Kita tak dapat hanya bertumpu kepada kemampuan yang dikembangkan melalui kebiasaan menggunakan belahan Otak bagian <Kiri> saja. Dengan kebiasaan yang dibelajarkan kepada umum sejak dini sampai berabad-abad, maka hal itu akan melengket benar dan akan ditanggapi sebagai <satu-satunya> kemungkinan untuk berfungsi pada <Alam Sadar>, bukan?
Seakan kita tidak bisa mengerti, bahwa ada bagian lain pada diri kita, yang masih belum terungkapkan kemampuanya untuk dapat difungsikan. Inilah yang pada abad terakhir kini, sudah luas dapat dimengerti dan sedang diselidiki serta dikembangkan dengan luas, sejak terjadi suatu <pendobrakan> berfikir yang ditemukan oleh DR.Jose Silva enam puluhan tahun silam.
Sejak itu, maka diketahui bahwa kebanyakan diantara manusia didunia ini , yaitu hanya 10 prosen saja, yang diketahui menggunakan bagian lain dari kesadaranya, sehingga mereka ditanggapi sebagai yang <Genius>, karena dapat menerima informasi yang <belum> terjadi dalam lingkungan dunia dimana kita sedang hidup ini.
Seperti yang telah penulis jelaskan didalam artikel-artikel sebelumnya, bila diikuti dengan seksama, maka informasi yang kita tangkap pada saat tertentu, merupakan hal yang pada hakekatnya sudah termasuk <masa lampau>. Ini merupakan kejadian dan peristiwa yang <telah> terjadi, dan baru sampai kepada kita beberapa saat kemudian. Apakah informasi seperti itu masih bisa ditanggapi sebagai sesuatu yang baru, akan segera dapat terlihat, bila akan digunakan pada masa yang <belum> dapat diketahui.
Apa yang ditanggapi sebagai suatu peristiwa yang <bakal> diputuskan serta dilaksanakan pada masa di-<muka> kita atau dimasa depan kita, tak akan terdapat <Jaminan> bahwa informasi lalu akan mampu mempunyai penyesuaian yang diperlukan sesuai dengan harapan kita, bukan?
Ketepatan didalam hal itu, hanya dapat di-<Jamin> bila segala sesuatu akan benar-benar mempunyai <penyatuan> yang diharapkan. Oleh karena itu, kebiasaan kita lalu memberikan suatu pengertian yang tidak <pasti> atau tidak <konkrit> dengan kata-kata <mudah-mudahan>. Untunglah kita, kalau tidak tepat, maka ada jalan keluar beserta alasanya untuk memperbaikinya.
Didalam pelaksanaan suatu pengelolaan, hal itu sama dengan belajar dari sesuatu yang salah, atau tidak tepat, diperbaiki dan dicoba kembali, atau <try and error>, bukan begiru selama ini? Kita belumlah belajar serta diberi pengertian, bahwa rangkuman getaran-getaran yang <menjadi>-kan suatu cetusan pikiran yang lalu akan mengelola tindakan yang akan dilaksanakan, merupakan getaran yang dapat ditangkap dari suatu <masa> yang bakal menjadikan peristiwa dan tindakanya. Apakah lalu hal ini akan mungkin, tergantung dari suatu <kepekaan intuitif> yang dapat dilatih pada tingkatan optimal.
Kondisi yang dinamakan <Optimal> merupakan hal yang paling <utama> didalam meng-kerahkan segala kemampuan, pengertian, persepsi, pemahaman serta pembiasaan pada tingkatan yang nilainya paling tinggi, yaitu yang disebut <optimal> tadi.
Dengan kondisi seperti itu, maka bila digunakan pada fungsi dari kesadaran kita dengan hanya menggunakan separoh kemampuan kita ( fungsi Otak bagian Kiri), maka sudah akan jelas, bahwa tak akan didapatkan hal-hal yang bisa menunjang keleluasan kita yang hanya dapat diberikan oleh adanya <kepekaan intuitif> yang disebut tadi.
Hal ini haruslah dapat disosialisasikan kepada mereka yang selalu berkecimpung didalam menyelesaikan persoalan-persoalan dengan solusi-solusi yang terdapat dalam getaran-getaran yang dirangkum dari informasi yang <Nyata> dan yang <belum Nyata> atau termasuk yang sedang diperkirakan.
Informai yang dibentuk oleh getaran-getaran yang <belum Nyata> inilah yang sering kali menakjubkan dan digunakan oleh mereka yang pada dasarnya telah diberkahi dengan suatu <Bakat> yang menyangkut kepekaan intuitif tersebut. Janganlah menyangka, bahwa kemampuan Otak bagian Kiri akan mempunyai suatu rasa yang disebut kepekaan tadi. Otak Kiri, tak mempnyai sifat <intuitif>, sifat itu hanya berada pada bagian Otak Kanan, yang pada saat-saat tertenu akan berfungsi dan membantu fungsi Otak Kiri, bila kondisi getaran Pusat Pikir berada pada kondisi tingkatan <Sub-sadar>.
Saat itu adalah, bila terjadi suatu <penurunan getaran> yang memelihara kesadaran bangun yang <normal> kepada getaran pada keadaan <sub-sadar>. Hanya saja, ternyata dalam suatu riset yang seksama, penurunan getaran tersebut, dengan melalui <tidur biasa>, maksudnya tanpa ada <pengendalian>, hanya terdapat jangka waktu <3 mikrodetik> dalam <satu menit>.
Penurunan seperti itu mampu memberikan suatu kesegaran didalam hal penglihatan, perasaan, konsentrasi serta daya ingat yang pada saat-saat tertentu dapat mereda, karena banyaknya hal yang harus dilaksanakan. Berarti, bahwa didalam bekerja selama 12 jam, kita akan mendapatkan kondisi kesegaran selama 2 menit dengan tuntas sekali.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America