jeruk bali
Sosbud
10-Jan-2007 11:24:39 WIB
NEWS ON TV EXTRA
Hidup di Sekitar Narkoba



Peliput : Iwan Munandar - Rudi Asmoro
Tayang: Senin, 08 Januari 2007, Pukul 23.30 WIB
Lokasi : Jakarta

indosiar.com, Jakarta - Mudah-mudahan tahun yang baru ini membawa kebahagiaan dan kemajuan berarti bagi kita semua. Berkaitan dengan pergantian tahun, tentu banyak cara untuk melewatkannya. Yang paling umum, adalah dengan menggelar pesta. Sayangnya, banyak pula anak muda yang berpesta pora di bawah pengaruh narkoba.

Saat ini tepat sepekan tahun 2006 berlalu dan memasuki tahun baru, 2007. Di banyak tempat, masa pergantian tahun dimeriahkan dengan berbagai cara. Antara lain berupa pesta, baik dalam kelompok kecil, maupun secara massal.

Bagi sebagian orang, pergantian waktu terasa perlu dimeriahkan, karena dianggap sebagai perlambang untuk menimbulkan semangat dalam meraih harapan di masa yang akan tiba.Ironisnya, di balik kemeriahan pesta pergantian tahun yang sejatinyauntuk menanggalkan hal-hal buruk di tahun lalu, justru kerap diwarnai dengan luapan yang berlebihan.

Tak sedikit yang mewarnai masa pergantian tahun dengan minuman keras hingga narkotika, ataupun zat adiktif lainnya. Tak terlintas lagi dampak buruk akibat mengkonsumsi narkoba.

Pesta yang berbaur dengan narkoba, juga identik dengan perilaku menyimpang lainnya, seperti seks bebas, maupun tindak kekerasan. Selain itu, tahun 2006 juga meninggalkan data buruk tentang penggunaan narkoba. Polda Metro Jaya saja, mencatat peningkatan angka kasus narkoba hingga 50 persen dibanding tahun 2005 lalu.

Kasus kriminal yang terkait dengan narkoba mencapai lebih dari 6 ribu 6 ratus kasus. Masih dari catatan kepolisian, tahun 2006 lalu saja, lebih dari 22 ribu orang ditangkap dalam berbagai operasi, termasuk 46 warga negara asing,karena diduga terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional. Angka yang cukup tinggi bukan?? belum lagi masih banyak kasus narkoba yang belum terungkap.

Segmen 2

Narkoba tidak henti-henti menghantui, khususnya bagi generasi muda. Memang, sepanjang narkoba menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi sekelompok orang, sulit untuk benar-benar menghapusnya dari peredaran. Ujung tombaknya tentu diri kita masing-masing. Bisakah berkata tidak untuk narkoba??

Pusat produsen narkoba di Asia Tengah, tergolong tidak terlampau jauh dari Indonesia. Ditambah lagi, jumlah penduduk lebih dari 215 juta jiwa, yang 40 persennya kaum muda, menjadikan Indonesia pangsa pasar yang relatif empuk bagi perdagangan narkotika, serta zat adiktif lainnya.

Banyaknya titik masuk ke kawasan Indonesia ditunjang tidak konsistennya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan yang berhubungan dengan narkoba, turut menempatkan Indonesia sebagai bagian dari peredaran narkoba internasional.

Di Indonesia, penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif makin meningkat tajam ketika memasuki tahun 2000. Sejak itu, shabu-shabu dan putau, sedikit dari sekian banyak jenis psikotropika, makin populer di kalangan pecandu, atau juga disebut junkies (baca : jangkis).
Padahal, pengaruh narkoba hingga seseorang menjadi pecandu, bukanlah cerita manis. Untuk berhenti dari pengaruh narkoba pun bukan perkara mudah. Barang haram itu terus merasuk ke saraf hingga merubah jalan hidup seseorang.

Beragam alasan yang mendorong seseorang untuk menggunakan narkoba. Yang pasti, rasa penasaran ingin mencoba kenikmatan semu yang ditimbulkan narkoba, menjadi faktor pendorong yang dominan.

Banyak pengguna narkoba menuding keluarga yang bermasalah-lah yang menjadi penyebab mereka tenggelam dalam jeratan narkoba. Mantan pengguna sendiri mengakui, menggunakan narkoba sebetulnya karena keinginan sendiri, kendati awalnya dipengaruhi oleh teman-teman sepergaulan.

Luasnya jaringan peredaran narkoba membuat benda ini tidak sulit didapatkan, terlebih di Kota Metropolitan seperti Jakarta. Persaingan antara sesama penjual narkoba, membuat para pengedar semakin nekat menjajakan dagangannya.

Banyaknya kaum muda yang terjerumus narkoba, membuat kalangan orang tua bergidik dan khawatir. Apalagi para mantan pecandu tidak mudah diterima di lingkungan masyarakat umum. Sehingga, peluang mereka kembali ke dalam jerat narkoba akan lebih besar lagi.

segmen 3

Memulihkan kembali kehidupan agar bersih dari jerat narkoba, bukan perkara mudah. Selain dukungan orang-orang terdekat, yang paling penting adalah keinginan pribadi untuk melepaskan diri dari pengaruh narkoba.

Kenikmatan mengkonsumsi narkoba, sesungguhnya kenikmatan semu. Ilusi atau bermacam kesenangan yang semula menjadi impian para pengguna di tahap awal, pupus ketika rasa jenuh mulai menjangkiti.

Belum lagi ancaman penyakit mematikan yang kerap menyerang para pengguna narkoba, seperti penyakit hepatitis, paru-paru, over dosis hingga HIV/AIDS. Ironisnya, kendati telah muncul keinginan untuk berhenti menggunakan narkoba atau zat adiktif lainnya, tak banyak yang tahu mereka harus kemana.

Badan Narkotika Nasional menyatakan, para pengguna narkoba yang ingin lepas dari jerat narkoba, dapat melaporkan diri kepada BNN, atau pihak kepolisian setempat Selanjutnya, pengguna narkoba akan menjalani rehabilitasi, serta tidak akan menjalani proses hukum.

Panti Sosial Galih Pakuan di kawasan Bogor, Jawa Barat merupakan salah satu tempat rehabilitasi narkoba yang disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah. Di tempat ini, para pengguna menjalani serangkaian tahap rehabilitasi untuk membersihkan fisik maupun mental mereka dari narkoba.

Ya, sebagian besar pengguna narkoba tidak memiliki rasa percaya, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Ini merupakan sebagian dari dampak buruk yang ditimbulkan setelah zat-zat yang terkandung dalam narkoba menyerang syaraf-syaraf. Yang lebih parah, bagi pecandu yang telah kronis, mereka tak mampu berpikir secara sehat.

Di tempat rehabilitasi, para pengguna dilatih secara bertahap untuk menjalani rutinitas tanpa menggunakan narkoba. Mulai dari saling berbagi permasalahan, belajar untuk berdisiplin, hingga olah batin yang dimanifestasikan lewat bimbingan rohani.

Aktivitas olahraga juga menjadi salah satu bagian yang tidak dilewatkan untuk membantu pengguna memanfaatkan waktu tanpa sempat berfikir menggunakan narkoba kembali. Jerat narkoba memang sulit untuk dilepaskan.Kendati demikian, upaya rehabilitasi yang dijalani secara maksimal, diharapkan bisa mengatasi tingkat ketergantungan terhadap narkoba. Narkoba memang patut dijauhi. Agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran setan narkoba, adalah dengan tidak pernah mencobanya sama sekali. (Suprie/Idh)


Nama:
Email:

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :