* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Bila kita meninjau susunan urutan kedudukan <takdir> yang berada pada <Jagad Raya>, yang merupakan <tugas> atau <missi> yang dibebankan pada masing-masing manusia, maka kita pada hakekatnya dapat mengatur diri kita sendiri didalam memilih <Kodrat Pribadi> atau kesempatan yang selalu <Positif> karena selalu membangun dan tidak pernah merusak. Pada kenyataanya kita akan mampu mengetahui hal itu dengan telak, karena pen-Ciptaan kita adalah <sempurna>.
Hal ini yang kurang dapat difahami oleh kebanyakan diantara kita dan biasanya selalu ‘menunjuk’ kepada Tuhan, bila ada kejadian yang menjadikan kita tidak sempurna. Kita akan mengatakan bahwa Tuhan sedang memberikan <Cobaan> kepada kita. Padahal bukanlah demikian kenyataanya. Oleh karena kita melaksanakan cetusan pikiran serta tindakan yang sesuai dengan dasar yang tidak sempurna, karena belum memahami, bahwa didalam diri kita telah ter-Cipta-kan unsur-unsur yang memberikan <kesempurnaan> itu, kita akan mencari jalan penjawaban yang sederhana dan tidak tepat.
Hal inilah yang dinamakan memberikan suatu <persepsi> atau tanggapan yang sebenarnya sudah <menyimpang> dari kenyataanya, yang tak dapat dideteksi atau diraba secara <intuitif>. Bukan demikian kenyataanya hingga kini? Kekurangan seperti itulah yang membawakan bentuk dunia seperti pada saat terkini, dan akan tetap seperti itu pula pada masa depan, bila kondisi kemampuan kita tidak di<ubah> dengan telak melalui pengetahuan kebenaran yang menyangkut kesempurnaan didalam diri kita.
Padahal kita semua telah mengetahui, bahwa sifat kejiwaan kita itu, akan memerlukan PENDIDIKAN TELAK yang seimbang dan didominasi oleh kondisi <Positif> yang baku yang berada pada kedalaman kesadaran kita masing-masing, bukan? Masih adakah selama ini pendapat yang berbeda diantara para pembaca???
Menerima sesuatu yang sebenarnya bisa terumbang-ambing karena adanya provokasi yang menyimpang yang menyangkut kondisi persepsi kemampuan manusia yang <Benar>, tapi bukan yang hanya terbatas pada kondisi kesadaran bangun yang kita telah alami sepanjang masa kita hidup!!!
Penemuan ilmu pengetahuan <Psychorientology> sungguh memberikan rangsangan bagi banyak cendekiawan diseluruh dunia yang kini telah terbuka <Alam Pikiran> atau <Mind>-nya untuk ikut menyelediki lebih jauh mengenai fenomena <Bawah Sadar> atau <Nirsadar> kita tersebut.Tendensi kini selalu mengarah kepada kondisi <Spiritual> yang diutarakan didalam buku-buku karangan mereka yang mempunyai gelar <Super atau hyper Intelektual>, tapi yang ternyata juga kekurangan kemampuan didalam membangun <Intelligensia>.
Hal ini sangat diperlukan untuk mendapatkan visi atau pandangan yang LUAS tanpa dibatasi oleh <ruang dan waktu> atau <time and space>. Masihkah ada diantara kita yang mempunyai persepsi atau pendapat yang berbeda dari kondisi kesempurnaan tersebut?
Didalam kata sempurna atau <perfect> dalam bahasa Inggris, terdapat makna yang <Total Positif> dan tak ada sebersit noda yang mengotori makna tersebut. Ingatlah bahwa kita sendiri sering kali ingin mengarah pada sesuatu yang SEMPURNA, tapi apa daya, karena kemampuan kearah itu belum ada <cara> yang setingkat. Hanya bila kondisi nirsadar dan sadar telah dapat di-<satu>kan atau di-<integrasi>-kan, maka kondisi kita akan sangat berbeda dan akan selalu terhindar dari hal-hal yang melanda secara negatif berupa informasi <provokatif>.
Memang melaksanakan <Do’a> untuk di-<buka> pandangan kita kearah yang seperti itu, merupakan salah satu dari usaha yang sudah baik. Tapi dalam banyak kasus tidak selalu berhasil, atau memerlukan waktu yang lama sekali sampai baru terbuka pemahaman itu. Sudah itu, bila tidak terdapat suatu <Pengendalian Telak>, maka hasilnya pun akan tidak sempurna lagi, seperti yang diharapkan.
Menanamkan suatu kekuatan pengendalian memerlukan pelatihan yang seksama serta sistematis, yang hanya dapat diperoleh bila suatu cara dapat diselidiki melalui penyelidikan dengan seksama pula. Yang sudah tentu memerlukan waktu panjang untuk dapat dipergunakan serta disesuaikan untuk setiap skala bentuk atau struktur manusia.
Soal itu tidak akan mudah, bila kita tidak mempunyai jiwa yang bebas dari kemalasan, ketidak percayaan, tidak konsiten serta mempunyai keuletan yang tinggi untuk merubah sifat-sifat yang selalu merugikan diri kita.
Didalam kondisi nyata atau obyektif, juga sangat diperlukan hal-hal yang penulis sebutkan ini, untuk mencapai kedudukan social yang <aduhai>, bukan? Tapi yang kenyataanya tidak dapat membebaskan dirinya dari kondisi frustrasi dan stress. Kelihatan disini mereka yang berada pada tingkatan tersebut, akan memerlukan masuk rumah sakit, karena dilanda oleh bentuk <Sakit> yang memerlukan perawatan ahli-ahli kesehatan.
Hal seperti ini merupakan hasil dari suatu <Keterbatasan> didalam menanggulangi <Proses Pelestarian Kesehatan Tubuh>. Mendapat kondisi sakit bukanlah merupakan <Cobaan Tuhan>, tapi kekurangan manusia untuk mendidik diri sndiri dan mendidikannya pada sesama untuk tidak dilanda oleh <frustrasi dan stres> yang banyak tidak mampu untuk dapat merasakanya.
Pada akhirnya akan mendapatkan pemupukan didalam kondisi kejiwaan yang mengakibatkan bentuk sakit apapun didalam dirinya. Para ahli kesehatan pada hakekatnya sudah mengetahui kondisi seperti itu, tapi akan tergantung dari mereka yang <Sosial> melaksanakan tugansnya dan yang <Kommersial> dengan peraihan materi berkelebihan, atas dasar mereka yang sedang menderita, bukan begitu kenyataanya???
Simaklah kondisi seperti ini dari sesama kita pada bidang apapun yang sedang melaksanakan tugas hidupnya. Dan kita akan mendapatkan informasi yang positif ataupun negatif dari seseorang yang kita jumpai serta memerlukan pertolongannya.(berlanjut/Ijs)
H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America