Sosbud
19-Nov-2008 10:07:28 WIB
MAGIC BRAIN
Kedudukan Takdir yang Ideal Mengikuti Ketentuan Urut Duduk pada Jagat Raya (Tamat)



* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
 
Akhirnya kita akan sampai pada bagian didalam mengatur nasib. Hal ini sangat pribadi dan pada hakekatnya diserahkan secara pribadi pada skala bentuk makhluk manusia masing-masing. Mungkin ada saja pendapat, seakan kita diatur sudah dari atas, yang merupakan persepsi yang tidak pernah tepat. Hal ini seakan menggampangkan sesuatu yang tak dapat dimengerti dan terjawab, tapi seakan sudah mengerti.

Kesadaran bahwa kitalah yang menentukan suatu arah tindakan didalam perjalanan hidup ini, kurang dapat difahami dengan telak. Manusia selalu ingin mencari hal yang mudah, yang tanpa mengeluarkan tenaga untuk melaksanakan sesuatu , baik itu didalam mengolah cetusan pikiran maupun penerusanya pada suatu tindakan, bukan? Kemalasan yang ditanggapi dengan berat ini, memang sejak dini sudah harus diwaspadakan kepada anak didik kita.

Bila tidak demikian, maka mengatur serta menghilangkan kemalasan itu akan sangat sulit adanya. Hilangnya sifat <Malas> pada diri kita akhirnya tidak terjadi secara <spontan> tapi mempunyai konotasi pemaksaan. Ingat selalu, para pembaca, bahwa apapun yang sedang dipaksakan, cepat atau lambat, akan memberikan <Efek> yang tidak diharapkan.

Kita akan sering menunda sesuatu yang dapat dilaksanakan pada saat tertentu. Waktu dengan sendiri akan bertambah panjang dan akan sia-sia belaka atau tidak <produktif> sama sekali, tanpa dapat dirasakan dan diwaspadai. Ini yang dinamakan kondisi tidak <bermakna>. Dapatkah para pembaca merasakan makna daripada kemalasan itu?

Belajarilah anak didik kita untuk selalu didalam kondisi siap siaga menghadapi tugas apapun. Dan hal ini tidak perlu dengan paksaan, seperti kebanyakan orang tua ingin menanamkan disiplin kerpada anak didiknya. Hal disiplin ini erat sekali hubunganya dengan sifat malas tadi. Belum juga dapat menerima pendapat ini? Kedisiplinan menimbulkan gairah yang berhubungan dengan hal <Kesehatan Jasmani>.

Konsisten didalam membagi waktu merupakan sifat berdisiplin pada diri sendiri dan akan memberikan lebih banyak kesempatan keberuntungan daripada tidak. Keberhasilan pun akan selalu di-<Support> atau didukung oleh pengendalian kemalasan dan disiplin. Dan hal seperti ini merupakan sesuatu yang tergantung dari <Kita Sendiri>, bukan? Bila kedua unsur mutlak itu tidak dapat diawasi dan disadari, maka kita akan terbuka untuk menimbulkan <Masalah>!  Macam ragamnya sangat luas, tapi konotasinya selalu <Negatif>!

Menjadikan hal disiplin itu suatu <Reflex> pada diri kita, akan sangat efektif dan banyak yang akan mendukung didalam menentukan <Nasib>! Silva menyatakan, bila kita terbangun pada tengah malam, janganlah tidur kembali, karena hal itu tanda suatu <Ke-Malasan>. Laksanakan tindakan apapun untuk melatih diri kita dalam <produktifitas>, misalnya dengan menyelesaikan hal yang masih diperlukan, membaca buku yang berguna untuk menambah wawasan persepsi dan lain sebagainya.

Hal ini akan menimbulkan yang dinamakan <Self Disiplin>. Susah melakukanya? Itu lagi tergantung dari diri kita masing-masing, dan bila tidak dimulai dari diri sendiri, siapakah yang akan mendidik kita untuk menghilangkan kemalasan dan disiplin tersebut? Individu-individu seperti itu, yang mempunyai disiplin dan tidak pernah malas , merupakan orang-orang yang mudah mengatur nasibnya kearah yang terbuka dengan luas. Mereka merupakan orang yang jauh lebih <Sehat>, terampil dalam bidang masing-masing, mempuyai kewaspadaan atau <alertness> yang telah dibiasakan, sungguhpun belum belajar menggali potensi bawah sadarnya. Bila hal itu dapat terlaksana dalam penyempurnaan, maka kesempurnaan bertindak yang dimulai dari mengatur cetusan pikiranya, akan menjadi sesuatu <Kebiasaan> tuntas dan dengan sendirinya <Kepekaan Intuitif> akan ikut terkembangkan.

Seperti pernah diuraikan dahulu, <Realita> merupakan ciptaan kita sendiri dan tidak akan tergantung dari ikut campurnya Tuhan. Karena Beliau telah memberikan kita kesempurnaan, yang mana seni caranya telah ditunjukan kepada Ciptaan-NYA yang dipilih, maka kita tinggal mengkuti penemuan yang terjadi itu dengan telak, tanpa ragu-ragu, tanpa kemalasan, berdisiplin, dengan kesabaran dan keuletan serta konsisten mengikuti ketentuan dan keteraturanya.

Hal ini yang kini tersedia bagi kita semua, tergantung dari sifat-sifat kita yang bisa menghalangi suatu <Niat> untuk melaksanakan suatu <Perubahan> pada diri sendiri. Keterampilan itu akan bisa dipengaruhkan kepada sesama, lingkungan, bahkan kepada atasan yang tidak mempunyai disiplin yang positif. Demikianlah suatu kenyataan yang hendaknya kita berikan perhatian untuk menciptakan suasana dengan konotasi selalu positif dan berdisiplin.

Di Negara kecil Singapura, pada mulanya tidak ada disiplin sama sekali. Penulis pernah kesana pada tahun 1959 Tapi berkat kegigihan Mr. <Lee Kuan Yu> yang kini masih saja menjadi tokoh konsultasi didalam pemerintahanya beliau tanamkan disiplin bagi rakyatnya dengan cara-cara yang unik yang boleh kita tiru. Kini Singapura menjadi Negara yang penuh dengan sifat disiplin yang mampu memeihara ketentuan hukum dan keteraturanya. Sekalipun disana sini masih ada hal-hal yang perlu disempurnakan lagi.(Ijs)

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

 

Nama:
Email:

More MAGIC BRAIN:
[ more Magic Brain ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :