Sosbud
4-Nov-2008 09:55:40 WIB
MAGIC BRAIN
Kedudukan Takdir yang Ideal Mengikuti Ketentuan Urut Duduk pada Jagad Raya (2)



Yang kurang dibahas mengenai hal Kodrat, Takdir dan Nasib, memang sangat perlu disajikan disini, untuk memberikan penjelasan supaya jangan terjadi kesalah pahaman mengenai hal tersebut. Sebabnya adalah, bahwa suatu persepsi akan dipengaruhi oleh adanya informasi yang terkadang tidak atau kurang tepat, artinya tidak sempurna.

Arti kodrat mempunyai pengertian adanya kesempatan baru yang boleh dikatakan terjadi tanpa diduga semula, yang memberikan kita suatu kesempatan untuk Membangun sesuatu yang baru dan perbaikan yang telah Rusak. Kenyataanya adalah, bahwa kesempatan seperti itu akan selalu mempunyai konotasi Positif, yaitu memberikan perbaikan, penyembuhan dan lain sebagainya.

Ada kodrat yang mempunyai pengaruh pada umum dan pada pribadi. Kesempatan yang menyangkut pembangunan serta kemajuan pribadi akan dapat dirasakan, apakah hal itu sesuai dengan konstruksi  dan Bakat diri atau tidak. Penyesuaian ini akan ada kaitanya dengan adanya urut-duduk takdir atau yang juga dinamakan Hirarkhi yang diatur oleh Alam atau Jagad Raya.

Hal ini pernah dijelaskan didalam beberapa artikel jauh sebelum ini. Pengulangan itu tidak ada masalahnya, karena kebiasaan yang kita terima dan menetap didalam diri, akan selalu melalui suatu cara pendidikan pengulangan, sampai mantap benar dan menjadi suatu Refleks. Hal ini berlaku bagi pendidikan mental maupun fisik, karena yang pertama itu justru harus diutamakan, karena akan mengadakan penetapan serta pemantapan didalam tindakan fisiknya. Mental merupakan Sumber Utama dari apapun yang menyangkut hal Fisik. Ada kemungkinan bahwa hal ini akan terlewat didalam pengetahuan kita selama ini.

Kita ketahui sudah, bahwa suatu urutan kedudukan sangat berarti dalam bentuk pengaturan apapun, baik itu Universal, atau pada skala besar dan luas, maupun pada skala kecil dan terbatas. Tanpa adanya urutan duduk atau hirarkhi itu, maka segala sesuatu akan tidak teratur dan akan memberikan kesan semrawut serta anarkhitis, bertubrukan satu dengan yang lain, dengan tidak diketahui lagi adanya suatu Prioritas. Hal ini akan bisa dibelajarkan kepada anak-anak didalam masa pendidikan terus menerus sampai mencapai pra-dewasa dan kedewasaanya.

Bila suatu hirarkhi tidak dipenuhi, maka sudah dengan Pasti akan ada bentuk Masalah yang ditimbulkan. Bila tak diperbaiki, maka masalah akan menjadi lebih besar dan luas, sehingga pada suatu ketika sudah tidak lagi dapat diselesaikan dengan cara yang layak. Akan terjadi suatu cara pemaksaan dan perusakan, karena intinya sudah demikian sulit dan kusut untuk bisa di-Urai lagi. Lalu, jalan yang bakal ditempuh adalah diadakan perusakan diikuti pembuangan untuk berusaha melihat penyebab intinya, bukan begitu???

Hal ini sering terjadi, misalnya bila suatu perundingan mencari penyelesaian masalah kandas, sehingga terjadi kemacetan didalam menimbulkan cetusan pikiran yang berpengaruh, karena adanya tekanan pikiran yang adalah Stres. Akhirnya terjadi perkelahian, memaksakan pendapat kebenaran, yang belum tentu benar, untuk menentukan siapa yang benar dalam satu persoalan masalah.

Bila kita semua mempunyai pengertian tuntas serta luas akan adanya urut duduk Takdir, maka semua itu tidak bakal bisa terjadi. Bukti-bukti akan adanya kemacetan pencarian penyelesaian masalah banyak. Inipun terjadi karena kebanyakan diantara kita mempunyai Gengsi untuk tidak mau dipersalahkan, padahal memang sudah salah tingkah!!! Pengakuan salah, atau meyimpang dari kondisi Kelurusan kelihatan sulit dibiasakan. Penyebabnya…..sekali lagi….GENGSI…..

Gengsi ini merupakan sifat yang konotasinya selalu merugikan dan mempunyai dasar yang harus diperhatikan dengan seksama, bila ingin tidak menimbulkan banyak kerugian didalam pelaksanaan cetusan pikiran serta tindakanya. Hal ini sangat erat dengan persaingan dan rasa tidak mau kalah atau dikalahkan oleh sesama kita. Lalu bagaimanakah hal itu bisa dikendalikan?
 
Kendalikanlah terutama adanya cetusan pikiran yang bebas dari kondisi tekanan frustrasi dan stress. Karena hal inilah yang memberikan kita suatu bentuk pikiran yang Cerah dan Luas, bahkan bisa saja dipengarahi oleh dominasi cetusan dari pikiran yang terbentuk didalam kondisi Bawah Sadar.  Kondisi seperti inilah yang akan selalu Lewat dari perhatian kita yang hendaknya di-Poles untuk memberikan kita pengawasan serta perawatan tuntas yang menyangkut arus cetusan pikiran.

Kita dapat melihat adanya banyak kesalahan yang terjadi pada mereka yang tidak berada pada urut duduk takdir yang benar. Mereka menduduki kedudukan yang sebenarnya diperuntukan orang lain sesuai Bakatnya. Dan inilah yang merupakan persoalan pelik yang harus dididikan kembali secara mendalam dan tuntas, bila ingin mendudukan mereka pada tempat kedudukan yang sesuai dan Tepat!!!.

Merasakan serta mengetahui suatu Bakat didalam diri masing-masing juga merupakan kekurangan sekali pada pendidikan umum. Tak pernah hal itu dijelaskan dengan seksama. Banyak yang lalu pergi kepada ahli psikhologi yang dengan suatu cara analisa memberikan jalan kelaur.

Ketahuilah, bahwa hanya KITA SENDIRI-lah yang dapat mengetahui serta mengukur batas-batas dari bakat kita masing-masing. Tak ada seorang pun yang bisa dengan tepat mengetahui adanya suatu bakat didalam diri seseorang. Memang kita akan mampu seperti itu, bila Kepekaan Intuitif telah dikembangkan pada tingkatan yang Optimal.

Mereka yang belajar Psikhologi dan tidak tertarik akan penemuan Parapsikhologi dan Psikhorientologi, merupakan individu yang dasarnya hanya Obyektif saja. Dan akhirnya juga akan meminta bantuan orang para-normal alami, tapi yang pada banyak kasus tidak pernah mempunyai ketepatan yang tuntas. Untuk itu, hanya kita pribadilah yang mengetahui seluruh Skala Bentuk kita masing-masing. Hal ini perlulah diperhatikan dengan seksama.(Berlanjut/Ijs)

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :