
indosiar.com, Kairo - Kebanyakan negeri Arab dikenal memiliki sifat yang konservatif terutama yang menyangkut hubungan antara pria dan wanita, karena itu kehadiran Heba Kotb memancing cukup banyak kontroversi.
Dikenal sebagai wanita Muslim yang taat dan konservatif, ia menjadi pusat perhatian berkat acara Big Talk yang ditayangkan seminggu sekali dimana Kotb membahas dan menjawab banyak pertanyaan seputar masalah yang masih sangat sensitif disana : seks.
"Bagaimana aku berbicara tentang subyek sensitif ini? Tentu saja dengan sangat serius, aku serasa memakai topeng di wajah dan harus memastikan nada bicaraku benar," jawab wanita kelahiran 1967 tersebut dengan wajah serius.
Kotb yang telah menikah dan memiliki tiga orang putri mempelajari seksologi di Meimonides University (Florida) dan mengkombinasikan apa yang didapatnya dengan pengetahuan tentang Islam untuk menghasilkan desertasi berjudul Seksualitas dalam Islam.
Di Kairo, ia membuka klinik seksologi pada tahun 2002, menulis kolom di sejumlah surat kabar, tampil di acara televisi, dan menjawab pertanyaan yang diajukan di sebuah situs berbahasa Arab. Acara Big Talk sendiri dimulai sekitar bulan September 2006 silam di saluran satelit Mesir El-Mehwar.
Yang menarik, Kotb membicarakan masalah seksualitas dalam konteks Islam. "Aku sangat bangga dengan agama Islam. Pelajaran yang kudapat selama ini membuka pikiran dan keyakinanku betapa Islam sebenarnya berada jauh didepan untuk masalah seksual.....aku menemukan bahwa Islam telah mengerti tentang hal satu ini jauh sebelum seluruh dunia."
Kebanyakan dari saran yang disampaikannya menggunakan sejumlah pengetahuan berbau biologi, bahkan ia dengan berani mendiskusikan berbagai hal yang dianggap tabu mulai dari posisi saat berhubungan intim hingga orgasme. Meski begitu, Kotb menarik garis pembatas tegas dalam urusan homoseksual, yang disebutnya sebagai suatu penyakit.
Sudah tentu tidak sedikit protes yang dilayangkan atas keberanian Kotb tersebut dengan alasan terlalu vulgar, namun wanita yang sehari-harinya mengenakan jilbab tersebut mengaku bahwa kejujuran adalah hal penting dan meyakini sekitar 80 persen perceraian yang terjadi di dunia Arab disebabkan oleh masalah seksual akibat ketidaktahuan dan stigma sosial.
"Banyak wanita yang tidak tahu apa-apa tentang tubuh mereka, apalagi masalah seks, ditambah pandangan bahwa kebanyakan wanita di Arab diajarkan bahwa seks adalah untuk pria dan merupakan hal yang kotor."(AP/nadiaabouel-magd/mdL)