Suatu riset mengenai hal apapun yang ditujukan bagi kemajuan, kemampuan serta pengembangan manusia, khususnya dalam bidang <Alam Pikiran>, mempunyai dasar <filosofis> yang oleh kebanyakan diantara kita kurang dapat difahami. Hal kenyataan ini memang merupakan sesuatu yang perlu dibahas dengan tuntas, untuk mendapatkan pengertian yang mendalam, sehingga suatu persepsi yang menyangkut hal ini tidak akan kacau.
Seorang manusia yang sangat <cerdas> atau <intelligent>, biasanya didukung oleh suatu kemampuan yang adalah <alami> berupa kadar <bakat> yang vibrasinya berasal dari ketentuan serta keteraturan dari HTBA atau Hukum Timbal-Balik Alam. Mereka dapat merasakan serta memahami benar akan hal ini, yang menuntun dirinya sebagai orang <istimewa> yang bakal dijadikan panutan bagi sesamanya.
Mereka itu mempunyai <Visi> atau penglihatan yang sangat <Luas> yang menyangkut hal konstruksi <Spiritual> yang kini baru diperhatikan dengan luas serta dalam diantara mereka yang berkecimpung didalam bidang riset spiritual tersebut. Bila diteliti dengan tuntas, maka penemuan-penemuan yang menyangkut <Agama> pun termasuk bidang yang dikatakan <Subyektif> dan juga dikenal dengan kata <Sains Isoteris>. Marilah penulis bentangkan persoalan ini, untuk dijadikan pengertian yang memperluas wawasan yang disebut <Subyektif> tadi.
Para penyelidik itu memperhatikan benar hal-hal yang menyangkut peran dari hubungan <Subyektif> itu yang akan di-<pindahkan> pada dimensi <Obyektif>. Hal ini akan dijadikan pedoman selanjutnya didalam pelaksanaanya. Memahami getaran informasi subyektif, nyatanya hanya dapat ditangkap oleh mereka yang <sangat peka> didalam pandangan akan hal yang disebut tadi. Kepekaan seperti itu kini telah diketahui, dan dapat timbul karena adanya kondisi <nirsadar> dengan vibrasi 10 getaran Otak per detiknya. Sebagai seorang yang tak terlatih dan tak berbakat untuk penangkapanya, mustahil akan dapat menerima serta memahami informasi yang halus tapi sangat nyata itu.
Apakah hal ini merupakan sesuatu yang tak mungkin terjadi dengan nyata? Segala realita yang timbul didalam kehidupan manusia merupakan rangkuman dari getaran-getaran yang mendominasi dari unsur <pemikiran> kita masing-masing. Hal ini telah dipantau didalam keseluruhan oleh adanya Hukum Alam yang bersifat timbal-balik itu. Manusia pada hakekatnya mampu merasakan dan belajar dari Hukum Alam tersebut.
Tapi <egoisme> yang terkadang tak dapat dikendalikan telah merusak adanya hubungan dengan Hukum Alam tersebut dan seakan ingin menyempurnakanya. Kita belum begitu peka untuk dapat merasakan bagaimana informasi dari dimensi subyektif itu selalu memberikan performa timbal-balik atas segala sesuatu yang ditimbulkan oleh pikiran manusia serta tindakanya.
Bila tindakan kita selalu <Positif>, maka kita tidak akan terkena benturan dari pantauan HTBA. Kita akan merasa seolah didukung didalam perjalanan hidup kita yang tidak pernah akan dihadang oleh kondisi yang kita namakan masalah. Sebaliknya, kita akan terus menerus dihadapkan pada berbagai bentuk hadangan yang kita kenali sebagai suatu <Masalah>. Hal ini pula yang kebanyakan diantara kita menyebutnya <Cobaan Tuhan>.
Kenyataanya adalah, bahwa hal cobaan itu telah timbul karena <Ulah> kita sendiri, yang mana pemikiran serta tindakan kita tidak <paralel> atau sejalan denga HTBA tersebut. Fahamkah kini para pembaca mengenai ungkapan ini?
Kita hidup didalam vibrasi alam semesta yang mana dengan adanya suatu <proses kematangan pemadatan> yang dipantau oleh HTBA, menjadi bentuk materi dengan segala nuansanya, yang kita dapat melihatnya dengan mata fisik. Bahwa dapat terjadi hal bentuk yang menurut kita mengagumkan atau aneh, tergantung dari <Kadar Penangkapan> serta <Kadar Persepsi> kita masing-masing. Demikianlah kenyataan yang dapat kita pantau dengan, baik <Indra Fisik> maupun <Indra Non-Fisik> kita sebagai makhluk manusia.
Belajar menggunakan kedua Indra kita akan merupakan ke-<Sempurnaan> yang memang sudah sejak lahir di-<Ciptakan oleh Yang Maha Sempurna>, bukan begitu hendaknya ditanggapi oleh para pembaca? Mereka yang hidup sesuai dengan keteraturan, ketentuan serta kenyataan dari HTBA, merupakan manusia yang <Utuh> dan akan unggul dalam keseluruhan, baik dengan kenyataan <Obyektif> maupun kenyataan <Subyektif>.
Pertanyaanya adalah, bisa- dan mampukah manusia mengarahkan serta merubah dirinya pada <Kenyataan> seperti yang diutarakan ini? Pasti bisa, ini menurut penglihatan penemu system perubahan sifat manusia, DR.Jose Silva dengan <sains> barunya yang kini anda kenal dengan <Psychorientology>.
Segala sesuatu yang menyangkut kemampuan manusia se-<Utuh>-nya akan dapat dilaksanakan yang akan merupakan perubahan <Telak> dari segala sifat-sifat kita yang merusak dan tidak mambangun!!! Demikian Kenyataanya.(Ijs)