* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Jaminan yang tuntas merupakan suatu ketetapan yang dapat diterima dengan telak dan tidak akan mendapatkan perubahan lagi yang bisa terjadi karena pengaruh dari persepsi yang berbeda atau beda pendapat.
Memang, kelakuan atau perilaku positif pada zaman kini sulit dapat dipertahankan. Salah satu sebab adalah, bahwa kebiasaan untuk tidak berterus terang telah dapat masuk kedalam suatu pembiasaan dan menjadi suatu budaya, yang bila tidak diperhatikan dengan tuntas, akan menjadi perilaku yang diterima dengan wajar. Siapakah diantra para pembaca yang sesuai dengan pemikiran penulis?
Dicatat dari semua komentar yang penulis kumpulkan dan menjadi semacam bentuk statistik, ternyata, bahwa masih ada saja diantara para pembaca yang menuju kepada arah yang bisa memberikan setumpuk kesulitan kepada mereka itu. Belajar berterus terang memang tidak diperhatikan benar didalam pendidikan akhlak oleh kebanyakan orang tua. Hal ini juga, karena mereka sendiri tidak mendapatkan pengalaman pendidikan mereka senditi yang diperlukan didalam mengasah akhlak tersebut. Dan hal ini akan menjadi rantai negatif yang akan terbentuk didalam jiwa, bila tidak diperhatikan dengan seksama.
Bila kita enggan untuk mengatakan kepada orang lain yang menyangkut bentuk perasaan yang kurang dapat diterima, kita menggunakan cara-cara yang bisa dikatakan diplomasi tadi. Tapi, bila diperhatikan benar hal diplomasi itu, maka ternyata hal ketidak terus terangan atau menghindar dari suatu kenyataan telanjang tersebut, akan selalu terjalin didalam cara kita mengutarakan atau menyatakan sesuatu yang dijaga tidak akan menyinggung suatu perasaan, bukan begitu yang telah dibiasakan???
Memang tidak banyak orang yang sudah siap benar untuk menerima suatu tegoran atau kejelasan yang terkadang dapat menyinggung suatu perasaan. Hal ini merupakan suatu sikap gengsi yang tak pada tempatnya! Sudah tentu, didalam hal ini diperlukan suatu kondisi yang santai pada tingkatan Alpha Optimal untuk menerimanya, sangat diperlukan. Jadi tidak ada rangsangan emosional yang dapat memicu gejolak nada tinggi. Karena apa yang dikatakan itu ada kemungkinan dapat memperbaikai perilaku kita yang sudah mulai menyimpang serta mengakuinya dengan terus terang!
Ini juga yang akan menjadi benang merah didalam mengetahui melalui suatu <kepekaan> bahwa sebenarnya kita memang telah melaksanakan penyimpangan. Apakah itu sengaja atau tidak, kepekaan itulah yang akan menjadi tolok ukur yang paling tepat dan ampuh. Menjadi seseorang yang benar-benar positif memerlukan suatu <kondisi> keseimbangan antara perilaku didalam keadaan <sadar> dan yang mempunyai sumber pada kedalaman komdisi sub-sadar. Hal ini belumlah begitu dimiknati oleh kebanyakan orang didunia ini.
Kata Jose Silva, bila semua individu telah dapat mempunyai keseimbangan telak antara kemampuan obyektif dan subyektif, maka kita dapat mengharapkan adanya suatu dunia yang bentuknya jauh berbeda dari kondisi pada saat terkini. Apakah para pembaca sependapat dengan ucapan penulis ini? Dan apakah kita juga bersedia untuk ikut <merubah> bentuk dunia tersebut? Menurut DR.Jose Silva, hal itu sangat mungkin dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, bukankah demikian kenyataanya?
Penulis sudah akan dapat meramal apa yang akan diucapkan oleh kebanyakan diantara kita. Banyak yang akan menyatakan, bahwa memang harapan mengandalkan perilaku semua manusia yang bisa jujur, terus terang dan selalu positif masih merupakan hal yang dikatakan <Utopi> atau angan-angan belaka. Tapi bagaimanakah caranya, dan siapakah yang akan mencetuskan adanya suatu perubahan seperti itu, bukan? Kelihatanya sulit, dan tidak tahu kapan dan bagaimana harus memulainya. Disinilah peran orang-orang yang berkuasa diperlukan, seperti mereka telah melaksanakan pengaruh pada semua kejadian didalam menjalankan pemerintahan.
Memang para pembaca yang budiman, sejak penemuan cara berpikir yang menjamin suatu cetusan yang selalu positif, yang telah ditemukan dalam kurun waktu puluhan tahun silam, hingga saat terkini, masih terlalu sedikit orang-orang yang mau dan mampu melaksanakan perubahan diri tersebut.Banyak diantara kita yang sudah merasa seakan <mapan>, tapi masih saja dilanda masalah-masalah.
Mereka telah terkena <imbas> kebiasaan yang nuansanya negatif dan karena hal itu diikuti oleh kebanyakan orang, maka ditanggapi sebagai sesuatu yang <lumrah> dan <wajar>. Kelumrahan itu sudah demikian mendalam, dan akan memerlukan waktu panjang untuk bisa melaksanakan perubahan itu. Untuk itu, dengan cara konvensional akan memakan waktu panjang sekali. Tapi melalui pendidikan <subyektif> hal itu dapat dilampau dengan cepat.
Segala sesuatu yang menyangkut hal suatu <perubahan> pada diri sendiri, memang sangat tergantung dari kita semua. Dapat merasakan bahwa perubahan itu sangat diperlukan bila ingin menghadapi masalah-masalah yang crucial atau sulit dan semrawut.
Pada dasarnya, semua manusia selalu akan mengalami perubahan, apakah hal itu menyangkut yang berbentuk negatif ataupun positif. Yang beruntung dapat <mengenali> diri sendiri, akan mampu merasakan adanya hal-hal yang negatif yang sedang mempengaruhi dirinya. Mengetahui hal itu mempunyai makna tersendiri dan bisa dikatakan mempunyai keberuntungan didalam melaksanakan keputusan didalam merubah diri. Bila tidak, maka merubah diri akan merupakan usaha yang sulit sekali.
Kita sudah mengetahui, bahwa suatu persepsi dari apapun berbentuk informasi yang nyata atau obyektif, kita ukur dengan jumlah persepsi serupa dari orang-orang lain didalam limgkungan. Kita masih selalu meragukan perasaan kita sendiri yang mendukung suatu bentuk persepsi tersebut, bukan begitu kenyataannya ?
Kita harus juga mempunyai kemandirian didalam mengutarakan pendapat dari suatu persepsi, yang menurut kita benar atau tidak benar. Disinilah suatu kepekaan intuitif akan sangat berperan, yang dapat dirasakan diluar dari dimensi obyektif, tapi merupakan kenyataan dari dimensi subyektif, yang kita belum begitu kenal dan dapat mempercayainya.
Bila hal yang diutarakan ini dapat berkembang dengan telak, maka pengaruh lingkungan akan segera berubah menjadi kita yang mampu mempengaruhi lingkungan. Karena <Kita> dapat melihat dengan jelas dimana letaknya kebenaran dan yang berlawanan dengan itu. Menjadi seorang yang menuntun pada kenyataan yang benar, memerlukan kemampuan subyektif yang tanpa adanya analisa, logika dan selalu rasional.
Sudah tentu kemantapan akan informasi yang benar tersebut, harus dapat kita verifikasi. Dan hal inilah yang hanya dapat ditangkap dengan terang, bila kemampuan kita sudah diatasnya berpikir hanya dengan fungsinya melalui sebagian kemampuan kita saja, yaitu hanya menggunakan Fungsi Otak bagian Kiri.
Penulis harapkan bahwa artikel-artikel yang dimuat didalam indosiar web ini, setidaknya dapat memberikan ungkapan yang belum dapat dirasakan serta difahami dengan telak oleh para pembaca pada bidang apapun. Memang harus ada seorang yang sudah menggunakan Otak Bagian Kanannya, yang memberikan penjelasan seperti ini. Akan tuntas tanpa diumbang-ambingkan oleh informasi yang bersimpang siur yang demikan luas, berulang kali dan banyak, tapi yang sebenaranya tidak baru lagi.(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America