* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Ya, para pembaca yang masih mendambakan semangat cetusan kemerdekaan, kini memang terasa sekali perubahan semangat <juang> yang dicetuskan oleh Bapak Bangsa Indonesia: Ir.DR.Soekarno !
Pada saat itu belumlah ada yang dinamakan perhitungan berupa materi Uang atas jasa yang diberikan untuk peristiwa tersebut, bahkan hanya ada <Satu Keinginan>, yaitu membentuk <Negara> yang bebas dari penjajahan, bukan?
Tapi, ternyata banyak pemuda pada saat itu, yang tiada taranya dalam keberaniannya untuk berjuang mati-matian, mengorbankan jiwa dan raga, kini sudah banyak yang <Luntur>. Karena apa bisa seperti itu? Jangan merasa tersinggung karena kita kenyataanya tidak se-<Teguh> yang diharapkan akan bisa meneruskan kondisi serta pengisian <Ideal> kemerdekaan, juga didalam kemerdekaan berpikir dengan membentuk <Niat Tulus>, tapi yang jujur dan positif. Hal ini merupakan suatu <Pendidikan Subyektif> yang mengutamakan unsur <Spiritual> dan dapat mem-<Bebas>-kan diri dari segala bentuk provokatif lingkungan yang menjadi pedoman kita selama ini.
Provokasi yang memacu ketidak puasan yang membentuk sifat <serakah> serta <kesombongan> bila berhasil memupuk materi. Lupa diri akan ketulusan untuk mengingat mereka yang berkecimpung didalam kemelaratan! Ada pepatah yang mengatakan: “Hanya mereka yang mempunyai ‘kaki-kaki’ <Kuat> dapat menanggung beban kekayaan materi”.
Disini terdapat makna yang akan selalu ingat pada sesama yang tidak ada kerjaan, tanpa penunjangan dukungan sosial, dianiaya dengan gajih yang tak pernah cukup untuk hidup <layak> dengan arti <Wajar>. Kurang menghargai mereka yang tidak tertarik untuk berbuat kriminal, tapi yang dengan susah payah mau berjalan jauh membawa gerobak penjual makanan!!! Apakah hal ini tidak menyentuh jiwa kita, para pembaca???
Banyak sekali diantara muda-mudi jaman itu, sudah ber-<paling> kini kepada perjuangan baru, yaitu, bagaimana <meraup> sebanyak mungkin <UANG>, karena hanya itu yang dapat memenuhi kehidupan tanpa <penderitaan> menurut tanggapanya. Tapi bila terkena stress dan mendapatkan akibat bayar Rumah Sakit berjuta-juta untuk bisa melangsungkan hidup, apakah itu merupakan cobaan Tuhan? Bukan demikian, para pembaca. Penderitaan yang kita alami adalah karena ulah kita sendiri, jangan mengurangi kebesaranya Yang Maha Kuasa.
Tapi ternyata juga, yang mempunyai segudang uang selalu di-ikuti dengan berbagai bentuk <masalah> yang konon sulit untuk disingkirkan, karena meraup uang tersebut penuh dengan penyimpangan-penyimpangan dan pelarian dari <Tanggung Jawab> akan perbuatan tersebut.
Darimana lalu kita harapkan suatu perubahan <Jiwa> yang merupakan satu-satunya sumber untuk bisa diandalkan didalam perubahan <Watak>? Menunggu seorang yang akan di-<Tunjuk> oleh <Yang Maha Pencipta>, yang dengan sendirinya akan merubah situasi dan kondisi?
Tidak mungkin para pembaca, kita semua haruslah menyatukan cetusan Pikiran kearah perbaikan dengan dasar penggunaan <Bawah Sadar> atau <Nirsadar>. Hanya dengan demikian kekuatan Spiritual akan mempunyai efek yang TELAK dan PASTI didalam melaksanakan perubahan <Jiwa> tersebut.
Semua orang tua yang masih mempunyai <kebersihan> berpikir, seharusnya mempengaruhi para remaja atau anak-anak didik mereka untuk berbuat selalu bijak, positif dan mampu menghindarkan diri dari provokasi-provokasi negatif yang terbentuk dari rangkuman cetusan pikiran lingkunganya.
Tapi bagaimanakah dengan orang tua yang sudah terkena noda dari suatu nuansa masa untuk meraup uang dengan cara <Korupsi>? Dan bagaimana mereka yang menjadi keturunanya dan menggunakan uang yang <Tak Halal> tersebut??? Apakah kata <Halal> itu kini sudah bebas dari arti positifnya dan dianggap 'remeh saja' serta digunakan sebagai perisai, seperti pada bidang periklanan? Sebegitu rusakkah lalu kondisi Jiwa kita kini? Apakah hal ini tidak juga dapat dirasakan sebagai suatu tindakan yang <memalukan>?
Memang, rasa <Malu> itu sudah tidak mempunyai arti yang selayaknya. Nuansa itu sudah kelihatan berbekas pada anak-anak remaja, yang tidak lain hanya mengikuti saja tindakan-tindakan orang-orang yang lebih tua dengan dianggap sebagai yang memberikan contoh yang benar(?), bukan?
Demikian kenyataan yang harus dibasmi! Bila ditinjau dari sudut penggunaan Kesadaran obyektif, dimana kita rentan akan hal-hal yang menyimpang, maka solusi untuk membebaskan diri kita dari unsur-unsur negatif, tidak akan dapat terlaksana dengan cepat. Akan memakan waktu <beberapa generasi>, dan mengharapkan ada suatu <mukjizat> atau <miracle> terjadi, dengan adanya seorang yang mempunyai sifat-sifat yang <baku positif> selalu.
Dengan hanya mengucapkan <Do’a> memohon kepada <Sang Khalik> untuk mengirim atau menunjuk manusia seperti itu, didalam kancah kenegatifan yang dibiasakan berkembang, tidak akan memberikan hasil yang dapat didambakan.
Sedangkan dengan pengaruh Agama saja, yang mudah sekali dibelok kearah suatu tujuan yang tadinya sakral menjadikan bentuk yang dijadikan suatu <alat politik> sehingga telah dilaksanakan <perkosaan> dari intinya, peganganya menjadi <kendor> atau ringan ketentuan dan keteraturanya, bukan begitu kini sedang terjadi, para pembaca? Bangunlah dan sadarilah kelemahan kita sendiri serta banyak dari sesama kita!
Untuk kembali lagi kepada yang disebut <Inti> tadi yang sudah tidak mulus lagi, karena sesuatu yang telah <diperkosa>, tak dapat dikembalikan lagi kepada kondisi semula yang menyangkut <kemulusan>, yang artinya masih <perawan>. Luka tersebut memang dapat diperbaiki dengan memberikan suatu pernyataan sepertinya tak pernah terjadi, tapi <nyata>-nya <telah terjadi>! Mampukah para pembaca mendapatkan pengertian dari makna tersebut?
Memang, orang menyatakan, bahwa suatu luka akan bisa terobati melalui waktu. Hanya saja, bekas luka tidak akan bisa dihilangkan sama sekali. Hal ini terjadi didalam kondisi <obyektif>. Hanya melalui kondisi <subyektif>-lah, maka segala sesuatu yang tidak mumgkin menjadi mungkin. Demikian Kenyataannya!(Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America