitan yang erat dengan timbulnya pengaruh emosi, yang kita harus dapat fahami dan mengendalikanya. Bila tidak, maka kita sendiri akan dikendalikan oleh emosi tersebut. Banyak sekali orang akan heran menghadapi suatu kejadian, dimana seseorang yang tadinya ditanggapi sebagai sosok yang selalu sabar dan ramah, suatu ketika lepas rem dan berbuat hal yang tidak disangka sebelumnya. Ini merupakan akibat dari emosi tadi yang dibentuk pada psiko atau Alam Pikiran.
Lalu ada pendapat, bahwa orang itu menjadi
Kita suka tertipu oleh penampilan seseorang, karena hanya memandangnya dari luar saja. Memang hal bentuk tubuh yang bersenyawa dengan kondisi yang belum dapat ditangkap melalui indra-indra fisik secara tuntas dan gamblang, seharusnya sudah dapat dipelajari melalui pendekatan ciri-ciri yang disebut non-fisik.
Bila hal itu dilaksanakan dengan serius, maka penangkapan pancaran tubuh dapat segera dibaca, terutama yang menyangkut pandangan mata, raut muka serta kelakuan yang menyimpang daripada yang biasanya ditampilkan. Tanggapan seperti ini yang dibelajarkan pada aparat kepolisian, pada dinas rahasia dan didalam per-rekrutan orang baru melalui HRD pada perusahaan, pemerintahan, rumah tangga (pembantu) dan lainya.
Akan tetapi, sistim seperti itu masih mempunyai keterbatasan, karena pendekatanya adalah
Yang disebut ini, memang menyelubungi seluruh tubuh kita yang berpancar secara minimal sekitar tubuh dengan jarak kurang lebih satu sampai dengan tiga meter. Melalui bakat keparanormalan, dengan mudah dan cepat kita dapat merasakanya melalui penangkapan gelombang vibrasi kita sendiri. Hanya saja, apakah kita sudah terlatih untuk menangkap hal itu, tergantung lagi dari kepekaan kita sendiri.
Skala bentuk manusia memang tidak mudah dapat dikaji dengan tuntas. Dan memang disinilah kita akan selalu tergantung dari performa
Kejelian kita pun merupakan salah satu cara untuk dapat merasakan, bahwa penemuan seperti itu tidak didasarkan atas percobaan
Sebagai pendapat akhir atau dengan keren disebut
Yang tadinya ber-operasi pada keadaan sub-sadar, dimana kita terbuai dalam kondisi tidur, kini dapat dikembangkan dengan telak. Mungkin, yang diungkapkan pada kolom magic brain ini, masih dipandang sebagai sesuatu yang hanya khayalan belaka. Kurang sensasi, katanya, benarkah pendapat orang banyak disini?
Berita pembunuhan, pencurian, tipuan, korupsi dan lainya yang masuk kategori
Bukankah juga, bila kita keluar dari suatu musibah karena unsur kepekaan kita, merupakan hal yang sensasional pula? Dan bagaimana mendapatkan keterampilan kepekaan tersebut, apakah itu juga berarti sesuatu yang sensasional? Pikirkanlah hal ini para pembaca, sadarilah akan banyaknya masalah yang berada disekeliling kita yang harus dapat diselesaikan, baik yang menyangkut hal pribadi maupun umum. Kita dapat membantu melalui kemampuan pengendalian sub-sadar kita sebagai sumbangan telak akan penyelesaiannya itu.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America