Sosbud
10-Apr-2008 11:39:29 WIB
MAGIC BRAIN
Indonesia dari Pandangan Luar Kelihatan Maju Tapi Kebobrokan Tak Dapat Ditutupi (III)



* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
 
Nah, para pembaca yang budiman, setelah diteliti tadi mengenai kemampuan kita sebagai manusia yang banyak menyangkut kekurangan-kekurangan yang seharusnya sudah diketahui sejak lama, maka kini akan dibahas hal yang dikemukakan didalam judul tersebut diatas.

Didalam perjalanan hidup manusia, segala realita yang didapatkan dilingkungan dimana kita hidup ini, sudah jelas, bahwa hal itu kita sendiri beserta sesama kita yang telah menciptakannya. Kita tak dapat menyatakan bahwa kejadian yang telah terbentuk itu, merupakan hal yang dikehendaki oleh Sang Khalik.

Kita telah di-Ciptakan dengan suatu keinginan,  keyakinan serta harapan yang dapat dicetuskan melalui pengaturan pikiran kita masing-masing tanpa adanya keraguan. Kita bebas melakukanya dan Sang Khahik tidak akan ikut campur didalam hal ini. Beliau telah mengkreasi kita secara sangat sempurna.

Apakah hal ini belum juga dapat dirasakan dan diakui oleh kita semua? Kebebasan yang telah di-Ciptakan pada diri kita itu, dipantau dan diatur melalui ketentuan yang telah terciptakan pula oleh Beliau didalam wujud hukum alam dengan timbal-baliknya. Dan hal ini telah juga dapat dirasakan pada kenyataanya, bila kita sebagai manusia yang sempurna mempunyai <kepekaan intuitif>. Bertindak sesuai dengan HTBA tersebut, menjadikan kita manusia yang utuh dan sempurna.

Sifat itu telah banyak dipunyai oleh mereka yang jenisnya adalah wanita dan merupakan pendamping bagi kaum lelaki untuk memberikan bahan pertimbangan didalam melaksanakan tindakan yang sifatnya berdasarkan logika dan rasional yang dalam banyak hal tindakan seperti itu kurang <intuitif>. Sebagai kaum lelaki kita dibiasakan untuk selalu analitis dan harus mencari alternatif-alternatif yang sesuai dengan suatu keputusan dan tindakanya yang jitu.

Kenyataan alami> adalah, bahwa pada kebanyakan peristiwa banyak ketidak cocokan telah terjadi, sehingga akan dilaksanakan analisa kembali untuk memperbaiki hasil yang tidak tepat. Disinilah akan terjadi banyak terbuang waktu yang berharga, yang terbuang tanpa ada hasil. Kepekaan intuitif dengan telak dapat melaksanakan verifikasi subyektif  yang jarang sekali diikuti dan dihargai dengan suatu nilai yang tepat.

Wanita didalam kehidupan perasaanya, memang dianugerahi bakat yang menyangkut kepekaan intuitif tadi. Hal ini diperlukan, karena tugasnya adalah menjaga generasi penerus, untuk tidak terjerumus kedalam kenistaan yang dipercontohkan dari lingkungan yang tidak sehat dan selalu memberikan dampak <negatif>.

Takdir alam telah membentuk jenis wanita dengan kelebihan-kelebihan yang dapat dimanfaatkan oleh kaum lelaki didalam meniti kehidupan didalam memberikan nafkah bagi keluarga. Sifat lelaki kebanyakan egois serta membanggakan diri yang kurang tepat nuansanya. Banyak terisi dengan kesombongan serta gengsi,bukan demikian kenyataanya?

Sebagai suatu kenyataan dapat dikemukakan, bahwa sosok wanita akan selalu mengetahui adanya tindakan <selingkuh> dari suaminya, sekalipun dengan susah payah sang suami ingin menutupinya dengan berbagai alasan dan cara, yang justru akan menimbulkan kecurigaan dari sang isteri, bukan begitu sering terjadi ?

Dan hal ini akan merusak suasana kedamian, keharmonisan serta kenyamanan berkeluarga, sehingga terjadi gejolak yang menuju kepada perceraian. Keserakahan biologis ini, sebenarnya dapat dikendalikan demi menjaga keserasian dalam berkeluarga, bukan ? Lepas kendalai dapat mengakibatkan tindakan fatal! Inilah kepekaan intuitif yang menjadi bakat sosok seorang wanita.

Dikarenakan meremehkan sifat intuitif wanita itulah, maka banyak terjadi penyimpangan yang tidak lagi sesuai dengan Kehendak Sang Pencipta Sekalian Alam. Tetapi, dengan terjadinya bentuk dunia yang begitu makin rumit didalam melaksanakan perwujudan suatu hidup yang  seharusnya layak dan wajar, maka kaum wanitu terpaksa untuk juga mengambil bagian didalam tindakan, keputusan serta pencarian nafkah untuk bisa melaksanakan kehidupan layak tersebut. Hanya saja akan terjadi keterlantaran dari pendidikan anak asuhanya. Harapan apa yang dapat diraih dengan kondisi seperti itu pada generasi penerus?

Penulis sendiri pada masa lalu, sebelum mempelajari dan menetrapkan system Silva, telah merasakan kurangnya pengendalian suatu pembiasaan yang nyatanya bisa demikian kuat dan ketat, sehingga benar-benar dapat mengetahui mengapa maka terjadi adanya penjelasan serta aturan yang termaktub didalam buku-buku agama. Segala sesuatu yang disebut dan dijelaskan demikian mendalam, yang pada dasarnya, bila kita merasakan benar apa yang dikemukakan disitu, maka manusia dengan hal itu pada hakekatnya tidak mungkin bisa melaksanakan penyimpangan serta pelanggaran.

Kita sudah seharusnya merasakan, bahwa melanggar pedoman agama, akan memberikan dampak yang negatif bila dilanjutkan penyimpangan itu. Yang pertama-tama mendapatkan sabda dari Sang Khalik, telah berusaha untuk menjelaskan ketentuan serta keteraturanya kepada mereka yang dianggap kurang dapat mengerti dan tidak mempunyai persepsi yang tepat. Maklumlah, pada umumnya, manusia danggap <lemah> dan harus ada yang membimbingnya serta menunjukan jalan yang benar dan tepat.

Didalam kenyataanya, bahkan yang disebut pembimbing keagamaan pun terkadang sering mempmunyai  kelemahan dan bahkan mempunyai suatu interpretasi serta persepsi menurut tanggapanya sendiri. Ia merasa melebihi dan diatasnya mereka yang tidak memperdalam arti dari apa yang diutarakan didalam buku-buku agama. Disangkanya bahwa yang mendengarnya akan selalu membenarkan pendapatnya itu.

Bila interpretasi serta persepsi sesuatu yang dikatakan <sakral> dan datangnya dari hanya <Satu Sumber> saja, maka mengapakah ada demikian banyak penyimpangan dari aturan-aturan dan ketentuan yang seharusnya sudah tak dapat lagi disangsikan? Siapakah disini yang bersalah dan bertanggung jawab atas hal itu? Kekacauan yang terjadi berada ditanganya manusia itu sendiri, karena tidak sesuai dengan HTBA yang disebut tadi.

Padahal dengan contoh-contoh dan sangsi-sangsi yang dikatakan bakal terjadi bila melanggar ketentuan serta keteraturan, tetap saja terjadi pelanggaran dan penyimpangan, yang dapat dilihat dengan nyata. Ke-engganan dan ketaatan untuk tidak melanggar yang telah diungkapkan, pada hakekatnya dapat memberikan dampak yang positif.

Jadi sebenarnya, banyak sekali dilaksanakan pelanggaran, tapi tak ada yang mampu mempengaruhkan kebenaran dengan tuntas, sehingga terjadi hal yang lebih banyak negatif saja. Ada yang menyatakan kepada penulis, bahwa dimana pun, bila tidak ada pesekongkolan untuk mendapatkan sesuatu keberhasilan, misalnya dalam hal bisnis, maka kita akan selalu ketinggalan kesempatan untuk <Maju>. Benarkah menurut pembaca, bahwa hal itu seharusnya demikian ? (dilanjutkan/Ijs)

 H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :