* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Semua manusia, tak ada yang terkecuali dalam hati kecilnya, sudah <pasti> menginginkan unsur-unsur yang akan dibentangkan seperti disebut pada judul diatas itu. Dapatkah para pembaca membayangkan keadaan seperti itu sepanjang masa kita hidup didunia ini ? Kelihatanya masih merupakan perjalanan panjang dan akan baru terjadi pada zaman, dimana setiap insan dapat memenuhi inti <Kreasi>-NYA. Yaitu manusia yang se-<Utuhnya>. Utuh didalam arti kata seluas-luasnya, sehingga dapat melaksanakan <keseimbangan> yang sangat diperlukan untuk menciptakan suasana dunia seperti disebut dalam judul itu.
Bila kita merenungkan hal ini, timbulah pertanyaan, apakah itu merupakan <Hak> kita, setiap manusia yang di-<hidup>-kan melalui kelahiran pada bentuk tanah bulat –planit- yang kita namakan <Bumi> ini. Bisakah hal itu terjadi dalam masa-masa yang akan datang? Mampukah para <penerus>, yaitu generasi yang menyusul kita, menciptakan kondisi <Ideal> seperti disebut tadi? Apakah kita, generasi terkini sudah mampu memberikan suatu <Contoh> yang mempunyai <Qualitas> atau <Mutu> yang mapan ,yang dapat dijadikan pondasi oleh mereka yang menyusul kita?
Terus terang, kondisi seperti itu, nampaknya <belum> muncul dengan tuntas. Dan dasar pondasi itu menjadi penuh dengan berbagai macam bentuk dataran yang tidak <Rata>. Memenuhi perjalanan pada dasar seperti itu, akan tidak <Mulus> dan akan memakan waktu untuk melaluinya, sehingga tujuan kecerahan tak akan tercapai sebagaimana di-<Kehendaki> oleh <Sand Khalik>.
Hal ini ibarat perjalanan yang penuh dengan berbagai macam halangan yang harus diratakan terlebih dahulu untuk mencapai tujuan dari <makna kehidupan> yang mulus dan layak bagi makhluk manusia pada umumnya, bukan?
Itu merupakan <Tanggung Jawab> generasi dimana kita kini sedang berada, bila benar-benar dan dengan serius ingin berusaha kearah kedamaian yang meyeluruh, bukan? Tapi bila kita telusuri sejarah manusia dari milenium ke milenium, maka nampaknya masih sangat sulit untuk mencapai hal yang disebut diatas itu. Apakah ini yang kita selalu namakan <Kelemahan Manusia>? Dan mengapakah kita mengakui hal itu? Tidakah kita ini pada hakekatnya merupakan <Ciptaan> yang paling <Sempurna>, yang akhir-akhir ini banyak diselidiki serta dikaji yang menyangkut hal <kesempurnaan> itu? Takutkah kita untuk mempunyai <Kesempurnaan> itu, yang akan memberikan unsur-unsur untuk membentuk suatu dunia yang kita andalkan sepanjang masa?
Dunia pada saat terkini, dengan suatu perkembangan <Teknologi Fisik> yang kini masih dianggap ter-<Canggih>, dengan susah-payah berusaha menciptakan kedamaian antar manusia didalam negara masing-masing. Kita berusaha menghindarkan diri dari suatu <Peperangan> dimana seluruh negara yang berada kini akan melibatkan diri, menjadikan lagi suatu keadaan yang disebut didalam primbon <Djojobojo> (ejaan lama) dan ramalan <Nostradamus> dan <Edgar Caesy> sebagai <Perang Dunia ke III>.
<Jucelino Nobrega da Luz> adalah orang Brasil, lahir tahun 1960, profesinya saat ini ialah guru sekolah, dan dengan istri serta kedua anaknya menjalani hidup yang sederhana, ia adalah penduduk kota yang sangat biasa. Peristiwa yang ia ramalkan disertai tanggal,bulan, tahun kejadian bencana besar dan dilengkapi dengan petunjukyang jelas, selain itu agar di kemudian hari jikalau terdapat piha ketiga yang meragukan keabsahan ramalannya, Jucelino selalu mempublikasikan ramalan dengan tanggal dan peristiwa kejadian, meminta untuk disahkan biro notaris atau jawatan pos negara, sehingga memudahkan pihak lain melakukan pemeriksaan.
Bentuk suatu peperangan, para pembaca, bisa merupakan bentuk dengan macam ragam dan cara yang menyangkut hal bagaimana melaksanakanya. Apakah hal itu berbentuk <kecil-kecil>-an atau sekaligus yang besar dan akan memusnahkan sebagian besar dari penduduk dunia yang kini berjumlah lebih dari lima milyar penghuni itu. Kenyataanya akan mengarah kesitu, karena ternyata semua negara ingin mempunyai <Senjata Nuklir> yang demikian dahsyatnya, sehingga sekali meledak akan mematikan <Jutaan> manusia.
