Sosbud
2-Jun-2008 10:22:43 WIB
MAGIC BRAIN
Pembatasan Ekspresi Pendapat Merupakan Kelemahan Kelompok dan Diri Sendiri



* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar  

 

Belakangan ini terjadi banyak rumo atau desas-desus bahwa akan dilaksanan pembatasan meng-ekspresi atau mengeluarkan pendapat yang merupakan ketidak senangan yang menyangkut perilaku seseorang. Dapatlah dimaklumi, bahwa hal ini pula merupakan semacam kritik yang konotasinya dapat mengarah kepada merusak nama seseorang atau sebaliknya, yaitu meningkatkan nama baiknya, bukan ?

Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan didalam hal adanya gejala seperti ini. Kebanyakan diantara manusia kelihatanya tidak menyukai adanya kritik terhadapnya, karena menimbulkan perasaan merugikan dirinya, mengenai gengsi pribadinya. Perasaan semacam ini tak dapat ditempatkan sebagai hal pukul rata atau umum. Ini menyangkut pembentukan sifat seseorang yang diperoleh melalui suatu pendidikan, pembiasaan, pengalaman serta apa yang ditimbulkan oleh adanya persepsi pribadi mengenai suatu pendapat.

Seorang yang merasa dirinya kuat didalam melaksanakan perilaku sebagai manusia yang pada dasarnya positif selalu dan tak pernah melanggar hal itu sepanjang hidupnya, dengan catatan, bahwa <emosi> dapat dikendalikan melalui pengertian yang telak akan hal itu, tidak akan pernah merasa dirinya perlu dikritik. Karena diketahui, bahwa kritik yang dilontarkan kepadanya itu menyangkut sifat-sifat iri hati, ketidak pengertian akan kelemahan diri  dari orang yang mengritik itu.

Disinilah terdapat kenyataan, bahwa seorang dengan ciri-ciri kekuatan seperti itu mempunyai sesuatu yang disebut bentuk <kharismatik> yang ditimbulkan dari rasa Percaya Diri atas dasar kepositifan. Mengenal diri sendiri merupakan sesuatu yang dapat ditimbulkan oleh kepekaan intuitif yang dapat merupakan hal cerah-pikir atau sering disebut clairvoyance.

Pada hakekatnya setiap manusia mempunyai kemampuan <cerah-pikir> tersebut yang sudah tentu akan timbul bila kita bebas dari suatu kondisi <Stres>. Yang disebut terakhir ini, memang merupakan sesuatu yang <tidak> pernah dapat dirasakan dengan telak! Apakah gerangan yang terjadi pada diri kita bila dihinggapi oleh stress tersebut?

Penulis tak akan bosan-bosanya untuk mengemukakan hal ini. Karena erat sekali berhungan dengan <Kondisi Pelestarian Proses Kesehatan> dari tubuh kita. Tekanan-tekanan yang berakibatkan pengaruh mengganggu pada <KPPK>, akan selalu mengarah kepada berkurangnya perasaan cerah, rasa kenyamanan pada tubuh, daya konsentrasi, daya ingat, daya intuitif, daya kepekaan, rasa segar dan banyak lagi hal-hal yang dapat disebut disini. Kesemuanya mengarah kepada suatu kondisi <perusakan>. Dapatkah hal ini difahami dengan tuntas, para pembaca ?

Karena kehidupan kita banyak sekali dipenuhi dengan <kekecewaan>, ketidak senangan dan lunturnya <kepuasan>, maka gejala-gejala tersebut akan menjadi bentuk <pembiasaan> didalam perekaman pada <neuron-neuron Otak> kita, yang menjadi kita terkelola dengan bentuk seperti itu. Celakanya, bila telah diterima oleh pengelolaan tubuh melalui <mind set> atau <pemrograman alam pikir>, maka hal itu akan sulit sekali dihilangkan.

Gejala yang akan timbul pada pemikiran dan tubuh kita sudah jelas, yang para ahli kesehatan menamakanya adanya bentuk penyakit <psikhosomatis>. Kenalkah para pembaca dengan istilah ini? Tidak lain artinya adalah penyakit dengan kekuatan apapun – ringan atau berat – yang dikelola oleh <Alam Pikiran> kita sendiri. Jadi memang sudah jelas, bahwa memperbaiki serta menyehatkan kembali gejala itu akan bisa tuntas melalui pengendalian dari rangsangan yang ditimbulkan oleh bentuk <program> didalam <Alam Pikiran> kita masing-masing.

Penulis dengan penjelasan ini ingin membuka kekurang fahaman yang menyangkut hal gejala <stres> tersebut. Harus diwaspadai, diawasi dan dikendalikan melalui kepekaan intuitif kita sendiri. Penulis memahami sekali, bahwa kebanyakan diantara manusia, kita sendiri, kurang dapat mengetahui bahwa suatu gejala penyakit yang timbul pada tubuh kita, dan dirasakan sebagai sesuatu yang <mengganggu> merupakan <penimbunan> dari tekenan stres tersebut.

Bila kita sudah dapat mengetahui dengan telak akan hal seperti itu, maka akan mudah untuk meredakan dengan mem-<fokus> diri pada gejala tersebut. Suatu bukti adalah, bahwa cara pengendalianya merupakan unsur mutlak, dan dapat dilaksanakan melalui cara <pengendalian> serta <pengenalan> kelemahan-kelemahan diri sendiri.

Ini merupakan penjelasan, mengapa orang suka mengritik, karena tidak menyukai seseorang yang, menurut dirinya, menimbulkan rasa <jengkel> disebabkan oleh ketidak serasian pada sifat diri sendiri. Jadi, yang mengritik biasanya kurang <mengenal diri>-nya sendiri yang merupakan suatu <kelemaham diri>.

Kalau hal bentuk kritik itu memberikan dukungan kepada seorang yang dikritiknya, maka hal itu pada hakekatnya bukan merupakan <kritik>, tapi <dukungan pikiran>, dan dengan sendirinya akan selalu sesuai dengan pendapat kita sendiri. Kata orang hal itu lalu disebutnya <kritik membangun>, bukan. Istilah itu tidaklah <tepat>, karena sifat dari konotasi <kriktik> mengarah pada konotasi negatif. Akan dapat merusak hubungan baik antar manusia, sehingga terjadi yang tadinya teman menjadi musuh.

Apalagi bila dipacu oleh <emosi> yang tak terkendali, maka perusakan akan makin menuju kepada keparahan, tidak ada rasa kepedulian rasa <sayang> kepada sesama dan seterusnya sampai berakhir mejadi <musuh bebuyutan>, perang saudara, kelompok masyarakat, Negara dan seterusnya.

Perhatikan hal ini masak-masak dan jangan merasa bahwa diri sendiri selalu benar dan baik! Demikianlah Kenyataan untuk memperbaiki kondisi lingkungan mulai dari kekeluargaan , tetangga, masyarakat dan seterusnya.

Bila istilah yang sedang diperjelas melalui artikel ini, masih belum juga dapat dirasakan dengan telak,maka hal itu manandakan adanya gejala stres yang sedang hinggap pada diri seseorang, tanpa dirasakan serta diketahuinya. Mengetahui dengan telak, bahwa kita mempumnyai kondisi stres tersebut, akan membawakan kita didalam kondisi <kewaspadaan> yang akan memberikan kemampuan tuntas didalam mendukung KPPK yang telah diuaraikan diatas itu.

Yang masih saja membandel, dan seakan tidak mempercyai hal itu dan meremehkan informasi seperti ini, akan dengan sendirinya <bertanggung jawab> penuh pada diri sendiri untuk hal itu selama hidupnya dengan segala <konsekuensi> yang terdapat, karena adanya HTBA atau Hukum Timbal-Balik Alam, yang mana setiap manusia tak dapat melepaskan diri dari hal itu. Demikianlah Kenyataanya.(Ijs)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

 

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :