Sosbud
11-Sep-2008 11:27:10 WIB
MAGIC BRAIN
Multi Partai yang Bisa Membuat Kondisi Negara Lebih Semrawut dari yang Sudah-sudah



 

* Ir. DR. H. Rd. Lasmono Dyar

Sebagai pengamat serius dari tabiat serta tindakan manusia, baik dari dalam- maupun luar negeri, penulis tidak akan berhenti dan segan memberikan nasehat serta wawasan yang sangat diperlukan dalam masa-masa yang nuansanya gelap karena adanya banyak hal negatif terjadi dan yang masih saja sulit untuk dapat dibasmi.

Para pembaca dapat membayangkan, mengapa terlalu banyak partai yang ingin berlomba-lomba mencalonkan favoritnya untuk ikut didalam pemilihan umum yang sedang diambang pintu, justru tidak akan memberikan kondisi yang terang benderang serta <mulus> dan <positif>.

Jiwa koruptif masih saja mendalangi niat-niat untuk mempunyai kedudukan didalam pemerintahan dan Dewan Perwakilan Rakyat, yang makna namanya sudah lama tidak mengena bagi kenyataannya. Ini karena jiwa yang duduk disitu tidak lagi memenuhi sifat yang jujur, positif dan utuh sebagai manusia yang memenuhi ciptaan sempurna dari Tuhan.

Memang tidak semuanya seperti yang sudah diketahui dan disebut disini, tapi mereka jumlahnya <minoritas> dan begitu lemah juga, sehingga DIAM saja dan tidak mampu mempengaruhi sesama anggota disitu, bukan? Pada keluarga penulis ada beberapa yang pernah menjadi anggota DPR, dan menyatakan beratnya menghadapi tingkah laku rekan-rekanya. Mereka tidak mempunyai kemampuan <Subyektif> dan enggan membicarakanya dilingkungan situ.

Pernah penulis kemukakan, untuk mengadakan ceramah bagi anggota DPR, tapi mereka katakan, bahwa hal itu belum saatnya untuk dilaksanakan, berhubung konotasi pada saat ini masih serba <negatif> !!!

Didalam kondisi yang normal saja, dimana terlalu banyak orang ingin melihat gagasanya ditanggapi dan dipraktekan, yang dirasakan akan mungkin bisa memperbaiki suatu keadaan yang semrawut, bisa menimbulkan perasaan jengkel, kecewa dan bahkan bisa saja berobah menjadi kebencian. Apakah ini suatu kondisi positif?

Apakah ini sifat mausia sejati, para pembaca? Apakah kita dibuat atau di-<doktrin> sedemikian rupa, sehingga akan selalu menolak keserasian didalam pandangan yang toh masih sempit, karena hanya bertumpu pada kemampuan dan keterbatasan dari fungsi penggunaan <Otak bagian Kiri>? Rasanya memang kita itu masih belum siap untuk menerima suatu kenyataan, bahwa kita terbatas didalam memandang apa saja melalui indra-indra fisik kita masing-masing, bukan???.

Kita sudah termasuk makhluk yang bisa diumbang-ambingkan oleh nuansa serta konotasi yang selalu akan mengarah kepada bentuk kondisi yang negatif yang terisi dengan banyak sekali penyimpangan. Kesemuanya itu sangat tergantung dari penerimaan diri kita masing-masing, yang dihadapkan kepada lingkungan yang seakan memberikan suatu pedoman yang dapat memberikan kemantapan didalam menjalankan hidup yang memang terlalu pendek ini, bukan?

Bahkan, untuk menjaga kelangsungan hidup, mereka bisa saja menjadi apatis dan melaksanakan hal-hal yang nuansanya akan menjurus kepada negatif juga. Sebabnya adalah, bahwa mereka TIDAK mempunyai suatu kepekaan, bahwa diluar suasana DPR itu, masih banyak kesempatan untuk mempunyai pendapatam yang lumayan. Tapi hal itu tak dapat di-<tangkapnya>.

Kita telah ter-<obsesi> dengan kemajuan yang didukung oleh teknologi materis yang makin canggih, tapi yang jauh dari kondisi <spiritual>. Padahal kita itu penganut dari agama-agama Besar, yaitu <Islam> dan <Kristen>. Keleluasan pandangan agamis didasarkan atas uraian yang dimuat didalam <Qur’an> dan <Alkitab>. Tapi kenyataan menyatakan bahwa banyak diantara kita belum dapat memahami benar ketentuan serta keteraturanya yang jelas mirip dan sesuai dengan <Hukum Timbal-Balik Alam>.

Konon terdapat berita bahwa seorang yang ingin merampok, mencuri, menipu (yang jelas melanggar), sebelumnya, bersembahyang dan mohon bantuan Allah supaya dilancarkan niatnya tersebut. Dimanakah letaknya kesadaran <Agamis>?

Dan sesudahnya, bila terjadi suatu musibah diakibatkan tindakan tersebut, karena adanya pantauan dari HTBA, memohon serta mengharap supaya dimaafkan untuk itu, tapi kemudian akan mengulangi perbuatan seperti itu lagi. Padahal pada saat akan berbuat, didalam hati kecilnya ada <suara bathin> yang menyatakan bahwa tindakan itu tidak baik dan akan melanggar apa yang diutarakan didalam Qur’an dan Alkitab, bukan? Tapi tidak mampu untuk melawanya. Dimanakah lalu letaknya unsur <Ke-Imanan> seperti itu???

Bagaimanakah pandangan kita mengenai bentuk jiwa semacam itu? Apakah kesesatan yang terjadi itu, karena orangnya sangat lemah terhadap materi antara lain melalui bentuk apapun didalam unsur <korupsi> atau karena ketidak pengertian akan cara bertindaknya dan menganggap, bahwa Tuhan itu memperbolehkan dan <tutup sebelah mata> yang menyangkut tindakan berupa <penyimpangan> kita, untuk nanti akan diampuni untuk selamanya baik didunia maupun akhirat, para pembaca??? Apakah <Yang Maha Esa> tidak menuntut pertangungan jawab dari seluruh tindakan kita yang <negatif> selama hidup kita? Dapatkah pembaca merasakan <Inti> yang salah dari pernyataan seperti ini?

Dinegara kita ada ketentuan, bahwa bila ingin ikut nimbrung sebagai orang yang memerintah, diharuskan melalui bentuk partai politik. Bahkan harus mencari dana terlebih dahulu, untuk bisa dianggap pantas mendapatkan suatu kedudukan. Siapakah yang membuat peraturan sperti ini, dan dari manakah kita telah belajar berpolitik yang nuansanya selalu dilanda oleh ketidak konsekuenya kita terhadap apa yang menjadi peraturan mainya, dimana didalam politik tidak ada yang dinamakan <kejujuran> dan sifat <sportivitas>.

Menurut penyelidikan seksama, ternyata kita tak dapat dilepaskan dari suatu kebiasaan yang terjadi dan menjadi unsur pwnting pada zaman <penjajahan> selama 350 tahun silam!!! Banyak pamong praja dulu sering kali terkena <suapan> oleh si penjajah, yang tujuanya tidak lain asal mereka aman-aman saja. Kromosom yang ada pada bentuk kimiawi tubuh tetap berkembang dari sumbernya melalui <transmisi genetis> atau perpindahan genetik, bukan?

Bila perlu menyingkirkan mereka yang seakan mengganggu kenyamanan, alias menganiaya bila bisa membahayakan suatu kedudukan, bukan begitu selalu terjadi??? Ingat, peristiwa  Mahathir dengan lawannya Anwar Ibrahim, yang sudah jelas merupakan <konspirasi politik> yang sangat buruk, dan diikuti oleh orang-orang yang menjadi aparat pelaksananya dimana tindakanya melampaui batas <Kemanusiaan>!!! Apakah seperti ini yang harus dituruti serta dianut sepanjang masa??? Pikirkanlah sedalam mungkin melaui MEDITASI, para pembaca. Kita bukan manusia dengan sifat <hewan>, tapi makhluk unggul dan utuh, bukan?

Nimbrung suatu pendapat ada masalahnya, yaitu bila kita tergantung dari <informasi obyektif> saja, tanpa asanya verifikasi dari <informasi subyektif>. Apakah para pembaca dapat <menjamin kebenaran> dari suatu informasi obyektif?

Disinilah kesulitanya bila kita tidak memahami adanya kemungkinan dari kekuatan berpikir yang <baku Positif> yang sumbernya ada pada bagian <Nirsadar> kita yang sudah waktunya harus disadarkan.

Tidakah kita bisa memahami dan belajar dari kesemrawutan yang berada pada kondisi obyektif dibandingkan dengan keteraturanya dari informasi subyektif??? Demikianlah yang diharapkan difahami saat kini. Mengutamakan bidang Spiritual daripada kebalikannya!!!(Ijs)

 

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :