* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Otak bagian Kanan mempunyai kemampuan untuk mengatur dunia <non-fisik>, informasi subyektif dan kondisi spiritual. Otak bagian Kiri mempunyai kemampuan untuk mangatur dunia <fisik>, informasi obyektif dan segala bentuk materi.
Bila Alam Pikir diarahkan kepada hanya kemampuan fungsi Otak Kiri, maka kita akan berhubungan dengan <tubuh fisik>, dan bila diarahkan kepada kemampuan fungsi Otak Kanan, maka kita akan berhubungan dengan <tubuh spiritual> atau tubuh yang <non-fisik>.
Pada saat itulah Alam Pikir dapat berhubungan dengan segala kondisi yang non-fisik, keadaan spiritual yang dimensinya adalah subyektif. Tuhan yang Maha Esa dan kondisi Sorga darimana kita di-Cipatakan atau berasal, melalui kelahiran dan kemana kita akan kembali lagi dengan <tubuh Spiritual> pada dimensi subyektif tersebut, bila dikatakan kita telah meninggal(kan) dunia. Tubuh spiritual akan tetap ada dalam kondisi <Hidup>. Dan hal ini akan membantu manusia tanpa terkecuali, untuk mampu merasakan ke-spiritual-anya dan lalu akan lebih percaya akan adanya kondisi seperti itu!
Hewan berfungsi dalam <oktaf> pertama dari evolusi pusat pikirnya dan melaksanakan <respon> melalui <insting> yang diterima dari lingkungan. Hewan menjadi seperti itu karena hanya memelihara jenis dirinya sendiri, hubungan dengan ‘keluarga’ sejenis tapi tidak memelihara jenis hewan lainya. Daya inteligensia sangat terbatas.
Seorang yang bereaksi dan bertindak seperti itu, kenyataanya tidak berfungsi sebagai manusia dan dengan sendirinya tidak akan manusiawi dan tak spiritual. Seorang manusia mempunyai <intuisi> (insting pada hewan) memelihara diri sendiri, keluarga yang paling dekat dan juga yang diluar keluarga itu, karena jenisnya serupa. Orang yang makin <spiritual> akan lebih <manusiawi> daripada yang sebaliknya. Ia akan selalu menyayangi atau mempunyai <kasih sayang> pada sesamanya didalam perkembangan jiwanya dan akan bertindak juga seperti itu.
Peningkatan spiritual tidak akan timbul bila manusia terlalu fokus kepada <materi> yang bila diperdalami, akan merusak <Jiwa Murni>-nya. Hal ini merupakan kewajiban kita semua untuk mewaspadai tindakan dari sesama kita yang akan terjerumus kedalam kancah materi dan melupakan ke-spiritualanya atau tidak merasakanya sama sekali, sehingga mendapatkan persepsi yang tak tepat dan bisa <amburadul> antara ketentuan materis dan spiritual.
Yang mana didalam tuntunan agama sangat diperhatikan, tapi yang hanya merupakan pengetahuan <gagasan> belaka, dan tidak menyatu dengan penjelasan maknanya yang menyangkut cara hidup spiritual, bukan begitu kini terjadi di tanah air kita serta dimana-mana didunia ini? Persepsinya banyak yang tak sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam pedoman buku-buku Agama tersebut.
Dengan keterbukaan dan keleluasan performa spiritual pada diri masing-masing, maka kondisi manusia akan menonjolkan fungsinya ber-<perilaku> dan mampu mengontrol Otak Kiri yang tergantung dari dimensi obyektif, sehingga akan terjadi suatu pengontrolan atau pengawasan ketat dan tuntas dari fungsi Otak Kanan terhadap Otak Kiri.
Maka akan terjadi <otomatisme> bila penggunaan Otak Kanan diperkembangkan dengan seksama dan tuntas. Hal ini akan memupuk adanya <mekanisme Servo> atau pembiasaan <refleksasi> pada Alam Pikir, sehingga segala tindakan melalui fungsi tubuh akan dikuasai oleh Alam Pikir yang sudah menyatu atau mempunyai <integrasi> antara nirsadar dan kesadaran.
Manusia yang <Spiritual> percaya, mengakui dan menyaksikan segala Ciptaan Tuhan, baik yang <fisik> maupun yang <non-fisik> dan akan mengabdikan dirinya kepada segala sesuatu yang menjadi <Inti Missi> dari <Ciptaan-NYA> tersebut tanpa doktrin dan dogma. Tidak mudah tergoncang dengan imingan materis yang diketahui akan merusak kondisi <Emosi Jiwa>.
Orang seperti itu pun tidak akan pernah mempunyai niat untuk melaksanakan penganiayaan, penjajahan serta penekanan dalam bentuk apapun terhadap sesamanya. Ia akan lebih banyak mempunyai niat untuk selalu memikirkan kesejahteraan orang lain atau sesamanya dan dengan demikian kedudukan takdirya akan meningkat dalam segala bentuk kemajuan, baik materis maupun yang non-materi yang didapatkan melalui <Rido> Sang pen-Cipta sekalian Alam.
Seorang yang <spiritual> akan selalu didalam keadaan <Damai>, mempunyia kesabaran, sifat rendah diri atau <low profile>, tidak pernah menonjolkan diri untuk menguasai seseorang. Inilah bentuk seorang yang paling <Ideal>, bukan?
Orang dengan kondisi seperti itu akan selalu berada pada yang dinamakan kondisi <Alpha Optimal> atau didalam vibrasi <10 Hertz> atau <10 getaran per detik> dan akan mempengaruhi semua partikel sub-atomic pada dirinya. Hal ini akan melaksanakan <Pelestarian Proses Kesehatan Tubuh>, menjadi selau <Sehat> didalam cetusan Pikiranya, tindakanya dan segala keputusan yang akan didasarkan atas kondisi spiritual yang akan selalu <Baku Positif>.
Orang seperti ini akan terhindar dari segala bentuk hadangan yang <merusak> strukturnya dan akan selalu <Siap> melaksanakan <Pembangunan> Jiwanya. Samakah hal ini dengan yang disebut ber-<IMAN> para pembaca? Hanya 10 % dan mungkin juga bisa kurang dari itu, yang mempunyai bentuk kondisi sebagai manusia yang dikatakan mempunyai ke-<Sempurnaan> yang menjadi ke-Hendak serta tujuan CiptaanNya <Yang Maha Esa>, bukan?
System Silva ini akan memperbaiki kondisi Jiwa manusia dengan telak dan pasti didalam jangka waktu yang singkat dibandingkan dengan cara-cara obyektif yang hingga kini kita ketahui serta laksanakan.
Dalam jangka waktu tak terbatas kita menjadi makhluk dengan performa <Celestial> yang artinya mempunyai sifat yang menyatu dengan Alam Semesta atau <Universe>, dimana Bumi merupakan bagian <Mikro> dari seluruh Ciptaanya dan dimana manusia merupakan <debu kosmik>. Ingat selalu filosofi yang dibentangkan dengan luas ini, carilah perubahan yang sesuai dengan ke-<Hendak Sang Khalik> !!!
Penulis berharap pada suatu ketika akan terjadi perubahan <Besar> pada jiwa kita masing-masing yang mengutamakan penggunaan materi dengan dasar SPIRITUAL.
Demikian tujuan dari penemuan DR.Jose Silva, seorang yang non-intelektual, tetapi yang mempunyai <Inteligensia yang Istimewa>.
Lalu, apakah kita segera akan tertarik dengan segala penjelasan <subyektif> yang telah dibentangkan melalui bentuk naskah pada web indosiar?
Berani terjun didalam dimensi <subyektif> serta dapat mengamalkanya, menjadikan para pembaca seorang Pahlawan didalam memberantas segala bentuk tindakan <Negatif>….Amin.(tamat/Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America