Segala bentuk perundingan yang sedang dan akan dilaksanakan untuk meredakan suatu kondisi yang bisa mengarah kepada perang lagi, kini banyak sekali dilakukan. Tapi kelihatan, bahwa setiap permufakatan tidak sekokoh yang diharapkan dan masih bisa digoyahkan, bila ada saja seorang manusia yang sedang berkuasa memimpin suatu negara besar, tidak mempunyai <Nyali Kepekaan Intuitif>, yang dapat digunakan untuk mengetahui inti pemikiran yang timbul pada pemimpin lainya, untuk dapat diredamkan dengan suatu <Pengaruh Subyektif> atau <remote viewing> yang ternyata sangat <Ampuh>!
Tetapi, bila keampuhan itu tidak dipergunakan sebagaimana semustinya, dan juga kurang mendapatkan <partner> pada taraf serupa, maka tidak akan dengan tuntas dapat merubah kondisi dan situasi didunia ini. Peperangan kecil-kecilan kini timbul dimana-mana yang tujuanya tidak lain memberikan suatu <Pembenaran> dari cetusan suatu peperangan, yang terjadi di Irak, Palestina, Afghanistan, Pakistan, Yugoslavia, bekas Uni Sovyet, Tibet dan masih banyak lagi yang dapat diungkapkan disini.
Dimana sebenarnya letak dari sumber penyebabnya? Apakah hal itu merupakan perubahan <Iklim> dan bisa jadi merupakan ke-<Hendak Tuhan>? Ataukah HTBA atau <the Universal Law of Reciprocation> sedang melaksanakan peranya? Apakah kita sebagai makhluk manusia mengetahui benar akan hal itu? Manusia yang sempurna, karena ke-<HendakNya> seharusnya sudah dapat meng-<antisipasi> kondisi seperti itu.
Kenyataanya adalah, bahwa kita <Belum Sesempurna> yang di-<Kehendaki> oleh Tuhan, Pengatur Jagad Raya atau Universe ini. Kita masih membandel terus dan selalu mengharapkan pengampunan, bila telah berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebenaran atau dari kondisi <Positif> kepada kondisi <Negatif>. Apakah pengampunan itu segera akan menghilangkan <Noda> yang kita sendiri telah perbuat dalam jumlah berkali-kali yang tak pernah mempunyai kata <Tamat> atau <End>?
Bagaimana pendapat para pembaca yang menyangkut hal ini, setujukah atau masih ingin mencari pembenaran? Kita janganlah menutup mata secara separoh, dan membiarkan kondisi penyimpangan itu berlalu dengan segala <konsekwensi>-nya. Kita seharusnya <waspada> melalui mawas diri atau <low profile> dan mengurangi banyak bicara secara verbal. Kita seyogyanya banyak menggunakan kemampuan pengaruh keampuhan <Subyektif> yang memang telah di-<Cipta>-kan dodalam diri kita masing-masing.
Yang sudah mengetahuinya kurang mengamalkan hal itu, karena diri sendiri belum mempunyai kondisi seperti itu. Masih saja dibatasi oleh <Ruang> dan <Waktu>, yang merupakan hal kondisi Logika, yang adalah ke-rasional-an dari fungsi <Otak Bagian Kiri> pada dimensi Nyata atau Obyektif. Untuk membeli mobil mewah dan rumah mempunyai <keutamaan> atau <prioritas> didalam konsep perjalanan hidup kita masing-masing. Kita berani mengarah kepada penyimpangan-penyimpangan yang jels ada penjelasanya dan tak akan dapat ditutupi dengan suatu pembenaran.
Bila Alam bekerja seperti itu, maka konotasi dari semua Ciptaan Tuhan memberikan arah <Membangun> dan <Menghancurkan> lagi, yang jelas diartikan dengan <Menghidupkan> dan <Mematikan>. Bila bicara mengenai hal kematian, maka hal itu berlaku bagi kondisi Fisik, tapi nyatanya <Tidak> berlaku bagi hal yang Non-Fisik. Yang dinamakan <Hidup> ini akan terus berlangsung <Tanpa> kondisi Fisiknya. Masihkah para pembaca mempunyai keraguan akan hal ini? Gunakanlah ke-<sempurnaan> kita masing-masing melalui introspeksi yang dapat dibantu oleh penemuan-penemuan subyektif yang termasuk canggih juga, seperti halnya dengan kecanggihan teknologi obyektif, bukan demikian seharusnya ? (Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America